Mengenal Dunia Investasi

Aku mengenal dunia investasi setelah sebelumnya diperkenalkan dengan asuransi. Yang mengenalkanku adalah seorang agen dari perusahaan asuransi berlogo wajah seorang dewi. Sebelumnya telah dua kali aku ditawari asuransi oleh agen lain dari perusahaan yang sama, namun agen ketiga ini beruntung. Dia datang di saat yang tepat, setelah aku punya istri dan sebentar lagi punya anak.

Produk asuransi yang dia tawarkan, baru kemudian kutahu setelah searching internet, adalah unit link. Unit link adalah asuransi yang digabungkan dengan investasi. Ini produk asuransi yang paling populer dekade ini di Indonesia. Asuransi pada unit link berbentuk YRT (yearly renewable term, asuransi jiwa tahunan bergaransi perpanjangan) dengan masa pertanggungan hingga seumur hidup, sedangkan investasinya disalurkan lewat saham (equity fund), campuran saham-obligasi (balanced fund), dan campuran obligasi-deposito (fix income fund).

Dari asuransi unit link, aku kemudian kenal dengan reksadana. Reksadana secara harfiah berarti “dana bersama” atau “dana kumpulan”, dalam bahasa Inggris disebut “mutual fund”. Secara istilah reksadana adalah kumpulan dana dari masyarakat yang dikelola oleh manajer investasi untuk disalurkan ke dalam instrumen-instrumen investasi yang sesuai dengan jenis dan tujuan reksadana tsb. Model penyaluran dana pada unit link seperti disebut di atas adalah mirip atau bahkan sama dengan reksadana, di mana dalam reksadana pun ada dana yang diinvestasikan di saham (reksadana saham atau equity fund), campuran saham-obligasi (reksadana campuran atau balanced fund), dan campuran obligasi-deposito (reksadana pendapatan tetap atau fix income fund).

Aku pun mulai belajar seluk-beluk reksadana lewat beberapa situs di internet. Di antaranya yang pernah kuikuti adalah http://www.portalreksadana.com. Banyak tulisan menyarankan agar asuransi dipisahkan dengan investasi. Asuransi ambillah yang berjangka; lebih murah dengan uang pertanggungan besar, tapi hangus. Investasi ambillah reksadana, biaya juga lebih murah dengan hasil yang kurang-lebih sama dengan investasi unit link, bahkan bisa lebih maksimal karena pengelolanya fokus pada investasi.

Aku pun jadi ragu dengan unit link-ku. Apalagi setelah dibanding-bandingkan, baik dari segi proteksi maupun investasi, unit link tsb kalah dari termlife+reksadana. Tapi kemudian, setelah menyurvai beberapa produk unit link, aku menemukan sebuah produk yang memberikan manfaat proteksi hingga tiga kali lipat dari unit link yang sudah kuambil itu. Wah, ini sih boleh juga, pikirku, mungkin tidak akan kalah dengan termlife+reksadana. Aku pun mempelajari ilustrasi produk tersebut, lalu memutuskan untuk mengambilnya. Unit link yang lama kubiarkan saja lapse (sudah bayar 3 bulan kali 500 ribu), dan pada bulan keempat aku meneruskan pembayaranku di unit link yang baru itu. Tak lama setelah itu, aku pun memutuskan jadi agen asuransi.

Dari situ perkenalanku dengan dunia investasi semakin akrab. Aku pun menyurvai beberapa produk reksadana lewat internet, bahkan menyempatkan diri datang ke kantor Danareksa dan Commonwealth Bank (tempat jualan sejumlah produk reksadana). Bagi orang yang baru belajar investasi, reksadana adalah tempat memulai yang tepat. Apalagi jika tidak cukup waktu untuk belajar investasi lebih lanjut.

Tapi aku bukan orang yang sibuk-sibuk amat. Aku punya cukup waktu untuk belajar lebih lanjut. Dan setelah mengenal saham, terasalah bahwa reksadana tidaklah memuaskan dari segi retur. Di reksadana, kita menyerahkan uang ke manajer investasi lalu diam (terserah mau diam menunggu atau sambil mengerjakan hal lain). Tapi di saham, kita sendirilah yang aktif mengelola portfolio kita; beli atau jual kapan pun terserah kita, keuntungannya bisa berlipat dari reksadana, walaupun memang risikonya juga lebih besar.

Di reksadana, retur rata-rata 20-an persen per tahun itu lazim. Tapi di saham, setelah aku mengalaminya sebulan ini (akhir Desember 2011 – akhir Januari 2012), aku yakin bisa memperoleh retur setidaknya 8% dalam sebulan. Dalam setahun, aku menargetkan modalku sudah naik dua kali lipat.

Tapi untuk bisa seperti itu diperlukan waktu yang luang, setidaknya satu jam sehari. Dan untungnya aku sekarang dikaruniai waktu yang luang setiap harinya. Jadi kenapa tidak kumanfaatkan?

O ya, hampir lupa, saham adalah pertanda kepemilikan kita atas suatu perusahaan. Berinvestasi di saham pada prinsipnya sama dengan kita ikut membantu memodali sebuah usaha yang dijalankan oleh kawan kita. Sebagai pemodal, kita ikut memiliki usaha kawan kita tersebut. Jika usahanya untung, kita mendapat bagi hasil. Jika usahanya rugi, kita pun ikut rugi. Tapi bedanya dengan saham, ada jalan keuntungan lain yang bisa diperoleh selain melalui bagi hasil (dividen), yaitu capital gain. Capital gain adalah keuntungan dalam bentuk kenaikan harga saham. Seperti halnya dividen yang bisa rugi, capital gain pun bisa tidak gain alias loss. Itulah risiko investasi saham.

Ada beberapa blog atau situs yang menjadi tempatku belajar saham. Selain yang dikeluarkan oleh lembaga/perusahaan seperti Infovesta, Yahoo!finance, atau Bursa Efek Indonesia, ada beberapa blog yang dikelola investor independen. Di antara mereka, ada yang rajin mengeluarkan ulasan mengenai saham. Dari merekalah aku banyak belajar. Yang paling rajin menulis dan kuikuti ulasannya adalah Teguh Hidayat di http://teguhidx.blogspot.com dan Bola Salju di http://bolasalju.com.

Sekarang aktivitasku sehari-hari adalah membaca pergerakan harga saham lewat mesin Indo Premier Online Trading (IPOT), menawarkan produk asuransi ke orang-orang baik kukenal maupun tidak, dan mengedit buku (ini pekerjaanku yang lama). []

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Investasi dan tag , , , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Mengenal Dunia Investasi

  1. vespaungu berkata:

    ya, asuransi kesehatan atau asuransi lainnya saat ini digadang-gadang dengan investasi, karena sepertinya (pendapat pribadi saya), masyarakat kita lebih tergiur dengan nilai investasi ketimbang nilai asuransi-nya sendiri. sementara itu, misalnya asuransi kesehatan yang dipadukan dengan investasi, nilainya tidak optimal untuk bagian kesehatannya. walau dari tren ini ada baiknya juga, setidaknya menunjukkan masih ada masyarakat yang suka menabung untuk masa depan dalam bentuk investasi.

    @Betul Pak. Terima kasih komentarnya.

    Suka

  2. Rahayu Rosgiyanti berkata:

    hmmm… apakah benar berarti bermain disaham sama dengan istilahnya menabung di bank syariah, bukannya bila di bank syariah memperoleh keuntungan (capital gain) maka nasabah juga mendapat bagi hasil yg besar, sebaliknya jika rugi juga sama dg nasabah? ini menurut saya lhoo….

    @Menurut saya beda sekali antara bermain saham dg menabung di bank syariah. Bagi hasil menabung di bank syariah tidaklah besar. Dan saya belum pernah dengar menabung di bank syariah bisa rugi 🙂

    Salam,
    Asep S

    Suka

  3. Rahayu Rosgiyanti berkata:

    ada lagi investasi forex, apa anda sudah pernah mencoba ? keuntungan lbh besar dari saham lho dan high risk..
    sepertinya hrs ditambah mengenai artikel investasi / trading forex

    @Forex bukan investasi, tapi trading. Investasi itu jangka waktu lama dan cenderung minim intervensi. Trading itu jangka waktu pendek atau sangat pendek (harian/mingguan) dan ada intervensi terus-menerus, seperti halnya orang jualan barang di pasar.

    Demikian.

    Salam,
    Asep S

    Suka

  4. rezuzovka berkata:

    halo pak asep, saya mta ilustrasi yg hanya khusus mengoptimalkan di investasi saja apa yaa?? dan bisakah withdrawl setelah 3tahun n kena biaya dll ga? untuk preminya 15juta dan top up berkala 5juta/tahun. email saya dhani_tebeb@yaho.com
    trims

    @Salam, Bu Rez, nama produknya Allisya Maxi Fund Plus, unit link dg premi tunggal, dan bisa ditop up kapan saja. Saya tidak pernah tawarkan produk ini karena manfaat asuransinya minim (hanya UP jiwa saja, itu pun kecil). Penarikan setelah 3 tahun tidak kena pajak, sebelum 3 tahun kena pajak. Biaya lainnya tidak ada. Jika mau diambil tiap tahun, bisa juga. Tapi kembali ke tujuannya apa.

    Diskusi selanjutnya lewat email.

    Salam,
    Asep S

    Suka

  5. rezuzovka berkata:

    atau bagaimana caranya yg bisa cair setahun sekali?? hmm.. mohon solusinya pak, kita diskusikan di email
    trims

    Suka

  6. rezuzovka berkata:

    sekali lagi terima kasih pak asep untuk blognya sangat bermanfaat sekali, sebelumnya tak pernah terlintas pikiran saya dan dlunya bener2 buta ttg perbedaan investasi di saham / reksadana dan trading saham maupun forex, stlh membaca blog bpk saya jadi tertarik dan penasaran ttg bermain saham apalg bpk sbg manajer investasinya / fund manager, kebetulan saat ini saya baru saja bermain di forex trading (akun demo hehehe… yah susah2 gampang tpi profitnya udah besar bo’…)
    pertanyaannya saya hya bingung untuk perbedaan investasi saham dengan trading saham? jika ingin invest saham kemana n trading saham jg kemana? harus teregulasi di bapepam lah di bapepti lah.. saya jadi semakin bingung…
    trus adalagi disebut investasi reksadana berbasis saham? tolong jelaskan secara rinci ya pak hehe
    trima kasih…

    @Terima kasih pertanyaannya, tapi mohon maaf kalau jawabannya tidak rinci.
    – Investasi saham maupun trading saham hanya bisa dilakukan dg menjadi member di perusahaan pialang (broker) saham semacam Indo Premier, E-Trading Securities, Samuel Sekuritas, Danareksa, MNC Sekuritas, dll. Semua sudah terdaftar di Bapepam.
    – Reksadana berbasis saham berarti reksadana saham (equity fund), yaitu reksadana yg sebagian besar dananya diinvestasikan di saham.

    Demikian.

    Salam,
    Asep S

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s