Beberapa Catatan tentang Asuransi Jiwa

Seseorang berdiskusi dengan saya tentang asuransi melalui email. Dia berencana mengambil term life (dari perusahaan lain) berjangka 5 tahunan dan bisa diperpanjang. Manfaat yang diperoleh proteksi jiwa dan pembebasan premi jika terkena sakit kritis/cacat total. Dia tidak mengambil rider proteksi kecelakaan (ADD; Accident Death and Disability) dan penyakit kritis (CI; Critical Illness), dengan alasan akan berusaha menjaga kesehatan.

Saya sangat apresiatif dengan pilihannya. Saking apresiatifnya, saya menyempatkan diri menulis catatan ini.

Pertama, mengambil fitur bebas premi (waiver of premium) tapi tidak memproteksi diri dari penyebab bebas premi menunjukkan cara berpikir yang ganjil. Penyebab bebas premi dalam asuransi tsb adalah sakit kritis dan atau cacat total. Dengan ditambahkannya rider tsb, artinya yang bersangkutan menyadari bahwa kejadian sakit kritis atau cacat total mungkin terjadi pada dirinya. Namun anehnya, dia tidak melanjutkan kesadaran itu dengan memproteksi diri dari risiko-risiko yang mungkin tsb.

Saya sendiri, sebagai agen asuransi, menempatkan rider bebas premi (di Tapro Allisya namanya payor benefit) pada prioritas terakhir setelah rider-rider lainnya diambil oleh nasabah. Minimal peserta telah mengambil rider yang menjadi penyebab dimungkinkannya klaim payor benefit.

Kedua, mengambil fitur bebas premi pada term life dengan jangka waktu pendek (5 tahun) tidaklah begitu bermanfaat. Seandainya fitur ini terpakai (nasabah terkena sakit kritis/cacat total), maka pembebasan premi yang bisa dinikmatinya paling lama hanyalah kurang dari 5 tahun. Jika dia terkena sakit kritis/cacat total selewat tahun keempat, bisa jadi bebas preminya hanya beberapa bulan saja. Bebas premi dapat dipertimbangkan jika masa kontraknya panjang (20 tahun atau lebih).

Ketiga, risiko ADD (kecelakaan) tidak bisa dicegah dengan cara apa pun. Kita berhati-hati, orang lain yang ceroboh. Berkendara bisa celaka, jalan kaki pun bisa. Di jalan banyak kejadian, di rumah pun mungkin. Peristiwa kecelakaan maut di Tugu Tani seyogianya mengingatkan kita betapa rentannya diri manusia.

“Saya akan rajin berdoa supaya selalu diberi keselamatan.”

Ya, berdoa itu wajib. Tapi lihat siapa dirimu. Apakah engkau seorang wali atau santo yang bersih dari dosa-dosa, sehingga doa-doamu senantiasa diijabah Tuhan? Jika bukan, doa saja tidak cukup. Dan dalam banyak hal lain, seringkali doa saja memang tidak memadai. Doa harus dibarengi dengan usaha yang sesuai.

Untuk orang muda usia (di bawah 40 tahun), penyebab paling mungkin dia meninggal adalah kecelakaan. Oleh karena itu, menurut saya, daripada menghabiskan anggaran untuk membesarkan UP jiwa, lebih baik anggaran itu dipecah dua, sebagian untuk meninggal karena berbagai sebab dan sebagian untuk meninggal (plus cacat) akibat kecelakaan. Biaya asuransi jiwa (premi dasar) lebih tinggi daripada biaya asuransi kecelakaan (premi rider ADD). Dengan demikian, dikombinasikannya dua manfaat ini akan mempermurah premi asuransi yang harus dibayar.

Keempat, tidak mengambil proteksi penyakit kritis berarti yakin tidak akan terkena penyakit kritis. Bagus, keyakinan itu perlu. Tapi cobalah sesekali tanya orang yang sekarang terkena stroke, apakah dulu, waktu masih muda, dia pernah menyangka akan terkena stroke?

Ya, penyakit kritis bisa kita cegah, tapi sebaik apa pun usaha kita, di zaman sekarang ini peluang keberhasilannya tidak akan 100 persen. Kita menerapkan gaya hidup sehat, tapi lingkungan kita belum tentu mendukung. Setiap hari kita makan beraneka ragam hidangan dengan kandungan yang bermacam-macam, bergaul dengan teman-teman yang merokok, menghirup polusi udara, terjebak stres di perjalanan, terpapar sinar ultraviolet dari matahari, dan sebagainya. Semua itu terakumulasi sedikit demi sedikit dalam tubuh kita, dan masing-masing menyumbang peran bagi menurunnya tingkat kesehatan kita. Bisa jadi ujungnya adalah penyakit kritis yang kita tidak sangka-sangka itu. Bisa jadi juga tidak. Tapi yang jelas, hal itu tidak mustahil.

“Saya sudah punya askes dari kantor.”

Oke. Tapi askes ada limitnya, dan askes yang bagus preminya mahal. Askes berguna untuk penyakit umum (batuk, pilek, tifus, DBD) tapi tak akan berdaya untuk penyakit khusus (stroke, jantung, kanker, hepatitis, tumor otak [walaupun] jinak, parkinson, meningitis). Kabar baik tentang proteksi penyakit kritis, preminya jauh lebih murah daripada premi askes.

Di bawah ini saya mendaftar sejumlah pertanyaan yang perlu dijawab sebelum memutuskan tidak mengambil proteksi penyakit kritis:

  1. Apakah anda tidak merokok, minum minuman beralkohol, dan semacamnya?
  2. Apakah teman-teman/pergaulan anda sehat?
  3. Apakah tempat tinggal anda sehat?
  4. Apakah orang-orang di rumah anda menerapkan gaya hidup sehat?
  5. Apakah orang-orang yang termasuk kerabat sedarah, yaitu orangtua, kakek-nenek, paman-bibi, dan saudara kandung, tidak ada yang terkena penyakit kritis?
  6. Apakah tempat kerja anda sehat?
  7. Apakah pekerjaan anda memungkinkan tubuh anda relatif bergerak sehingga otot-otot anda mendapat cukup ruang dan waktu untuk bergeliat?
  8. Apakah setiap harinya anda terhindar dari polusi udara dan kemacetan di perjalanan?
  9. Apakah anda jarang stres, baik karena masalah pekerjaan, rumah tangga, pergaulan, ataupun kemacetan?
  10. Apakah setiap harinya anda tidak mengonsumsi makanan yang mengandung bahan-bahan kimia seperti 4P (penyedap, pewarna, pengawet, pestisida)?
  11. Apakah cara makan anda tidak berlebihan, yang bisa berakibat pada menumpuknya kadar gula darah, kolesterol, ataupun asam urat?
  12. Apakah anda selalu makan masakan rumah bikinan sendiri, dan tidak pernah atau jarang sekali makan dan jajan di luar?
  13. Apakah anda suka berolahraga dan rutin melakukannya?
  14. Apakah anda rutin memeriksakan kesehatan anda (general check up)?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut jawabannya “ya”, maka okelah jika anda tidak mengambil proteksi penyakit kritis. Tapi jika beberapa di antaranya anda jawab “tidak”, sebaiknya anda waspada. Tetap berdoa semoga jantung dan darah anda baik-baik saja sampai tua. Tetap menjaga kesehatan dengan cara apa pun yang anda bisa. Pada saat yang sama, siapkan sejumlah dana (boleh kumpulkan sendiri atau lewat asuransi) untuk membayar dokter kalau-kalau kelak sakit kritis menimpa.

Demikian. []

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Jiwa dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s