Laporan dan Evaluasi Bermen Dana Saham (Maret 2012)

Tentang Nama

Bermen Dana Saham adalah nama yang saya berikan untuk “reksadana” pribadi saya alias investasi saya di saham. Kalau diinggriskan kira-kira berbunyi Bermen Equity Fund. Karena sementara ini saya hanya bermain di saham-saham syariah, boleh juga ditambahkan “Bermen Dana Saham Syariah”, atau “Bermen Syariah Equity Fund”. Tapi saya takut label syariah akan membebani saya, atau saya tidak berperilaku sesuai syariah, maka biarlah label syariahnya tidak usah disertakan.

Kenapa namanya Bermen? Apa itu Bermen?

Dulu sekitar tahun 2005, saya dan beberapa kawan di Ciputat pernah membuat sebuah forum diskusi bernama Bermen School. Bermen itu singkatan dari “berpikir” dan “menulis”. Tapi ini singkatan yang sangat fleksibel dan bisa semau gue. Terserah ber-nya mau dipanjangin jadi apa, dan men-nya juga mau jadi apa.

Sekarang saya pakai nama bermen untuk investasi saham. Saya suka bunyinya, kedengarannya seperti “bermain”. Bermain saham. Bermain dan menganalisis. Hehehe.

Tujuan Investasi

Meraih hasil maksimal dalam jangka pendek maupun panjang.

Strategi Investasi

–          Menginvestasikan dana dalam saham-saham berkategori kecil-tumbuh dan murah-prospektif yang terdaftar dalam Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

–          Mengombinasikan metode beli-dan-tahan (buy-and-hold) dan jual-beli harian (day trading).

Informasi Umum

–          Tanggal peluncuran: 2 Januari 2012

–          Dana kelolaan (modal): Rp 5.950.500,-

–          Harga per unit: Rp 1.319,4160

–          Jumlah unit: 5.195,4358

Kinerja Investasi

Sejak peluncuran: 31,94%

Bulan tertinggi: Maret 2012 (16,4%)

Bulan terendah: Februari 2012 (2,56%)

Keterangan:

BDS=Bermen Dana Saham

ISSI= Indeks Saham Syariah Indonesia

JII=Jakarta Islamic Index

IHSG=Indeks Harga Saham Gabungan

Portofolio

 

Evaluasi

Secara umum, saya merasa telah lebih baik bulan ini dibanding sebelumnya. Pengetahuan, strategi, kesabaran, maupun mental saya telah meningkat. Tapi lebih baik bukan berarti telah baik; bagaimana pun masih banyak yang harus saya pelajari. Retur relatif tinggi (16%) yang saya hasilkan bulan ini, sebagian juga ditopang oleh meningkatnya dana kelolaan, dari tadinya 2,4 juta menjadi 5,95 juta.

Ya, di bulan Maret ini Bermen Dana Saham mendapatkan dua investor baru. Yang pertama istri saya, yang kedua tidak usah saya sebutkan identitasnya. Selain itu, saya juga menambah sedikit modal.

Retur yang lumayan tinggi juga dibantu oleh fakta bahwa modal saya, walaupun meningkat dua kali lipat, masih tergolong kecil bahkan mikro. Ya, modal kecil memungkinkan profil risiko menjadi agresif. Kalaupun kalah, kerugian saya hanya sebanyak modal yang kecil itu. Modal kecil juga memungkinkan volatilitas (fluktuasi) lebih tinggi sehingga kemungkinan untung bisa lebih besar. Saya kira itu penjelasan kenapa returnya tergolong lumayan, jauh di atas indeks. Tapi mengalahkan indeks bukan tujuan saya. Tujuan saya adalah menghasilkan retur setinggi-tingginya.

Saya merasa tak perlu malu mengungkapkan jumlah modal saya, karena acaranya belajar. Sekalian saya pun ingin menunjukkan kepada siapa saja bahwa investasi saham tidak perlu modal besar. Sekali lagi terima kasih kepada broker saya, Indo Premier Securities, yang mengizinkan saya menyetor deposit di bawah 2 juta.

Selengkapnya evaluasi Bermen Dana Saham saya catat dalam poin-poin berikut:

Pertama, ada beberapa kesalahan yang saya lakukan.

  1. Membeli saham di harga 50. Ini terjadi pada saham KARK (Dayaindo Resources Internation). 50 rupiah adalah harga terendah sebuah saham, tidak bisa turun lagi, dan tidak akan rugi. Tapi ini juga menunjukkan bahwa saham tersebut bukan saham yang diminati, atau saham tidur, atau saham yang buruk kinerja perusahaannya. Sejauh menyangkut KARK, saya lihat di laporan keuangannya, sebetulnya saham ini tidak buruk kinerjanya. Jadi saya masih bisa berharap untuk jangka panjang.
  2. Kesalahan bulan-bulan sebelumnya kadang masih terulangi, seperti tidak sabar sehingga membeli saham di harga agak tinggi, atau menjual saham karena melihat harganya naik namun ternyata masih naik lagi.

Kedua, seperti terlihat pada portofolio, ada 14 emiten yang saya beli dengan porsi yang sedikit-sedikit. Sekilas, ini seperti strategi diversifikasi. Lebih tepatnya, ini diversifikasi yang tidak disengaja. Saya tidak akan menjadikan diversifikasi sebagai strategi investasi. Diversifikasi memang mengurangi risiko, tapi juga menghambat keuntungan. Sebisa mungkin, saya akan memfokuskan pada sedikit saham yang saya nilai berprospek bagus dan harganya masih murah.

Walaupun saham yang saya beli lumayan banyak (dibanding modal), saya memastikan bahwa harga saham-saham tersebut masih relatif murah. Ukurannya, PBV masih di kisaran 1x atau semahalnya di bawah 2x. PBV terendah ada pada saham RICY (Ricky Putra Globalindo) yaitu sebesar 0,40x di harga 215, dan PBV tertinggi pada saham RALS (Ramayana Lestari Sentosa) sebesar 1,98x di harga 780.

Ketiga, sepanjang Maret 2012, saya melakukan strategi DCA (Dollar Cost Averaging; menurunkan harga rata-rata) pada saham BULL (Buana Listya Tama), perusahaan jasa tanker. Saham ini memang belum beranjak naik dari harga bulan lalu. Tapi saya berhasil menurunkan harga beli rata-rata dari 74,23 menjadi 70,99. Saham ini PBV-nya sangat rendah, hanya 0,42x. Artinya, publik menghargai perusahaan ini 42% dari harga sebenarnya. Saya cukup yakin tak lama lagi saham perusahaan ini akan kembali ke harga semula, di atas 100 rupiah per saham, karena secara fundamental perusahaan ini kuat. Prospeknya pun bagus, karena sebagai perusahaan pengangkutan laut (kapal tanker), dia diuntungkan oleh ditetapkannya asas cabotage pada 7 Mei 2011, yaitu hanya kapal berbendera Indonesia yang boleh melintas di perairan Indonesia.

Keempat, ada dua saham yang saya beli tanpa niat menahannya dalam waktu lama, yaitu INAF (Indofarma) dan WICO (Wicaksana Overseas Internation). Untuk trading, bolehlah. Saya belum mempelajari laporan keuangan perusahaan ini. Tapi melihat data-data fundamentalnya yang tertera di mesin trading, kelihatannya tidak menarik. Saya pastikan dua saham ini tak ada di portofolio saya bulan depan.

Kelima, saya beberapa kali melakukan jual dan beli saham CTRS (Ciputra Surya). Ini adalah saham paling melejit dalam portofolio saya. Ketika saya pertama kali membelinya di harga 860 sebanyak 2 lot, saya menjualnya di harga 930, dan kaget mendapati harganya naik terus. Saya pun membeli lagi di harga 1000, dan ternyata harganya masih naik. Terakhir, saya sempat menjual di harga 1450; dan setelah itu turun ke 1410. Tapi saya serakah, pasang harga di 1400 sehingga pembelian gagal. Dan kini harganya 1500, tapi saya hanya punya 1 lot. Total saya telah mencatat keuntungan ratusan ribu dari satu saham ini, tapi saya kehilangan potensi ratusan ribu lagi. Saya punya perkiraan harganya bisa mencapai 2000, karena dengan harga nominal 930 (berdasarkan laporan keuangan Q3 2011), saat ini PBV-nya masih di bawah 2x.

Keenam, saya tidak begitu memperhatikan pergerakan indeks, harga minyak dunia, harga CPO, kurs mata uang, angka inflasi, dan indikator makro lainnya. Saya hanya peduli pada saham-saham yang saya beli. Melelahkan kalau harus mengikuti informasi yang semacam itu, walaupun konon itu penting. Mungkin kalau modal saya sudah miliaran, baru saya perhatikan hal-hal begituan. Yang penting, sepanjang saham yang saya pegang fundamentalnya bagus dan harganya ada pergerakan, saya tetap bisa meraih keuntungan.

Terakhir, karena saya seorang agen asuransi, saya mengingatkan kepada para investor agar tidak lupa melindungi aset berharga anda dengan asuransi, terutama asuransi jiwa dan kesehatan. Oke… []

m

Tulisan lainnya:

“Reksadana” Pribadi Saya

– Laporan dan Evaluasi Bermen Saham (April 2012)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Investasi dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Laporan dan Evaluasi Bermen Dana Saham (Maret 2012)

  1. Ping balik: Page not found | Allianz Syariah

  2. mike berkata:

    luar biasa sharing bro Asep S.
    kalau boleh tahu lebih spesifik dari alasan bro Asep karena sy lihat portfolio nya didominasi second liner. dan apakah PBV menjadi faktor utama dalam melakukan pemilihan saham2 tsb ?
    Terima kasih sebelumnya.

    Suka

    • Asep Sopyan berkata:

      Terima kasih Bro Mike atas komentarnya. Modal saya masih minim banget jadi baru saham2 secondliner, bahkan thirdlinerlah, yang mampu saya beli. Ttg PBV, ada beberapa cara menentukan valuasi saham, tapi PBV adalah yg paling saya pahami dan menurut saya paling akurat, selain PER. Demikian.

      Portofolio sy sekarang telah berubah banyak dibanding yg saya laporkan di tulisan ini.

      Suka

  3. Ping balik: Laporan dan Evaluasi Bermen Saham (April 2012) | Allianz Syariah

  4. Anton Tobing berkata:

    salam kenal bro…sy anton dari cilacap, sy pengen ikutan bermen saham syariah broo…ngikut belajar ya…sy jg mo mulai dari yg kecil2 dulu kaya bang asep…ngomong2 di kantor sy lg ada penawaran dari allianz syariah dan pru syariah, klo menurut bang asep, yg bagus yg gimana sih…sy si senengnya yg invest plus ada asuransi kesehatannya….thanks broo…kl bisa dibales lewat imel aj ya…anton.tobing9@gmail.com

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s