Asuransi atas Asuransi

Para sufi berkata, “Bahkan istigfar kita pun perlu diistigfarkan lagi.” Dianalogikan dengan asuransi, maka dapat dikatakan, “Bahkan asuransi kita pun perlu diasuransikan lagi.”

Tiga Bentuk Asuransi atas Asuransi

Ada tiga bentuk asuransi atas asuransi, yaitu:

  1. Reasuransi, ialah perusahaan asuransi mengasuransikan aset dan seluruh nasabahnya ke perusahaan reasuransi.
  2. Waiver of premium dan/atau payor benefit, ialah pembebasan premi dan/atau tabungan otomatis jika nasabah mengalami ketidakmampuan tertentu, entah karena sakit kritis atau cacat tetap total. Fasilitas ini merupakan rider (proteksi tambahan) pada asuransi jiwa.
  3. Unit link, ialah paduan asuransi dan investasi.

Saya hanya akan membahas bentuk ketiga.

Dua Alasan

Kenapa kita perlu memadukan asuransi dengan investasi? Setidaknya ada dua alasan:

  1. Biaya asuransi akan naik seiring usia atau saat perpanjangan kontrak.
  2. Mungkin saja kita mengalami kesulitan keuangan di tengah masa kontrak asuransi.

Dengan unit link, paduan asuransi dan investasi terlaksana secara otomatis.

Replikasi Skema Unit Link

Ada yang mengatakan, skema unit link dapat direplikasikan oleh nasabah dengan cara memisahkan asuransi dengan investasi. Yup, ini betul. Asuransinya ambil term life atau YRT (yearly renewability term; kontrak tahunan dengan garansi perpanjangan), kemudian investasinya dilakukan sendiri di tempat terpisah, entah di reksadana, saham, emas, sektor riil, atau apa pun yang kita pahami.

Contoh:

Kita mengambil asuransi term life, masa kontrak sepuluh tahun, preminya 3 juta per tahun. Sepuluh tahun kemudian, jika kita memperpanjang kontrak, premi akan naik beberapa kali lipat (tergantung usia dan kebijakan perusahaan). Untuk mempersiapkan kenaikan ini, sejak awal kita perlu menyisihkan uang dalam jumlah yang kira-kira sama dengan premi untuk diinvestasikan, dengan tujuan khusus untuk membayar premi asuransi saat perpanjangan, dan jangan tergoda menggunakannya untuk keperluan lain. Jadi, meski premi term lifenya hanya 3 juta, yang harus kita keluarkan adalah sekitar 6 juta. Dengan cara ini, ketika kita harus membayar misalnya 7 juta untuk premi perpanjangan, uangnya telah siap. Dengan demikian, premi akan terasa flat 6 juta per tahun.

Tapi cara terpisah ini ada kelemahannya, yaitu alasan kedua: mungkin saja kita mengalami kesulitan keuangan di tengah jalan. Jika ini yang terjadi, maka bukan saja investasinya tidak jalan, malah yang ada pun terpakai sehingga premi asuransi tidak mampu kita bayar. Dengan demikian, maka polis asuransi kita akan lapse (batal, hangus), dan kita mengalami masa tanpa asuransi.

Memisahkan asuransi dan investasi memerlukan disiplin yang tinggi dalam hal penggunaan uang. Kita maklum bahwa jika uang sudah di tangan, segala hal bisa terjadi. Selain kemungkinan kesulitan keuangan, mungkin saja kita didatangi kebutuhan lain yang sifatnya urgen dan mendadak, di mana jalan satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan itu adalah memakai uang hasil investasi kita.

Kelebihan Skema Unit Link

Tapi dengan unit link, meski kemungkinan kedua (kesulitan keuangan) tetap bisa terjadi, hal itu tidak akan berakibat batalnya proteksi asuransi kita. Melalui unit link, sejak awal kita “dipaksa” membayar premi dua-tiga kali lipat dari biaya asuransinya. Adanya “paksaan” ini membuat kita tidak usah lagi mempersiapkan dana dengan tujuan khusus untuk membayar premi perpanjangan.

Jenis asuransi pada unit link adalah YRT. Ketika kita membayar premi unit link sebesar katakanlah 6 juta, sesungguhnya biaya asuransi YRT-nya hanyalah sekitar sepertiga atau maksimal setengah dari 6 juta. Selisihnya adalah porsi investasi. Ketika biaya YRT naik seiring usia, nilai investasi yang telah terbentuk akan menutupi biaya itu sehingga premi jadi flat, tetap 6 juta sampai kapan pun, atau bahkan boleh cuti premi di tahun kesekian, kecuali kinerja investasinya buruk sekali.

Kinerja investasi buruk kerap menjadi sasaran tembak kritikus unit link. Terhadap kritik ini, saya hanya bisa katakan bahwa jika investasi unit link buruk, maka investasi yang lain, khususnya yang berbasis pasar modal semacam reksadana, pasti buruk juga.

Jadi, skema unit link melindungi nasabah dari dua kemungkinan:

  1. Kenaikan biaya asuransi. Meski biaya asuransi naik, premi tetap sama.
  2. Kesulitan keuangan. Meski suatu ketika nasabah tidak mampu bayar premi, ia tetap terproteksi, setidaknya untuk sementara selama nilai investasi masih ada. Ketika porsi investasi hampir habis, diharapkan kondisi keuangan nasabah sudah pulih seperti sediakala. []
Iklan
Pos ini dipublikasikan di Unit Link dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s