Dibebani, Menjadi Beban

Tulisan ungu di bawah ini saya kutip dengan izin dari Jauhari MK, seorang perencana keuangan independen, pada blognya: http://finplanner-jauhari.blogspot.com/2012/02/dibebani-menjadi-beban.html. Semoga bermanfaat juga untuk anda.

Arsa (nama samaran) teman saya mengomel ngomel … karena dia merasa “dipaksa” oleh ibunya untuk ikutan saweran menanggung anak sepupu yang harus operasi karena kecelakaan.

Ibunya sebenarnya sangat baik hati, mau menjadi “EO” pengumpul dana.
Ketika mendapat kabar bahwa anak keponakannya harus masuk rumah sakit dan segera di ambil tindakan operasi.
Tapi tertunda karena tidak ada dana.
Akhirnya ibu Arsa bergerak “memaksa” anak-anaknya serta anak-anak dari kakak dan adik ibunya (sepupu Arsa) untuk menyumbangkan dana sekedarnya.

Bayangkan …. Jika Arsa mengomel karena “dipaksa”, apalagi sepupu Arsa … merasa “lebih terpaksa” … mau nolak .. 
gengsi .. akhirnya menyumbang .. meskipun dengan menggerutu. Menyumbang .. tapi tidak ikhlas  …
 
Ibu Arsa yang sudah tua yang baik hati akhirnya menjadi target gerutuan …
Tidak hanya sama anak atau menantunya tapi juga sepupu sepupu Arsa.

Contoh kasus kecil yang terjadi dikehidupan kita.
Padahal sudah sewajarnya sebagai keluarga untuk saling tolong menolong.
Sebagai keluarga, kita siap untuk di bebani urusan keluarga kita.
 
Tapi jika beban itu berupa uang, umumnya kita sangat berat mengeluarkan uang tersebut untuk membantunya.
 
Apakah kita mau .. ibu atau orang tua kita yang baik hati menjadi .. omelan di antara anggota keluarga.
 
Apakah kita mau .. menjadi beban keluarga ..
Keluarga kita sendiri menjadi beban keuangan keluarga besar.
 
Jawaban yang logis .. tentu kita tidak ingin menjadi beban orang lain.
 
Sobat …
Jika Anda sudah memiliki asuransi … check .. apakah benefit benefit produk asuransi yang anda miliki sudah 
mencover resiko resiko yang mungkin terjadi. 
Serta check .. apakah besar nilai benefit yang Anda ambil sudah layak nilainya.
 
Mintalah agen asuransi anda untuk mereview dan melakukan summary dalam satu lembar, dalam bahasa konsumen 
(bukan bahasa teknis asuransi) sehingga memudahkan anda untuk membaca dan memahaminya.
 
Dan jika anda belum mempunyai asuransi … segerah ber-asuransi.
 
Sobat ..
Mungkin keadaan keuangan pas pas-an, tidak ada sama sekali prioritas asuransi.
Mungkin keuangan berkecukupan, tapi merasa “selalu” sehat.
Mungkin keuangan berlebihan, sehingga bisa “selalu” bayar.
 
Secanggih apapun kapal laut selalu membawa sekoci.
Sehebat apapun gedung bertingkat selalu menyediakan tangga darurat.
 
Kembali … semuanya kepada mindset
 
Musibah bisa terjadi kepada siapa saja,
kapan saja,
dimana saja ..
dan bisa melibatkan jumlah materi yang besar.
 
Dan jika terjadi …
kita atau orang tua kita tidak perlu mengemis belas kasihan ..
Kita sendiri yang bertanggung jawab untuk mengatasinya,
maka kita akan lebih bermartabat dan mempunyai harga diri di depan keluarga besar dan teman teman kita ..
 
Paling tidak ..
HINDARI diri kita dan keluarga kita, menjadi beban bagi orang lain.
 

follow twitter @jauhari_mk

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Jiwa dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Dibebani, Menjadi Beban

  1. edi suhaedi berkata:

    artikel bagus untuk semua dan mulai saat ini semua masyarakat hrs sadar asuransi, saatnya income kita alokasikan u asuransi

    Suka

  2. Anti turnip berkata:

    Keren…setuju banget….resiko itu datang tdk pernah pamit dulu…dia tdk pernah ketuk pintu minta masuk…resiko itu datang dengan tiba-tiba…dan pada saat resiko itu datang…..asli…MAHAL sekali biayanya….so…kapan kita harus punya asuransi…sekarang yah….justru pasa saat sepertinya tidak dibutuhkan….tks yah sharingnya……….mari kita sadar untuk berasuransi…….

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s