Ibu Rumah Tangga: Perlukah Asuransi Jiwa?

IRT 4Jika berpegang pada pendapat para perencana keuangan secara saklek dan leterlek, mereka mengatakan bahwa ibu rumah tangga tidak perlu asuransi jiwa. Alasannya karena tidak ada dampak keuangan yang ditimbulkan dari peristiwa meninggalnya seorang ibu rumah tangga.

Tapi izinkan saya menawarkan sudut pandang berbeda.

Pertama, sesungguhnya suami akan sangat terbantu jika istrinya punya asuransi jiwa. 

Bukankah suami istri harus saling membantu? Ketika suami membeli asuransi jiwa atas nama dirinya, ia tengah membantu istri dan anak-anaknya. Ini sesuatu yang baik. Sebaliknya, ketika suami membelikan asuransi jiwa atas nama istrinya, ia tengah membantu dirinya dan anak-anaknya. Ini pun sesuatu yang baik.

Contoh: Seorang suami, karena tidak pernah membaca saran perencana keuangan, menyetujui tawaran agennya untuk membelikan istrinya asuransi jiwa dengan UP sebesar 1 miliar, sama seperti dirinya. Suatu ketika (mungkin beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian), istrinya dipanggil Yang Mahakuasa, maka cairlah uang 1 miliar dari perusahaan asuransi.

Kira-kira apa yang akan dilakukan sang suami dengan uang tersebut? Ini beberapa kemungkinannya:

  • Jika dia punya cicilan (rumah, mobil, dan lainnya), dia bisa melunasi utang-utangnya.
  • Jika dia seorang karyawan, dia bisa memulai bisnis sampingan.
  • Jika dia seorang wiraswasta, dia akan menambah modal usahanya.
  • Dia pun bisa saja menyimpan dana 1 miliar tersebut untuk biaya pendidikan anak-anaknya.

Apa pun itu, semuanya baik dan sang suami akan merasa sangat terbantu.

Bagaimana kalau istrinya panjang umur? Ya syukur.

Kedua, jika suami memang tidak butuh uang pertanggungan dari istri, uang itu bisa disumbangkan ke lembaga sosial atau orang-orang yang membutuhkan.

Ini bisa jadi ladang amal yang luar biasa baik bagi suami maupun istri. Kapan lagi bisa menyumbang, katakanlah, sebesar 500 juta atau 1 miliar, kalau bukan dari asuransi?

Marilah kita luaskan cakrawala visi kita ke hal-hal yang spiritual, bukan sekadar bicara asuransi sebagai kebutuhan dasar belaka, terutama jika kita diberi kemampuan untuk itu.

Selain itu, premi asuransi itu sendiri pada hakikatnya dapat dihitung sebagai sedekah dan karena itu orang yang membayarnya akan mendapat pahala. Mengapa? Karena dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu orang-orang yang mengalami musibah, dan ini bisa terjadi setiap hari. Bedanya dengan sedekah biasa, di sini tidak ada pihak yang posisinya lebih tinggi (pembayar premi) dan tidak ada pihak yang posisinya lebih rendah (penerima manfaat). Keduanya setara, karena penerima manfaat adalah juga pembayar premi, dan pembayar premi pun ada kemungkinan menjadi penerima manfaat.

Mau membantu orang setiap hari? Jadilah peserta asuransi.

Ketiga, teori yang menyatakan ibu rumah tangga tidak butuh asuransi jiwa, sebetulnya hanya berlaku untuk asuransi jiwa dalam pengertian risiko meninggal dunia. Bicara soal risiko lain, misalnya penyakit kritis dan cacat, teori tersebut tidak berlaku sama sekali.

Bicara tentang penyakit kritis, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki risiko tersebut. Bahkan kaum perempuan memiliki kemungkinan yang lebih besar dan jenis penyakit yang lebih banyak. Saya tidak tahu statistiknya, tapi dilihat dari premi, biaya asuransi penyakit kritis (dan kesehatan pada umumnya) untuk perempuan lebih tinggi ketimbang laki-laki.

Keempat, suami akan lebih merasa aman jika istrinya pun punya asuransi penyakit kritis.

Jika seorang ibu rumah tangga terkena penyakit kritis, siapa yang akan menanggung biayanya? Tanpa asuransi, siapa lagi kalau bukan suami. Dan sungguh, akan sangat memberatkan bertindak sebagai “perusahaan asuransi” bagi orang-orang yang kita cintai.

Berapa UP yang Ideal untuk Ibu Rumah Tangga?

Pertanyaan selanjutnya, berapa UP yang ideal untuk ibu rumah tangga?

Jika premi bukan masalah, menurut saya, sebaiknya UP asuransi untuk istri sama dengan UP yang dimiliki suami. Kenapa? Hal itu menunjukkan besarnya penghargaan yang diberikan suami dan istri kepada satu sama lain. Bukankah suami istri harus saling menghargai secara setara?

Dalam hal besarnya UP jiwa untuk istri, ada satu gagasan mulia yang saya baca di blog Junior Planner, kutipannya di bawah ini:

Buatkan asuransi jiwa untuk istriku dengan uang pertanggungan yang sama dengan diriku. Karena jika istriku lebih dulu meninggal, maka aku akan keluar dari pekerjaanku saat ini. Aku akan tinggal di rumah untuk menggantikan semua tugas-tugas istriku dalam membesarkan anak-anakku sampai mereka mandiri kelak.

Hmmh, menggetarkan, bukan?

Itu bicara UP jiwa. Dalam hal UP penyakit kritis, bukankah kita tak pernah tahu, siapa yang membutuhkan biaya lebih besar?

Demikian. []

Iklan

Tentang Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Jiwa, Penyakit Kritis dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Ibu Rumah Tangga: Perlukah Asuransi Jiwa?

  1. fajrin berkata:

    gan kalo di kota PALU allianz uda ada gak??

    @Salam, bung Fajrin, saya belum tahu. Mgkn bisa ditanyakan langsung ke Allianz via contactus@allianz.co.id.

    Terima kasih.

    Salam,
    Asep S

    Suka

  2. Ping balik: Perlukan seorang Ibu Rumah Tangga memiliki Asuransi Jiwa? | Allianz Asuransi Syariah

  3. Ping balik: Perlukah seorang Ibu Rumah Tangga memiliki Asuransi Jiwa? | Allianz Asuransi Syariah

  4. Rahayu Rosgiyanti berkata:

    berarti sama saja (misalkan) untuk asuransi jiwa suami mengambil rider spouse payor benefit dan spouse payor protection toh, apa masih perlu membuat asuransi untuk istri?

    @Salam, Bu Rahayu, spouse payor benefit itu manfaatnya memberikan pembebasan premi jika pasangan (istri) mengalami penyakit krtis atau cacat total, sedangkan spouse payor protection memberikan bebas premi jika pasangan meninggal dunia.

    Yang dibutuhkan oleh istri jika dia mengalami sakit kritis/cacat total bukanlah sekadar bebas premi, yang notabene itu polisnya suami. Yang dibutuhkan adalah uang tunai dalam jumlah yang cukup besar untuk membiayai pengobatan sakit kritis atau perawatan cacat. Jika meninggal, yang dibutuhkan keluarganya adalah warisan. Ini hanya mungkin jika istri juga mengambil polis atas nama dirinya.

    Demikian.

    Salam,
    Asep S

    Suka

    • rezuzovka berkata:

      oh iya bebas premi, saya salah tulis. Maksud saya adalah jika pemeganga polis sebagai tertanggung. Maka pasangan tertanggung yg terdiagnosa penyakit kritis / pasangan tertanggung meninggal maka diberikan UP, bagaimana dengan yg ini?

      @UP hanya diberikan kepada tertanggung. Jika kejadian sakit kritis atau meninggal terjadi pada pasangan, polisnya bebas premi (jika ambil rider spouse payor benefit atau protection).

      Salam,
      Asep S

      Suka

  5. Ping balik: Ibu Rumah Tangga: Perlukah Asuransi Jiwa? | Sadar Asuransi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s