Rawat Jalan Itu Tidak Perlu Pakai Asuransi

dialogDialog berikut ini saya tujukan untuk mereka yang suka menanyakan asuransi rawat jalan. Di bagian akhir saya tambahkan pula dialog tentang rawat gigi, kacamata, dan melahirkan, serta asuransi apa yang selayaknya kita miliki. Semoga bermanfaat.

Z          : Aku baca di tulisan “Asuransi Rawat Jalan, Perlukah?”, kamu bilang asuransi rawat jalan itu tidak perlu. Kenapa emangnya?

A          : Lho, katanya udah baca, kok nanya lagi?

Z          : Sori, cuma pengen denger langsung dari orangnya.

A          : Oke. Menurut kamu, sakit yang bisa berobat jalan itu sakit kayak apa?

Z          : Hmm, yang aku pernah alami sih, batuk pilek sama demam. Tadinya pakai obat warung, udah tiga hari gak berenti. Trus aku pergi ke klinik 24 jam. Diperiksa-periksa sama dokter, dikasih obat, habis itu mendingan.

A          : Habis berapa waktu itu berobatnya?

Z          : Buat dokternya 75 ribu, obatnya 90 ribu. Total 165 ribu.

A          : Punya gak uang segitu?

Z          : Ada sih.

A          : Nah, berarti gak perlu pakai asuransi kan?

Z          : Tapi kan, kalau ada asuransi lebih enak.

A          : Jadi asuransi itu buat cari enak?

Z          : Emangnya buat apa?

A          : Asuransi itu untuk cari perlindungan. Perlindungan keuangan dari hal-hal yang tidak sanggup kita tanggung.

Z          : Oo gitu ya. Soalnya aku punya temen, kalau berobat jalan gitu tinggal kasih kartu, pulang gak pake bayar.

A          : Temenmu itu dapat asuransi rawat jalan dari mana?

Z          : Dari kantornya.

A          : Nah, kalau ada dari kantor ya alhamdulillah, tinggal dipakai saja.

Z          : Aku gak ada rawat jalan dari kantor. Adanya cuma rawat inap.

A          : Kalau gak ada, gak usah repot nyari-nyari. Toh pakai uang sendiri pun sanggup, iya kan?

Z          : Iya sih. Tapi kamu jual kan askes rawat jalan?

A          : Ada. Tapi kalau mau ambil rawat jalan, harus ambil rawat inap. Jadi kamu punya askes rawat inap dari kantor, bisa mubazir. Kalau kamu pakai askes dari kantor dulu, askes sininya yang mubazir karena yang namanya askes kalau pakai kartu dia gak bisa dobel klaim.

Z          : Oo gitu ya. Kalo preminya sendiri gimana?

A          : Kalau rawat inap, preminya murah manfaatnya lumayan. Tapi rawat jalan itu preminya mahal banget, manfaatnya kecil.

Z          : Berapa?

A          : Contoh, kalau rawat inap, untuk dapat plan kamar yang 500 ribu sehari, preminya 2,3 juta per tahun. Tapi rawat jalan untuk plan yang sama, preminya 3,2 juta per tahun. Total kalau ambil rawat inap + rawat jalan, preminya 5,5 juta per tahun. (Cek di Tabel Premi Allisya Care)

Z          : Wah, mahal juga ya. Lalu manfaatnya segimana?

A          : Untuk rawat jalan plan 500, manfaatnya untuk konsultasi dokter umum 85 ribu per kunjungan, dokter spesialis 175 ribu per kunjungan, obat-obatan 4 juta per tahun, ada lagi untuk pemeriksaan diagnostik dan fisioterapi. Dan semua itu sistemnya reimburse, bayar dulu baru klaim. Selain itu, yang ditanggung asuransi cuma 80%, sisanya ditanggung sendiri (co-share, bagi risiko). (Cek di Tabel Manfaat Allisya Care).

Z          : Wah, jadi total manfaatnya untuk obat-obatan 4 juta ya? Gak jauh beda sama preminya ya.

A          : Emang. Kalo menurutku, daripada uang 3,2 juta itu disetorkan ke asuransi, mendingan dijadikan dana darurat. Sewaktu-waktu kena pilek trus ke dokter, tinggal pakai. Yakin deh, dalam setahun gak bakal habis kalau cuma utk rawat jalan.

Z          : Hmm, betul juga sih. Oke deh terima kasih.

A          : Sama-sama, terima kasih kembali :).

Asuransi Rawat Gigi, Kacamata, dan Melahirkan

Z          : Nanya lagi boleh?

A          : Ya silakan, kawan.

Z          : Kalau rawat gigi gimana, perlu gak pakai asuransi?

A          : Prinsipnya sama. Biaya rawat gigi berapa sih? Kalau masih mampu pakai uang sendiri, kenapa repot-repot pakai asuransi?

Z          : Oo gitu. Kalau rawat kacamata?

A          : Itu sih lebih-lebih lagi gak perlu asuransi. Emangnya dalam setahun berapa kali ganti kacamata? Dan harga kacamata berapa sih?

Z          : Hmm, gitu ya. Kalau untuk melahirkan, gimana?

A          : Menurut saya juga tidak perlu. Pertama, melahirkan itu bukan musibah, tapi anugerah. Asuransi itu fungsinya untuk jaga-jaga dari musibah, khususnya musibah yang biayanya berat kalau ditanggung sendiri. Kedua, biaya melahirkan itu relatif tidak besar. Kalau mau melahirkan di bidan, biayanya paling cuma 1 jutaan. Kalau di rumah sakit, lahir normal tak sampai 10 juta. Masih bisalah pakai uang sendiri, asalkan disiapkan dari awal kehamilan.

Z          : Kalau cesar gimana?

A          : Ya siapkan juga antisipasi dananya untuk lahir cesar. Alasan ketiga, premi asuransi melahirkan itu mahal sekali. Misal ingin ditanggung sebesar 10 juta (lahir normal) atau 20 juta (lahir cesar), maka preminya 10 jutaan per tahun. (Cek Tabel Manfaat dan Tabel Premi di atas).

Z          : Hmm, kalau punya uang 10 juta, mendingan ditabung sendiri ya.

A          : Betul banget. Selain itu, kalau dibelikan asuransi, belum tentu manfaatnya terpakai.

Z          : Kenapa?

A          : Karena untuk ambil asuransi melahirkan, statusnya harus dalam keadaan belum hamil. Kalau sudah hamil tidak bisa, karena ada masa tunggu 280 hari atau 9 bulan 10 hari. Kalau ambil asuransi melahirkan tapi ternyata tidak hamil, berarti uangnya hangus ngus ngus. Bahkan kalau hamilnya telat, misalnya baru hamil 4 bulan atau lebih setelah ambil asuransi, sama juga tidak terpakai, karena masa berlaku polisnya satu tahun.

Z          : Jadi, kalau ambil asuransi melahirkan, harus hamil dalam waktu paling lambat 3 bulan ya setelah polis jadi?

A          : Tepat sekali, baru manfaatnya terpakai.

Asuransi Yang Wajib Diambil

Z          : Oke deh, makasih pencerahannya. Jadi, asuransi apa yang mestinya kita ambil?

A          : Asuransi yang mesti diambil, ukurannya satu: Kalau sebuah risiko biayanya terlalu berat untuk ditanggung sendiri, atau bahkan tidak akan sanggup kalau ditanggung sendiri, berarti WAJIB pakai asuransi.

Z          : Contohnya?

A          : Contohnya risiko meninggal dunia, cacat tetap, dan penyakit kritis.

Z          : Wah, itu sih memang berat sekali akibat keuangannya. Kalau rawat inap?

A          : Askes rawat inap pada umumnya perlu untuk sebagian besar orang. Tapi untuk orang yang punya cukup uang, katakanlah dia punya gaji bulanan di atas 30 jutaan dan bisa menyisihkan sepertiga penghasilannya, atau dia punya dana darurat 100 jutaan, bisa jadi tidak perlu ambil askes rawat inap.

Z          : Kenapa?

A          : Askes rawat inap itu fungsinya lebih untuk sakit biasa, contohnya tipes, DBD, diare, usus buntu. Biayanya saat ini antara 5 sampai 20 jutaan, dan kalau rumah sakitnya yang mahal, mungkin bisa sampai 50 juta. Memang cukup besar, tapi kalau dihitung-hitung, angka itu cuma sekali atau dua kali gaji bulanan. Kalau punya simpanan dana darurat 100 jutaan, habis 50 juta pun tak masalah. Pulang dari RS tinggal cari uang lagi.

Z          : Tapi penyakit kritis kan ditanggung juga?

A         : Betul, askes menanggung juga penyakit kritis, asalkan dirawat inap. Pokoknya penyakit apa pun yang membutuhkan rawat inap, askes akan bantu. Tapi seberapa besar? Lihat juga limitnya. Penyakit biasa biayanya bisa diperkirakan. Tapi yang namanya penyakit kritis tidak bisa diprediksi berapa butuh uangnya. Bisa jadi cuma puluhan juta, mungkin ratusan juta, tapi mungkin juga sampai miliaran.

Z          : Hmm…

A         : Belum lagi kalau penyakit kritis itu bikin orangnya tidak bisa bekerja. Contoh: stroke lalu lumpuh, kena serangan jantung lalu harus banyak istirahat, kanker lalu terbaring saja di kasur, dan sebagainya. Dalam kondisi begini, apakah askes akan bantu?

Z         : Sepertinya tidak ya. Kecuali mungkin untuk rawat inapnya.

A        : Betul. Penyebabnya satu: askes, sebagus apa pun, tidak memberikan uang tunai. Padahal yang dibutuhkan untuk kondisi ini adalah uang tunai, dan dalam jumlah besar. Asuransi penyakit kritis (CI) dan asuransi cacat (TPD) memberikan uang tunai yang dibutuhkan untuk kasus ini.

Z          : Oke, masuk akal penjelasannya. Terima kasih.

A          : Sama-sama, terima kasih telah mendengarkan 🙂 []

Artikel yang relevan:

Prioritas Asuransi

Asuransi Rawat Jalan, Perlukah?

Asuransi Melahirkan, Perlukah?

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Kesehatan dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Rawat Jalan Itu Tidak Perlu Pakai Asuransi

  1. JOhan berkata:

    Mantabbb….

    Ijin copas pak bos untuk blog ane di http://myasuransisyariah.wordpress.com/

    Suka

  2. Ping balik: Komentar atas Kultwit Ligwina Poerwo-Hananto tentang Asuransi Penyakit Kritis | Asuransi Allianz Syariah

  3. Ping balik: Asuransi Rawat Jalan, Perlukah? | Asuransi Allianz Syariah

  4. Ping balik: Perbedaan Allisya Care dan Maxi Violet | Asuransi Allianz Syariah

  5. Ping balik: Rawat Jalan Itu Tidak Perlu Pakai Asuransi « Insurance Smart

  6. Ping balik: Perlukah Asuransi Rawat Jalan? @ Chez Pipitta

  7. Ratna berkata:

    Terima Kasih untuk ulasanya
    Artikel yang menarik

    Suka

  8. tyo berkata:

    Sekarang kondisinya jika setiap bulan perlu:
    – Konsultasi ke dokter (spesialis) IDR 500000
    – Obat untuk 1 bulan per tablet @ 50000, jadinya IDR 1500000
    Total IDR 2000000 (belum termasuk biaya cek laboratorium tiap 3 – 6 bulan).

    Apakah masih bisa dikatakan ‘tidak perlu asuransi untuk rawat jalan’?
    Terima kasih

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s