Asuransi Syariah

Asuransi Haram? Lalu Apa Gantinya?

Halal haram

Ada yang berkata, asuransi itu haram. Bahkan asuransi syariah pun masih haram. (Pendapat tsb bisa dicek di SINI atau di SINI atau di SINI).

Lalu gantinya apa? Tidak disebutkan. Padahal asuransi itu merupakan kebutuhan, yang jika tidak dipenuhi dapat menimbulkan kedaruratan, dan menurut ajaran agama, kedaruratan itu harus dihindarkan, karena dalam kondisi darurat, orang bisa melakukan perbuatan apa saja termasuk yang diharamkan.

Betulkan asuransi merupakan kebutuhan?

Ya. Karena setiap manusia tidak ada yang kebal dari risiko hidup, seperti sakit, kecelakaan, cacat, dan meninggal dunia. Juga risiko pada harta benda yang dimiliki, seperti kebakaran, kerusakan, dan kehilangan.

Semua risiko itu, jika terjadi, membutuhkan uang untuk menanganinya. Itulah situasi zaman sekarang. Jika uangnya tidak tersedia, timbullah situasi darurat.

Contoh:

  • Sakit butuh biaya untuk berobat. Sakit yang berat bahkan bisa bikin seseorang tidak bisa bekerja lagi.
  • Kecelakaan butuh biaya untuk pemulihan. Dan jika menimbulkan cacat tetap, seseorang bisa kehilangan produktivitasnya.
  • Meninggal pun butuh biaya, minimal untuk pemakaman dan tradisi kematian. Jika terjadi pada pencari nafkah, maka penghasilan pun akan terhenti.
  • Rumah bisa rusak karena kebakaran atau bencana alam, dan tentu butuh dana untuk memperbaikinya.
  • Kendaraan bisa rusak karena tabrakan atau hilang dicuri orang, dan tentunya juga butuh dana untuk mendapatkan gantinya.

Pada tataran mikro (individu), risiko-risiko tersebut memang masih berupa kemungkinan, bisa terjadi atau tidak dalam periode tertentu. Kebanyakan orang hidup sehat-sehat saja sampai tua. Rumah dan kendaraan, kebanyakannya baik-baik saja hingga puluhan tahun.

Tapi pada tataran makro (masyarakat), risiko-risiko tersebut merupakan kepastian. Setiap hari selalu ada saja orang yang sakit, kecelakaan, dan meninggal. Setiap hari selalu ada rumah dan kendaraan yang rusak.

Lihatlah ke rumah sakit, di sana seringkali penuh oleh antrean pasien yang berobat. Jika anda masuk jalan tol, anda akan melihat papan informasi di pinggir jalan yang memberitakan jumlah kejadian kecelakaan dan jumlah orang yang meninggal pada bulan itu. Jika anda tinggal dekat masjid, pasti pernah mendengar pengumuman dari pengeras suara yang diawali ucapan “inna lillahi wa inna ilaihi rajiun”, alias informasi ada orang yang meninggal dunia, dan itu bisa beberapa kali setiap bulannya. Mampir jugalah ke bengkel mobil, pasti selalu ada mobil yang sedang diperbaiki setiap harinya.

Semua kejadian itu, jika dilihat secara makro, jelas membutuhkan sumber pembiayaan tertentu untuk mengatasi dampak ekonomisnya.

Dari sini timbul pertanyaan: Jika tidak pakai asuransi, karena asuransi itu haram, lalu apa alternatifnya?

Mari kita uji beberapa ide berikut ini.

  1. Pakai uang sendiri atau tabungan. Jika butuhnya kecil, mungkin masih bisa. Tapi kalau butuhnya ratusan juta hingga miliaran, apakah kita semua punya? Okelah kita akan menabung. Berapa yang bisa ditabung? Mampukah disiplin? Kalau butuhnya saat ini juga, apakah kita siap? Tabungan itu butuh waktu dan kedisiplinan untuk menjadi besar. Yang perlu disadari adalah bahwa musibah itu tidak bisa diketahui kapan datangnya dan berapa biayanya.
  2. Menjual harta. Dengan catatan ada harta yang bisa dijual, entah perhiasan, kendaraan, atau rumah. Pertanyaannya, apakah rela? Dan apakah tidak menimbulkan masalah baru? Misalnya kalau rumah dijual, lalu mau tinggal di mana?
  3. Mencari pinjaman. Apakah mudah? Dalam kondisi sehat dan untuk keperluan produktif saja pinjam uang itu harus pakai agunan, bagaimana jika dalam kondisi sakit dan untuk keperluan konsumtif? Belum lagi yang namanya pinjaman itu harus dikembalikan berikut bunganya. Sangat mungkin dalam kondisi seperti ini akhirnya seseorang terpaksa terjebak riba, sesuatu yang awalnya ingin dihindari ketika mengharamkan asuransi.
  4. Minta sumbangan. Pertanyaannya: Seberapa efektif? Seberapa besar dana yang bisa dikumpulkan dari sumbangan yang bersifat sukarela? Lalu lihat diri kita, siapa kita sehingga beraninya mengandalkan sumbangan untuk kejadian darurat?

Ada orang yang meyakini, seandainya dana-dana filantropis seperti zakat, infak, sedekah, perpuluhan, dan berbagai bentuk donasi lain bisa dikumpulkan secara maksimal, manusia tidak memerlukan lagi asuransi. Tanpa mengecilkan peran zakat, infak, sedekah, menurut saya hitung-hitungannya tidak masuk. Sebagai gambaran: dana asuransi itu bisa 5-15% dari penghasilan seseorang, dan dana tersebut dikumpulkan khusus untuk menanggulangi musibah tertentu, itu pun untuk para peserta yang membayar iurannya saja. Sedangkan dana filantropis semacam zakat hanya diwajibkan 2,5%, anggaplah berikut dana-dana lainnya bisa terkumpul 5% dari penghasilan atau kekayaan bersih orang-orang yang mampu, tapi dana tersebut digunakan untuk beraneka keperluan masyarakat, mulai dari memberi makan fakir miskin, membiayai orang sakit, membantu orang yang berutang, mendanai pendidikan, sampai pembukaan lapangan kerja. Dan dana-dana tersebut bukan hanya dinikmati mereka yang membayar, tapi keseluruhan masyarakat. Sebagai contoh, Dompet Dhuafa itu punya program yang disebut LKC (Layanan Kesehatan Cuma-cuma), tapi jelas itu hanya sedikit dari keseluruhan program DD yang mencakup banyak hal, dan LKC hanya untuk kalangan duafa.

  1. Mengandalkan pemerintah. Ini adalah alternatif yang paling masuk akal, tapi jelas tidak cukup untuk keseluruhan lapisan masyarakat. Untuk beberapa kebutuhan proteksi dasar, pemerintah telah menyediakan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Itu pun ada preminya sehingga sama saja dengan asuransi. Lebih dari itu, apakah kita yakin pemerintah mampu membiayai semua orang sakit di negeri ini? BPJS Kesehatan saja tiap tahun selalu nombok hingga puluhan triliun. Apakah kita yakin pemerintah mampu memberikan penghasilan rutin kepada orang yang lumpuh dan sakit berat? Apakah kita yakin pemerintah mampu membiayai hidup dan pendidikan semua anak-anak yang kehilangan ayahnya?
  2. Berdoa dan pasrah. Jika semua cara tak bisa diandalkan, jalan terakhir adalah pasrah seraya berdoa. Atau tawakal, walaupun tawakal yang benar menurut Nabi Muhammad ialah “ikat dulu untamu” alias ikhtiar dulu. Dan seraya berasuransi, tentunya kita pun bisa tetap berdoa. Memang ada yang meyakini, dan itu tertulis di kitab suci, bahwa dengan tawakal maka Tuhan akan memberikan solusi dari jalan yang tidak disangka-sangka. Tapi sikap ini hanya berlaku untuk individu, dan tidak mungkin diterapkan untuk masyarakat secara keseluruhan yang level keyakinannya beraneka-ragam.

Dengan segala kekurangan dari alternatif-alternatif yang ada, yang memang tidak secara khusus ditujukan untuk menanggulangi dampak musibah, tak diragukan lagi kita masih membutuhkan asuransi. Asuransi adalah sebuah mekanisme pengumpulan dana dengan tujuan spesifik untuk membantu orang-orang yang terkena musibah. Orang yang terkena musibah tentu mengalami bermacam beban, baik dari segi fisik, psikologis, hingga keuangan. Asuransi membantu dari segi keuangan. Jika keuangan terbantu, mudah-mudahan beban psikologis dan fisik pun jadi lebih ringan.

Secara makro, adanya asuransi juga meringankan beban yang harus ditanggung pemerintah dan lembaga-lembaga pengumpul donasi. Asuransi punya kelebihan yaitu mampu menjangkau orang-orang kaya, kalangan yang biasanya bukan prioritas untuk memperoleh bantuan dari pemerintah dan lembaga amal. Padahal orang-orang kaya juga butuh jaring pengaman sosial jika mengalami musibah seperti rawat inap, sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap, dan meninggal dunia. Tapi kebutuhan mereka memang akan terlalu besar untuk dipenuhi oleh pemerintah dan seperti kurang pada tempatnya jika mengharapkan dari dana-dana sumbangan sukarela.

Mengharamkan sesuatu yang merupakan kebutuhan masyarakat tentu harus ada alternatifnya. Bahkan sesuatu yang haram pun, jika darurat dan tidak ada penggantinya, bisa menjadi halal.

Jika hanya bisa mengharamkan tanpa memberikan solusi, apakah itu namanya?

Tentu sah-sah saja dan setiap orang berhak menolak asuransi, dengan alasan apa pun. Tapi yang perlu disadari, sikap ini berpotensi membahayakan diri sendiri dan keluarga. Bukankah setiap bahaya harus dihindari?

Jadi, berhati-hatilah dalam mengharamkan asuransi. Jangan-jangan asuransi adalah anugrah Tuhan untuk membantu umat manusia. Jangan-jangan asuransi bukan hanya tidak haram, tapi wajib adanya. Jangan-jangan asuransi bukan hanya wajib, tapi mulia adanya.

Untuk bahan diskusi lebih lanjut, saya telah menulis dua artikel:

  1. Hukum Asuransi Konvensional, Benarkah Haram?
  2. Hukum Asuransi Syariah, Tanggapan terhadap Pendapat yang Mengharamkan.

Semoga bermanfaat. []

6 tanggapan untuk “Asuransi Haram? Lalu Apa Gantinya?”

  1. asuransi indentik pada pnanggulangan resiko/musibah, apakh resiko/musibah dpt di ukur dgn uang..?

    artinya peserta asuransi masih takut dgn urusan dunianya, jika asuransi dikatakan ikhtiar, hal wajar bkn brarti benar, lantas bgaimana sbgian org yg tdk mampu mengasuransikan dirinya..? apkah mereka ketika mngalami resiko/musibah tdk terbantukan..?, yg namanya tolong menolong itu tdk bisa dikaitkan dgn asuransi, tp prbuatan sesama manusianya, bkn antara asuransi dan pemegang polis, jadi jnganlah melekatkan dalil2 Qur’an atau hadits jika kita bkn ahlinya, apalagi bukan seorang mursyid.

    والله أعلم..

    Suka

    1. Utk menanggulangi risiko, khususnya di zaman sekarang, sudah pasti memerlukan uang. Asuransi menyediakan uang tsb. Bagi yg tidak mampu membayar premi asuransi, mereka bisa ikut program perlindungan sosial dari pemerintah.

      Suka

  2. Memang betul asuransi sangat membntu.. Bgi nasabahnya…
    Bnyk cerita. Miring asuransi ..haram … Riba..tetap sy abaikan..
    Sy ikut asuransi krena memang sy butuh untuk jngka pnjang
    Investasi di asuransi buat persiapan di hari tua.saya
    Cover kesehatan di asuransi. ibarat lilin .. Selagi ada lampu kita blum membutuhkan tpi klau tdak ada penerangan.. Lilin itu sangat kita butuhkan
    Mungkin yg mengharamkan asuransi belum pernah kna musibah seperti saya..ank sakit tdak punya asuransi ludes tabungan.untuk berobat !
    Bgi saya tetap asuransi. Solusi yg pling bgus untuk perlindungan..

    Disukai oleh 1 orang

      1. Ikhtiar itu diperintahkan oleh Allah. Menjaga tabungan adalah juga menjaga surga. Jika tabungan tidak dijaga, malah bisa terjatuh ke dalam riba (pinjam uang berbunga), dan itu bikin kita jauh dari surga.

        Suka

  3. Majelis ulama indonesia bukan orang bodoh yang tidak paham ilmu fiqih muamalah dan ibadah.. mereka terus mempelajari dan mebgawasi jalannya operasional asuransi.. mui sudah menghalalkan, kenapa kita harus ragu ☺ bahkan ikmu kita masih jauh dibandingkan dengan para pembuat fatwa.. makan aja yg langsung jadi darah daging harua ada lebel halal mui ny yg padahal kita gatau pengolahannya seperti apa, lah ini lembaga keuangan langsung diawasi oleh dewan pengawas syariah (manusianya langsung) kenapa saya harus ragu dengan asuransi syariah ☺

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.