Hati-Hati Mengharamkan Asuransi

Halal haramAda yang berkata, asuransi itu haram. Bahkan asuransi syariah pun masih haram. (Pendapat tsb bisa dicek di SINI atau di SINI atau di SINI).

Lalu gantinya apa? Tidak dijelaskan. Padahal asuransi itu merupakan kebutuhan setiap manusia.

Kebutuhan?

Ya. Karena setiap manusia tidak ada yang kebal dari yang namanya risiko hidup, seperti sakit, kecelakaan, cacat, dan meninggal dunia.

Semua risiko itu, jika terjadi, membutuhkan uang untuk menanganinya.

  • Sakit butuh biaya untuk berobat. Sakit yang berat bahkan bisa bikin seseorang tidak bisa bekerja lagi.
  • Kecelakaan butuh biaya untuk pemulihan. Dan jika menimbulkan cacat tetap, seseorang bisa kehilangan produktivitasnya.
  • Meninggal pun butuh biaya, untuk pemakaman, upacara kematian, hingga pengganti penghasilan yang berhenti jika kejadian tersebut dialami pencari nafkah.

Pada tataran mikro (individu), risiko-risiko tersebut memang masih berupa kemungkinan, bisa terjadi atau tidak dalam periode tertentu. Tapi pada tataran makro (masyarakat), risiko-risiko tersebut merupakan kepastian. Setiap hari selalu ada saja orang yang sakit, kecelakaan, dan meninggal. Dan jelas butuh sumber pembiayaan tertentu untuk mengatasi dampak ekonomis dari semua risiko itu.

Dari sini timbul pertanyaan: Jika tidak pakai asuransi, lalu apa alternatifnya?

Ada beberapa ide yang terpikirkan.

  1. Pakai uang sendiri. Jika butuhnya kecil, masih bisa. Tapi kalau butuhnya ratusan juta hingga miliaran, apakah kita semua punya? Kalau butuhnya saat ini juga, apakah kita siap? Yang perlu disadari adalah bahwa sakit, kecelakaan, dan meninggal dunia itu tidak bisa diketahui kapan datangnya dan berapa biayanya.
  2. Menjual harta. Dengan catatan ada harta yang bisa dijual, entah perhiasan, kendaraan, atau rumah. Pertanyaannya, apakah rela?
  3. Mencari pinjaman. Alternatif ini tentu sangat tidak mudah. Dalam kondisi sehat dan untuk keperluan produktif saja pinjam uang itu harus pakai agunan, bagaimana jika dalam kondisi sakit dan untuk keperluan konsumtif? Belum lagi yang namanya pinjaman itu harus dikembalikan berikut bunganya. Sangat mungkin dalam kondisi seperti ini akhirnya terjebak riba, sesuatu yang awalnya ingin dihindari ketika mengharamkan asuransi.
  4. Mengharap sumbangan. Pertanyaannya: Seberapa efektif? Seberapa besar dana yang bisa dikumpulkan dari sumbangan yang bersifat sukarela?

Ada orang yang meyakini, seandainya dana-dana filantropis seperti zakat, infak, sedekah, perpuluhan, dan berbagai bentuk donasi lain bisa dikumpulkan secara maksimal, manusia tidak memerlukan lagi asuransi. Tanpa mengecilkan peran zakat, infak, sedekah, menurut saya hitung-hitungannya tidak masuk. Sebagai gambaran: dana asuransi itu bisa 5-15% dari penghasilan seseorang, dan dana tersebut dikumpulkan khusus untuk menanggulangi musibah tertentu, itu pun untuk para peserta yang membayar iurannya saja. Sedangkan dana filantropis semacam zakat hanya diwajibkan 2,5%, anggaplah berikut dana-dana lainnya bisa terkumpul 10% dari penghasilan atau kekayaan bersih orang-orang yang mampu, tapi dana tersebut digunakan untuk beraneka keperluan masyarakat, mulai dari memberi makan fakir miskin, membiayai orang sakit, membantu orang yang berutang, mendanai pendidikan, sampai pembukaan lapangan kerja. Dan dana-dana tersebut bukan hanya dinikmati mereka yang membayar, tapi keseluruhan masyarakat.

  1. Mengandalkan pemerintah. Untuk beberapa kebutuhan proteksi dasar, pemerintah telah menyediakan BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Itu pun ada preminya sehingga sama saja dengan asuransi. Lebih dari itu, apakah kita yakin pemerintah mampu membiayai semua orang sakit di negeri ini? Apakah kita yakin pemerintah mampu memberikan penghasilan rutin kepada orang yang lumpuh dan sakit berat? Apakah kita yakin pemerintah mampu membiayai hidup dan pendidikan semua anak-anak yang kehilangan ayahnya?
  2. Pasrah. Jika semua cara tak bisa diandalkan, jalan terakhir adalah pasrah. Atau tawakal, walaupun tawakal yang benar menurut Nabi Muhammad ialah “ikat dulu untamu” alias ikhtiar dulu.

Dengan segala kekurangan dari alternatif-alternatif yang ada, yang memang tidak secara khusus ditujukan untuk menanggulangi dampak musibah, tak diragukan lagi kita masih membutuhkan asuransi. Asuransi adalah sebuah mekanisme pengumpulan dana dengan tujuan spesifik untuk membantu orang-orang yang terkena musibah. Orang yang terkena musibah tentu mengalami bermacam beban, baik dari segi fisik, psikologis, hingga keuangan. Asuransi membantu dari segi keuangan. Jika keuangan terbantu, mudah-mudahan beban psikologis dan fisik pun jadi lebih ringan.

Secara makro, adanya asuransi juga meringankan beban yang harus ditanggung pemerintah dan lembaga-lembaga pengumpul donasi. Asuransi punya kelebihan yaitu mampu menjangkau orang-orang kaya, kalangan yang biasanya bukan prioritas untuk memperoleh bantuan dari pemerintah dan lembaga amal. Padahal orang-orang kaya juga butuh uang jika mengalami musibah seperti rawat inap, sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap, dan meninggal dunia. Tapi kebutuhan mereka memang akan terlalu besar untuk dipenuhi oleh pemerintah dan seperti kurang pada tempatnya jika mengharapkan dari dana-dana sukarela.

Mengharamkan sesuatu yang merupakan kebutuhan masyarakat tentu harus ada alternatifnya. Bahkan sesuatu yang haram pun, jika darurat dan tidak ada penggantinya, bisa menjadi halal.

Jika hanya bisa mengharamkan tanpa memberikan solusi, apakah itu namanya?

Tentu sah-sah saja dan setiap orang berhak menolak asuransi, dengan alasan apa pun. Tapi yang perlu disadari, sikap ini berpotensi membahayakan diri sendiri dan keluarga. Bukankah setiap bahaya harus dihindari?

Jadi, berhati-hatilah dalam mengharamkan asuransi. Jangan-jangan asuransi adalah anugrah Tuhan untuk membantu umat manusia. Jangan-jangan asuransi bukan hanya tidak haram, tapi wajib adanya. Jangan-jangan asuransi bukan hanya wajib, tapi mulia adanya.

 

Untuk bahan diskusi lebih lanjut, saya telah menulis dua artikel:

  1. Hukum Asuransi Konvensional, Benarkah Haram?
  2. Hukum Asuransi Syariah, Tanggapan terhadap Pendapat yang Mengharamkan.

Semoga bermanfaat. []

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Syariah dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Hati-Hati Mengharamkan Asuransi

  1. Ping balik: Hati-Hati Mengharamkan Asuransi | Sadar Asuransi

  2. Ping balik: Pengalaman Menjadi Agen Asuransi Allianz: Tahun Keempat (2015) | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

  3. Ping balik: Asuransi Syariah Mencegah Riba | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

  4. Ping balik: Asuransi Syariah Mencegah Riba | Asuransi Syariah Nomor Satu

  5. Ping balik: Sebelum Menutup Polis Asuransi, Pastikan Anda Telah Mendapatkan Pengganti Yang Sepadan dari Manfaat Asuransi Yang Hendak Anda Tutup | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

  6. Ping balik: Tanggapan terhadap Pendapat Ustadz Khalid Basalamah tentang Hukum Asuransi dalam Islam | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

  7. edo berkata:

    asuransi indentik pada pnanggulangan resiko/musibah, apakh resiko/musibah dpt di ukur dgn uang..?

    artinya peserta asuransi masih takut dgn urusan dunianya, jika asuransi dikatakan ikhtiar, hal wajar bkn brarti benar, lantas bgaimana sbgian org yg tdk mampu mengasuransikan dirinya..? apkah mereka ketika mngalami resiko/musibah tdk terbantukan..?, yg namanya tolong menolong itu tdk bisa dikaitkan dgn asuransi, tp prbuatan sesama manusianya, bkn antara asuransi dan pemegang polis, jadi jnganlah melekatkan dalil2 Qur’an atau hadits jika kita bkn ahlinya, apalagi bukan seorang mursyid.

    والله أعلم..

    Suka

    • Asep Sopyan berkata:

      Utk menanggulangi risiko, khususnya di zaman sekarang, sudah pasti memerlukan uang. Asuransi menyediakan uang tsb. Bagi yg tidak mampu membayar premi asuransi, mereka bisa ikut program perlindungan sosial dari pemerintah.

      Suka

  8. Ping balik: Asuransi Syariah Bukan Hanya Tidak Haram, Tapi Juga Baik dan Mulia | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

  9. Tika Chandra berkata:

    Memang betul asuransi sangat membntu.. Bgi nasabahnya…
    Bnyk cerita. Miring asuransi ..haram … Riba..tetap sy abaikan..
    Sy ikut asuransi krena memang sy butuh untuk jngka pnjang
    Investasi di asuransi buat persiapan di hari tua.saya
    Cover kesehatan di asuransi. ibarat lilin .. Selagi ada lampu kita blum membutuhkan tpi klau tdak ada penerangan.. Lilin itu sangat kita butuhkan
    Mungkin yg mengharamkan asuransi belum pernah kna musibah seperti saya..ank sakit tdak punya asuransi ludes tabungan.untuk berobat !
    Bgi saya tetap asuransi. Solusi yg pling bgus untuk perlindungan..

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s