Mengukur Prioritas Asuransi dari Frekuensi Kejadian dan Dampak Keuangan

Frekuensi atau dampak.

Pernyataan mana di bawah ini yang lebih anda setujui?

  1. Semakin sering frekuensi kejadiannya, semakin butuh asuransi.
  2. Semakin besar dampak keuangannya, semakin butuh asuransi.

Mari kita cermati dua kalimat di atas.

Ambil contoh sakit. Sakit apakah yang kejadiannya sering kita alami? Mungkin batuk, pilek, meriang. Saya rasa semua orang pernah mengalaminya. Tapi apakah kita membutuhkan asuransi untuk menangani masalah batuk-pilek-meriang? Saya pribadi, untuk sakit semacam itu, biasanya dengan beristirahat saja pun sembuh sendiri. Dan kalau agak lama batuk-pilek-meriangnya, saya beli obat warung atau minta obat ke puskesmas. Tidak pakai asuransi sama sekali. BPJS Kesehatan yang saya miliki pun biasanya tidak saya gunakan.

Baca juga: 

Asuransi Rawat Jalan, Perlukah?

Contoh berikutnya. Sakit apakah yang dampak keuangannya besar? Di antaranya sakit yang membutuhkan rawat inap atau pembedahan. Misalnya DBD, tipes, usus buntu, sudah pasti butuh biaya yang lumayan besar, bisa jutaan hingga puluhan juta. Apakah kita membutuhkan asuransi untuk menangani sakit rawat inap dan pembedahan? Jika anda punya tabungan puluhan juta dan tidak keberatan uang tsb terpakai untuk bayar biaya rumah sakit, silakan saja tidak punya asuransi. Tapi jika anda tidak punya uang puluhan juta, atau punya tapi keberatan jika diserahkan begitu saja ke pemilik rumah sakit, berarti anda butuh asuransi kesehatan.

Sakit yang membutuhkan rawat inap lebih jarang frekuensi kejadiannya daripada sakit yang cukup dengan rawat jalan. Tapi ternyata, untuk rawat jalan, walaupun kejadiannya sering, tanpa asuransi pun tak masalah karena bisa ditangani sendiri. Sedangkan untuk rawat inap, walaupun kejadiannya lebih jarang, tapi sekali kejadian bisa menghabiskan uang cukup banyak, maka dibutuhkan asuransi, dalam hal ini asuransi kesehatan untuk rawat inap dan pembedahan (hospital and surgical).

Contoh satu lagi. Selain sakit rawat inap, ternyata ada sakit yang dampak keuangannya lebih besar, ialah sakit kritis. Contoh: kanker, jantung, stroke, gagal ginjal, liver, tumor otak, transplantasi organ tubuh, kebutaan, hingga kelumpuhan. Penyakit-penyakit kritis tersebut biasanya juga memerlukan rawat inap dan seringkali disertai pembedahan. Biayanya? Mulai puluhan juta, ratusan juta, hingga miliaran rupiah. Bukan hanya itu, penyakit-penyakit kritis juga bisa menimbulkan turunnya produktivitas sehingga orang yang bersangkutan tidak dapat lagi mendapatkan penghasilan seperti sebelumnya.

Frekuensi atau kemungkinan terjadinya penyakit kritis mungkin lebih jarang daripada rawat inap. Tapi karena dampak keuangannya lebih besar, maka risiko ini sangat membutuhkan asuransi. Selain asuransi kesehatan untuk menanggung biaya rawat inap dan pembedahan di rumah sakit, dibutuhkan juga asuransi khusus penyakit kritis yang memberikan uang tunai dalam jumlah besar untuk mengantisipasi risiko kehilangan produktivitas.

Baca juga:

10 Fakta yang Perlu Dipahami tentang Asuransi Penyakit Kritis

Asuransi yang menanggung penyakit kritis biasanya tersedia sebagai rider (manfaat tambahan) di asuransi jiwa. Asuransi ini memberikan klaim dalam bentuk uang tunai (uang pertanggungan), misalnya ratusan juta atau beberapa miliar, sehingga pemakaiannya fleksibel. Bisa untuk biaya berobat dan berguna juga sebagai pengganti penghasilan untuk biaya hidup.

4 Kuadran Butuh Asuransi

Antara Frekuensi dan Dampak 

Bagaimana jika ada penyakit yang frekuensinya sering sekaligus menimbulkan dampak keuangan yang besar, apakah perlu asuransi? Ya, memang perlu asuransi. Tapi pertanyaannya, apakah masih ada perusahaan asuransi yang mau terima? Contoh, ada orang sudah terkena kanker, sehingga setiap periode tertentu dia harus kontrol ke rumah sakit dan dengan biaya yang besar. Dia tentu butuh bantuan, tapi sayangnya tidak akan ada perusahaan asuransi swasta yang mau terima. Kabar baiknya, sekarang sudah ada program BPJS kesehatan yang akan tetap menerima nasabah tanpa melihat kondisi kesehatannya.

Baca juga:

Prioritas Asuransi dalam Keluarga

Selain rawat inap dan penyakit kritis, risiko yang dampak keuangannya besar adalah cacat tetap (sebagian maupun total, karena sakit ataupun kecelakaan) dan meninggal dunia.

Cacat tetap menimbulkan turunnya kemampuan produktif dan berpengaruh ke penghasilan. Sebagai contoh, pada umumnya orang menyetir mobil dengan dua tangan, dua kaki, dan dua mata, di mana keseluruhannya harus berfungsi normal. Jika salah satunya tidak berfungsi, kegiatan menyetir mobil mau tak mau mesti diserahkan ke orang lain. Mengetik di komputer pun tidak nyaman dilakukan jika salah satu dari tangan atau mata tidak bisa digunakan.

Meninggal dunia jelas sekali dampak keuangannya. Jika terjadi pada pencari nafkah dalam keluarga, berarti keluarga tersebut kehilangan sumber penghasilan yang biasanya mereka dapatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

4 Kejadian Yang Membutuhkan AsuransiKeempat risiko kehidupan ini bisa kita singkat menjadi RSCM (Rawat inap, Sakit kritis, Cacat tetap, Meninggal dunia). Itulah empat hal yang memerlukan asuransi. Sudahkah anda dan keluarga memilikinya?

Kesimpulan

Kesimpulan dari artikel ini saya rangkum dalam tabel sebagai berikut:

Kriteria risiko dan cara mengelola

 

Untuk konsultasi lebih lanjut, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan

ASN Business Partner

HP/WA: 082111650732

Email: myallisya@gmail.com

Atau dengan mengisi:

Atau dengan menghubungi Agen Allianz di Kota Anda.

Pos ini dipublikasikan di Asuransi Penyakit Kritis, Edukasi Asuransi, Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

6 Balasan ke Mengukur Prioritas Asuransi dari Frekuensi Kejadian dan Dampak Keuangan

  1. desoel berkata:

    Artikel yang bagus. Jadi tahu mana asuransi yang perlu diambil lebih dulu.

    @Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, pak Desoel.

    Suka

  2. Ping balik: Mengukur Prioritas Asuransi dari Frekuensi Kejadian dan Dampak Keuangan | Asuransi Syariah Nomor Satu

  3. Ping balik: Apa Bedanya Biaya Akuisisi dengan Biaya Asuransi? | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

  4. Ping balik: Berapa Persen Alokasi Asuransi dan Investasi? | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

  5. Ping balik: Mengukur Prioritas Asuransi | Perlindungan Keuangan Anda

  6. Ping balik: Asuransi Rawat Jalan, Perlukah? | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s