Tanggapan terhadap Pendapat Ustadz Khalid Basalamah tentang Hukum Asuransi dalam Islam

Beberapa nasabah saya ada yang menghentikan polis asuransinya karena menganggap asuransi haram. Termasuk asuransi syariah pun dikatakan masih haram atau setidaknya diragukan kehalalannya. Salah satu di antara nasabah saya mengirimkan tautan video dari youtube berisi ceramah Ustadz Khalid Basalamah yang menjawab pertanyaan seorang jemaah tentang hukum asuransi dalam KPR.

Ceramah sang Ustadz bisa didengarkan di video Youtube berikut ini.

Transkrip Ceramah

Untuk keperluan bahasa tulisan, saya telah mengedit seperlunya dan membuang bagian ceramah yang tidak berhubungan dengan asuransi. Bagian yang akan saya tanggapi ditandai dengan huruf tebal. 

(Ustadz Khalid membacakan pertanyaan:) “Yang kedua, saya beli rumah dengan sistem KPR dan diwajibkan masuk asuransi. Mohon penjelasannya.”

Saya sudah jelaskan berulang kali, mohon maaf, tapi saya akan terangkan lagi. Dalam Islam tidak ada namanya asuransi sebenarnya. Apa itu asuransi? Menjamin sesuatu yang belum jelas bagi seseorang. Kalau anda tabrakan, kalau anda mati, kalau anda sakit dirawat di rumah sakit, tidak ada kejelasan. Enggak dibutuhin.

Lembaga asuransi yang ada sekarang itu mengiminig-imingkan seseorang untuk bergabung tentang hal yang tidak terjadi. Kalau anda sakit nanti dirawat sekian hari gratis. Itu kalau sakit. Kalau gak sakit? Kalau tabrakan, kalau badai, kalau gempa, kalau kalau. Dalam Islam tidak boleh ini. Tidak boleh menjanjikan sesuatu atau menganggap seseorang akan terjadi ini maka harus bayar sekian untuk itu. Ini di satu sisi. Jadi tidak boleh ada iming-iming seperti ini.

Dan hasil survei lapangan, orang yang memakai asuransinya dengan yang tidak memakainya, yang tidak memakai itu 75% ke atas. Ada orang sudah bayar 5 tahun, tidak pernah masuk rumah sakit. Jadi orang yang menggunakan dan kena iming-iming itu pun kecil sekali.

Sisi yang lain, asuransi ini masuk jelas dalam satu bab yang dilarang oleh Nabi SAW. Dalam hadis Bukhari dikatakan, Rasulullah Saw melarang mutlak transaksi gharar. Apa itu gharar? Merugikan salah satu pihak atau transaksi yang tidak jelas produknya, waktunya, tempatnya, jenis produknya, harganya. Ini gharar namanya. Tidak boleh itu.

Kasus gini misal. Kalau kita tidak menggunakan premi satu tahun, anggap 100 ribu, nanti kalau masuk rumah sakit akan ditanggung 5 juta. Bagaimana caranya kita mempertemukan premi 100 ribu dengan pembayaran rumah sakit yang 5 juta? Gharar ini. Kita bayar 100 ribu, kita dibayar 5 juta. Dan sebaliknya, kalau kita gak pake, hangus, sudah dianggap selesai, diambil oleh asuransi.

Orang yang kena dijanjikan atau diiming-imingi oleh asuransi itu sebetulnya kecil sekali. Makanya perusahaan asuransi itu berlomba-lomba karena keuntungannya luar biasa. Karena orang yang pakai pun sedikit sekali.

Kalaupun seseorang itu mati, target di asuransi itu orang mati itu kalau semenjak dia mendaftar misalnya umurnya masih 25 tahun, target asuransi itu masih 50 tahun loh. Dia targetnya itu orang meninggal di umur 75 tahun. Kalau pun ada orang meninggal di bawah itu, jarang. Paketnya dia begitu. Masih ada sekitar 50 tahun, 30 tahun. Selama 30 tahun tahun antum dikumpul uangnya, dengan uang nanti dikasih premi kalau kematian, gak balance itu.

Kalau antum sakit, ya pada saat antum sakit. Antum ikhtiar insya Allah akan ada. Boleh antum nabung, cadangan nanti kalau saya sakit akan ada, itu lebih baik. Karena jelas tidak ada gharar, tabungan antum sendiri. Antum butuh antum pake. Selesai. Karena gharar itu diharamkan dalam Islam, tidak boleh.

Dalam Islam itu kemarin saya jelaskan waktu kita jelaskan masalah tidak boleh mencurangi timbangan, ada beberapa konsekuensi hukum dalam ekonomi Islam. Tidak boleh ada kebohongan, tidak boleh ada kezaliman, tidak boleh ada gharar, tidak boleh ada manipulasi, semua harus transparan, semua harus ada kejelasan. Ini syarat-syarat dan rukun-rukun ekonomi dalam Islam. Jadi saya tidak pernah menemukan ada sisi dibolehkannya asuransi dalam Islam kalau sistemnya seperti yang ada sekarang.

Saya masukkan mobil saya asuransi all risk. Saya bayar 5 juta, selesai. Tabrakan, hilang, kena gempa, asuransi yang tanggung. Gharar akhi. Antum bayar 5 juta, hilang mobilnya, nilai mobil 200 juta, asuransi bayar 75% dari situ, anggaplah antum dapat 175 juta. Padahal antum cuma bayar 5 juta. Dari mana ini? Gharar ini. Ini sama dengan riba. Kita bayar sekian, kita dapat sekian. Dan iming-imingnya tadi, kalau hilang.

Banyak terjadi kasus di lapangan, orang sengaja menghilangkan mobilnya. Parkir sembarangan, sengaja gak dikunci hilang, lalu tuntut asuransi. Mobilnya kan sudah berjalan beberapa tahun. Setiap tahun dia kasih 5 juta untuk all risk, 5 tahun dia ikut berarti 25 juta dia keluar. Mobilnya pada saat dia beli 250 juta, 5 tahun kemudian sudah turun 40%. Asuransi siap mengganti 75%. Gharar. Manipulasi. Kezaliman. Bertumpuk-tumpuk semua ini. Dari mana ini? Gak bisa. Dalam Islam tidak boleh itu. Jelas tidak boleh. Makanya kita harus lebih jernih berpikir.

Sekarang yang jadi masalah, semoga Allah angkat, di negara kita ini asuransi sudah masuk ke semua lembaga, masuk ke pemerintahan kita. Masalah riba ini dengan unsur asuransi yang masuk gharar ini sudah melilit kita, seperti gak bisa lepas. Subhanallah.

Lalu bagaimana bentuk asuransi sebenarnya, kalaupun ada kita paksakan kalimat ini? Sebagian ulama menulis namanya syarikatut-ta’min. Tidak boleh ada gharar, kezaliman, riba, manipulasi, semua ada kejelasan.

Kalau saya punya perusahaan asuransi, lalu misalnya anda ikut asuransi mobil ke saya premi 5 juta dibayar per tahun all risk. Misalnya mobil anda tabrakan kena biaya 3 juta, anda lapor kepada saya, Pak mobil saya tabrakan. Lalu kata saya, baik bawa mobil anda ke bengkel A. ini bengkel berkualitas.

Anda datang ke sana, dinilai biayanya sekitar 3 juta. Asuransi harus bertanya ke orang yang punya duit, mau gak biaya 3 juta ini. O mau. Konsekuensinya apa, nanti akan dikasih bagus. Ini jaminan.

Nanti dibuatkan kuitansi bahwa dari 5 juta uang dia, sudah dipakai 3 juta. Sisa 2 juta kalau tiga bulan lagi tabrakan lagi dan kena lagi 3 juta, anda punya kewajiban membayar 1 juta tambahan.

Mungkin anda tanya ke saya, lalu apa keuntungannya saya ikut asuransi? Keuntungannya karena anda ditunjukkan bengkel yang bagus dan berkualitas. Asuransi untung dari mana? Dapat diskon dari bengkel karena dapat nasabah. Ini yang boleh secara syar’i. Gak ada masalah. Tidak ada kezaliman, tidak ada manipulasi, tidak ada gharar, tidak ada merugikan salah satu pihak. Ini yang boleh, wallahu a’lam.

Bagaimana seandainya sudah terlanjur diwajibkan? Misalnya KPR, karena sudah terlanjur ikut KPR dan diwajibkan ikut asuransi? Saran saya, wallahu a’lam, kita berlepas diri dari situ. Kalau sudah terlanjur ada riba, maka kalau kita punya kemampuan untuk melunasi, lunasi. Kalau tidak, jalankan yang ada sambil istigfar kepada Allah dan jangan buka pintu baru lagi.  []

 

TANGGAPAN

Setelah mendengarkan dengan cermat sambil menyalinnya ke bentuk tulisan, saya mendapat kesan yang kuat bahwa Ustadz Khalid Basalamah mengeluarkan pendapat tentang asuransi tanpa mempelajari terlebih dahulu seluk-beluk asuransi secara mendalam.

Ustadz Khalid Basalamah adalah seorang alim atau terpelajar di bidang agama Islam. S1-nya dari Universitas Islam Madinah, S2 di Universitas Muslim Indonesia, dan S3 di Universitas Tun Abdul Razzaq Malaysia. Tentu keilmuannya di bidang agama Islam tidak diragukan lagi. (Profil selengkapnya di SINI.)

Tapi ketika beliau berpendapat tentang asuransi tanpa mendalaminya lebih dahulu, saya menganggap pendapatnya tersebut tak beda dengan ucapan orang awam.

Memang materi yang saya tanggapi ini hanya berupa ceramah singkat, dan sebetulnya lebih merupakan jawaban spontan atas pertanyaan seorang jemaah. Jika ada pendapat sang Ustadz tentang asuransi dalam bentuk artikel atau buku, yang tentu telah melalui pemikiran dan penelaahan, itu lebih baik lagi.

Berikut adalah poin-poin penting yang coba saya tanggapi dari ceramah Ustadz Khalid Basalamah.

 

Alasan Diharamkannya Asuransi

Mengapa asuransi diharamkan? Menurut Ustadz Khalid seperti dalam ceramah di atas, alasannya adalah:

  1. Dalam Islam tidak ada yang namanya asuransi.
  2. Asuransi itu tidak dibutuhkan.
  3. Tidak boleh mengiming-imingkan sesuatu yang belum terjadi.
  4. Asuransi itu gharar, manipulasi, kezaliman.
  5. Asuransi itu riba.

Tanggapan saya:

  1. Dalam Islam memang tidak ada yang namanya asuransi, tapi tidak ada belum tentu haram. Asuransi itu perihal muamalah, di mana kaidah fikih mualamah adalah boleh selama tidak ada larangannya.
  2. Asuransi tidak dibutuhkan, memang betul, tapi hanya bagi orang yang sehat dan baik-baik saja. Jika sakit, kecelakaan, tabrakan, atau meninggal, siapa pun pasti butuh uang. Dan asuransi menyediakan uang dalam waktu singkat. Sayangnya, asuransi hanya bisa diambil di waktu sehat.
  3. Asuransi dikatakan mengiming-imingkan sesuatu yang belum terjadi. Ini pemahaman yang dangkal dan tidak sesuai dengan apa yang dipahami para pakar asuransi itu sendiri. Hakikat asuransi adalah proteksi keuangan dari risiko yang mungkin terjadi. Risikonya memang belum tentu terjadi, tapi jika terjadi pasti butuh uang, dan asuransi menyediakan uang tersebut.
  4. Asuransi mengandung gharar, manipulasi, kezaliman. Asuransi konvensional mungkin masih mengandung gharar dan semacamnya, tapi unsur ini sudah dihapuskan dalam asuransi syariah.
  5. Asuransi mengandung riba. Asuransi konvensional memang masih mengandung riba, tapi unsur ini sudah dihapuskan dalam asuransi syariah. Tentang asuransi syariah ini sama sekali tidak disinggung oleh Ustadz Khalid Basalamah dalam ceramahnya, entah beliau sudah mempelajarinya atau belum.

 

Asuransi Tidak Dibutuhkan

Salah satu sebab, dan mungkin sebab utama, mengapa masih ada kalangan agamawan yang menolak asuransi, ialah karena mereka menganggap asuransi itu tidak dibutuhkan. Seandainya mereka menyadari bahwa asuransi itu kebutuhan, tentu bukan saja mereka tidak akan mengharamkan, tapi akan mengupayakan berbagai dalil dan argumen untuk membolehkannya. Sebab Tuhan tidak mungkin mengharamkan sesuatu yang merupakan kebutuhan manusia. Kebutuhan itu wajib dipenuhi; jika tidak, manusia akan mengalami suatu kekurangan.

Pertanyaannya, mengapa mereka tidak merasakan kebutuhan akan adanya asuransi? Kemungkinan besar karena mereka belum tahu, belum kenal, belum paham, dan belum mempelajari tentang asuransi. Sebab, di sisi lain, para ulama yang telah mengenal dan mempelajari asuransi, mereka setuju bahwa asuransi itu kebutuhan. Kalaupun asuransi yang beredar sekarang masih belum sesuai syariat, Allah pasti telah menyediakan penggantinya yang lebih baik. Oleh karena itu, mereka mengupayakan suatu ijtihad untuk mengadakan bentuk asuransi yang sesuai ketentuan syariat, seperti yang dilakukan para ulama di Dewan Syariah Nasional MUI. Hasilnya adalah asuransi syariah.

Bagaimana memahami bahwa asuransi itu kebutuhan?

Sesekali cobalah jalan-jalan ke rumah sakit. Di sana banyak orang sakit. Di antara mereka pasti ada pasien yang pakai asuransi dan ada yang pakai uang sendiri. Masuklah ke bagian orang-orang yang dirawat inap atau pasien yang sakit berat. Tanyakan kepada si sakit maupun keluarganya, masalah apa yang paling banyak mereka bicarakan pada hari-hari itu: perihnya rasa sakit atau besarnya biaya sakit? Jawabannya kemungkinan besar akan berbeda antara pasien yang memiliki asuransi kesehatan dan yang tidak.

Gharar dalam Asuransi

Dalam contoh yang dikemukakan tentang premi 100 ribu dan manfaat rumah sakit 5 juta, Ustadz Khalid Basalamah mempertanyakan, “Bagaimana caranya kita mempertemukan premi 100 ribu dengan pembayaran rumah sakit yang 5 juta? Gharar ini.”

Jika kita bicara asuransi konvensional, para ulama menganggap sumber dana pembayaran klaim yang 5 juta itu memang gharar alias tidak jelas. Tentu saja kita semua tahu uang klaim 5 juta itu dari rekening perusahaan asuransi, tapi pertanyaannya: dari mana perusahaan asuransi bisa membayar 5 juta kepada seorang nasabah, padahal nasabah tersebut baru membayar 100 ribu?

Nah, dalam asuransi syariah, persoalan gharar ini terpecahkan dengan sendirinya. Di asuransi syariah pun sama, misalnya premi 100 ribu setahun, bisa memperoleh manfaat pembayaran rumah sakit 5 juta. Pertanyaannya, dari mana uang 5 juta itu? Tidak lain ialah dari para nasabah sendiri. Premi para nasabah dikumpulkan dalam rekening bersama yang disebut rekening dana tabarru. Tujuan dari dana bersama ini adalah untuk menolong para peserta jika di antara mereka ada yang mengalami musibah. Rekening ini milik para peserta, sedangkan perusahaan asuransi hanya sebagai pengelola yang menerima upah atau uang jasa.

 

Riba dalam Asuransi

Satu hal yang disinggung Ustadz Khalid Basalamah adalah tentang riba. Premi 100 ribu, mendapat pembayaran klaim 5 juta. Itu riba karena ada kelebihannya.

Jika kita bicara asuransi konvensional, para ulama setuju bahwa kelebihan tersebut memang riba. Tapi dalam konsep asuransi syariah, riba sudah dihilangkan. Bagaimana caranya? Melalui akad hibah (tabarru) atau tolong-menolong (ta’awun). Setiap peserta yang menyetor premi, dia sudah mengikhlaskan dananya untuk menolong para peserta lain. Jika dia tidak melakukan klaim, berarti seluruh premi yang masuk ke dana tabarru sudah dihibahkan. Jika dia melakukan klaim dan jumlahnya lebih besar dari yang dia setorkan, berarti saat itu dia tengah menerima pertolongan dari para peserta lain, yang juga melakukan akad yang sama seperti dirinya.

Dalam akad hibah, kelebihan yang kita terima bukanlah riba. Sebagai contoh, jika kita mengadakan reuni dengan teman-teman sekolah kita, dan untuk konsumsinya memakai sistem potluck (setiap orang membawa makanan sendiri-sendiri, tapi nanti seluruh makanan dikumpulkan untuk dimakan bersama-sama), dalam contoh ini pastilah ada peserta yang memakan makanan lebih banyak daripada yang dia bawa, dan sebaliknya pasti ada peserta yang memakan makanan kurang daripada yang dia bawa. Kelebihan ataupun kekurangan dalam contoh ini bukanlah riba, karena setiap peserta telah mengikhlaskan makanan yang dibawanya untuk dimakan para peserta reuni yang lain.

Dengan kata lain, akad hibah menghapus riba pada transaksi pertukaran uang ataupun barang.

 

Survei Lapangan 75% Nasabah Tidak Klaim Asuransi

Ustadz Khalid Basalamah menyebut bahwa menurut survei lapangan, dari sekian orang yang memiliki asuransi, yang tidak memakai asuransinya di atas 75%. Entah ini survei dilakukan oleh sang Ustadz sendiri atau beliau kutip entah dari sumber apa, tidak disebutkan. Saya tidak akan menanggapi fakta yang belum jelas.

 

Asuransi Menargetkan Orang Meninggal di Umur 75 Tahun

Ustadz Khalid Basalamah mengatakan bahwa jika seseorang masuk asuransi jiwa di usia 25 tahun, target asuransi masih 50 tahun lagi baru orang itu akan meninggal. Artinya, asuransi menargetkan para nasabahnya meninggal di usia 75 tahun, sedangkan orang yang meninggal di bawah itu jarang.

Saya hanya bisa berkata bahwa ini pernyataan yang janggal dan aneh sekali, dan tidak dikenal di buku-buku teks tentang asuransi.

Tentang kapan waktu kematian para nasabahnya, pihak asuransi sama sekali tidak pernah menargetkan atau mengira-ngira. Dalam menetapkan premi, aktuaris berpatokan pada tabel mortalita atau statistik kematian di suatu wilayah.

Lagi pula yang namanya kematian, tidak ada siapa pun yang bisa memperkirakan atau menargetkan. Entah dari mana sang Ustadz menyebut angka 75 tahun. Boleh jadi itu usia harapan hidup, tapi pada kenyataannya orang bisa meninggal di usia berapa saja tanpa pandang tua-muda.

 

Menabung Bisa Menggantikan Asuransi

Mengutip kata-kata sang Ustadz, “Boleh antum nabung, cadangan nanti kalau saya sakit akan ada, itu lebih baik. Karena jelas tidak ada gharar, tabungan antum sendiri. Antum butuh antum pake. Selesai.”

Ini juga pendapat yang awam sekali. Anggaplah kita menabung secara rutin dengan tujuan untuk antisipasi jika sakit. Yang menjadi pertanyaan:

  1. Tahukah kita kapan sakit?
  2. Tahukah kita jika sakit akan kena sakit apa?
  3. Tahukah kita jika kena sakit biayanya berapa?
  4. Bagaimana jika kita sakit saat tabungan kita belum mencukupi?

Orang yang rendah hati akan menjawab pertanyaan 1 sd 3 dengan jawaban “tidak”. Dan untuk pertanyaan nomor 4, mereka berikhtiar melalui asuransi.

 

Penyalahgunaan Asuransi

 

Seperti banyak hal lainnya, asuransi pun bisa disalahgunakan. Ustadz Khalid Basalamah mencontohkan, katanya, “Banyak terjadi kasus di lapangan, orang sengaja menghilangkan mobilnya. Parkir sembarangan, sengaja gak dikunci hilang, lalu tuntut asuransi.”

Tanggapan saya: yang seperti ini dalam teori asuransi pun dilarang. Jika ketahuan ada klaim yang direkayasa, pihak perusahaan asuransi boleh tidak membayar klaim.

Jadi bukan hanya ajaran Islam yang melarang penyalahgunaan, manipulasi, atau rekayasa untuk tujuan yang tidak benar. Konsep asuransi itu sendiri pun melarangnya.

Contoh lain yang pernah saya baca (di SINI), di negeri Arab Saudi sana banyak orang yang asal-asalan dalam berkendaraan karena kalaupun nabrak telah ada asuransinya. Saya katakan, baiklah ini dianggap efek negatif dari asuransi. Tapi sebetulnya jika orang ikut asuransi secara benar, justru dia akan lebih hati-hati dan lebih patuh pada aturan berlalu lintas. Mengapa? Karena orang yang mengalami kecelakaan dalam keadaan melanggar lalu lintas (contoh: menerobos lampu merah, melawan arus, tidak pakai helm, bahkan tidak membawa SIM), klaim asuransinya bisa tidak dibayar.

Contoh Asuransi Yang Dibolehkan menurut Ustadz Khalid Basalamah

Seperti dicontohkan dalam ceramah di atas, misalnya asuransi mobil dengan premi 5 juta setahun. Ketika terjadi kerusakan mobil, maka biaya yang diganti pihak asuransi adalah maksimal 5 juta juga. Apa keuntungan bagi nasabah? Ditunjukkan bengkel yang bagus. Apa keuntungan bagi asuransi? Mendapat diskon dari bengkel.

Ini contoh yang sangat lucu dan menunjukkan pemahaman yang dangkal tentang asuransi.

Kalau seperti itu, apa gunanya kita ikut asuransi? Lebih baik uangnya kita simpan sendiri, dan bengkel yang bagus bisa kita cari sendiri.

 

Demikian tanggapan saya. Mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung sang Ustadz ataupun pengikutnya.

Poin pokok saya adalah: jika hendak berpendapat tentang sesuatu, pelajarilah sesuatu itu terlebih dahulu. Semoga kita semua senantiasa mendapat petunjuk dari Allah. Amin. []

 

Bahan bacaan tentang hukum asuransi dan asuransi syariah:

 

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Syariah, Uncategorized dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

39 Balasan ke Tanggapan terhadap Pendapat Ustadz Khalid Basalamah tentang Hukum Asuransi dalam Islam

  1. desoel berkata:

    Mencerahkan. Akan lebih mencerahkan lagi kalau ada tanggapan lagi dari Ust. Khalid.

    Disukai oleh 1 orang

  2. Pakar asuransi berkata:

    Hadeuhhhh,,, banyak sekali kesalahan orang bodoh tanpa ilmu yg sok jd alim ini. Sok bsa berfatwa. Belum lagi masalah tsunami aceh yg menunjukan kebodohanya. Entah survei drimna dia bilang kmi rakyat aceh memiliki dosa merata karna makan ganja semuanya. Padahal hanya segelintir orang tpi dia berani berpendapat itu penyebab tsunami. Trus, kli ini ga ngerti asuransi malah sembarang bicara

    Disukai oleh 1 orang

  3. haidedi berkata:

    Satu poin yang tiba-tiba mengganjal dalam hati saya, pada tulisan ini ada penggalan paragraf yang mengatakan “Melalui akad hibah (tabarru) atau tolong-menolong (ta’awun). Setiap peserta yang menyetor premi, dia sudah mengikhlaskan dananya untuk menolong para peserta lain. Jika dia tidak melakukan klaim, berarti seluruh premi yang masuk ke dana tabarru sudah dihibahkan.”

    Apakah dengan IKHLAS, sesuatu yang haram bisa menjadi halal? Terima kasih.

    Disukai oleh 1 orang

    • Asep Sopyan berkata:

      Salam, pak Dedi. Terima kasih atas komentarnya. Ikhlas tidak mengubah yang haram menjadi halal. Yang dimaksud pada artikel ini, niat sedekah bisa mengubah riba menjadi bukan riba, walaupun di sana ada pertukaran yang tidak seimbang. Contoh pada acara makan-makan dengan sistem potluck, dan akad asuransi syariah bisa dianalogikan seperti itu. Demikian.

      Suka

  4. nikoputra berkata:

    Wahai saudaraku, semoga allah merahmatimu, ketahuilah kritik, masukan dan saran memang baik tapi tolonglah dilakukan dengan cara yang baik pula, tidak dengan cara mengumbar aib, menurut saya akan lebih bijaksana jika anda langsung mengkonfirmasi dengan ustad tersebut face to face sehingga tidak dengan cara seperti ini yang bisa saja menimbulkan fitnah dan hujjah yang buruk, wahai saudaraku, ketahuilah bahwa beliau seorang alim/ulama yang perlu kita hormati, jika memang ceramah beliau menyinggung profesi anda atau bahkan melukai perasaan anda maka akan lebih baik dilakukan dengan cara yang bijaksana. Semoga ALLAH memberikan HidayahNya pada kita semua. AMIN

    Suka

    • Asep Sopyan berkata:

      Salam, pak Niko, terima kasih atas masukannya. Saya menganggap pembahasan materi ini sebagai diskusi ilmiah dan diperlukan pula utk diketahui masyarakat umum, bukan soal pribadi terkait profesi saya. Saya telah menjaga agar bahasa yg saya gunakan masih dalam kategori santun, tidak mengandung hujatan. Jika ada yg keberatan dengan kritik yg saya sampaikan, silakan membuat artikel atau ceramah tanggapan. Terima kasih.

      Disukai oleh 1 orang

  5. Nuriska Fahmiany berkata:

    Assalamualaikum, Kang Asep saya izin di share di blog saya ya, Insya Allah sumber asli nya di cantumkan

    Disukai oleh 1 orang

    • Asep Sopyan berkata:

      Waalaikumussalam. Silakan bu Riska. Terima kasih atas kunjungannya.

      Suka

      • maily motor berkata:

        Untuk bahan renungan…..

        COPAS

        dua sisi kehidupan
        Sunday, March 1, 2009

        IKUT ASURANSI ALLAH

        Apa bedanya asuransi manusia dengan asuransi Allah?

        Dengan membayar jumlah tertentu untuk premi asuransi, maka perusahaan asuransi manusia akan meng-cover biaya recovery, pengobatan dan penggantian jika terjadi musibah pada klausul yang diasuransikan. Misalnya: jika bayar premi asuransi kesehatan Rp 200.000,-/bulan (Rp 2.400.000,-/tahun), maka saat kita sakit akan ter-cover biaya pengobatannya sampai maksimal Rp 15.000.000,- Jika tidak sakit ya uang preminya habis (jadi haknya perusahaan asuransi), atau jika sakitnya butuh biaya lebih ya nambahin sendiri.

        Yang saya maksudkan sebagai asuransi Allah adalah dengan amalan zakat dan sedekah. Bedanya adalah jika asuransi manusia mengganti setelah musibah, asuransi Allah ini manfaatnya jauh lebih banyak:
        Mencegah datangnya musibah
        Menyembuhkan penyakit
        Membuka pintu rejeki
        Memperpanjang umur
        Masih ditambah faktor kali 10, 700 bahkan tak terhingga tergantung kasih sayang Allah dan amal kebaikan kita lainnya. Jika misal sedekah kita Rp 2.400.000,- per tahun maka benefit-nya bisa sampai Rp 24.000.000,- ditambah terjaga keselamatan kita di dunia dan akhirat.

        Banyak orang berbondong-bondong ikut asuransi karena khawatir masa depannya, anak-anaknya dan hartanya sehingga memperkaya perusahaan asuransi yang sekarang malah ruwet terlilit krisis moneter dunia. Lihat apa yang terjadi pada perusahaan asuransi terbesar di dunia, AIG yang tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dan malah butuh bantuan pemerintah Amerika Serikat.

        Banyak orang mau membayar mahal semata-mata demi keselamatan duniawi. Banyak orang yang tak ragu-ragu mengeluarkan jutaan bahkan ratusan juta rupiah untuk melindungi dirinya sendiri sambil melupakan bahwa di sekitarnya banyak sesamanya yang jangankan melindungi dirinya sampai setahun ke depan, buat makan besok saja masih belum terpikirkan.

        Cobalah pertimbangkan asuransi Allah, saya menyediakan diri sebagai salesman-nya dengan senang hati: fee dari jualan saya tentang asuransi Allah ini tak usah Anda bayarkan ke saya, karena Allah yang akan membayar saya.

        Bayarnya asuransinya pun bukan ke saya tapi langsung ke bank-nya Allah. Ke saudara-saudara kita yang kekurangan, anak-anak yatim, korban bencana, korban perang, silakan pilih sendiri yang sesuai hati dan keinginan. Tak perlu melapor ke saya atau repot bikin kontrak segala macam, karena Allah tidak pernah tidur dan malaikat-Nya tak berhenti mencatat.

        Insya Allah dengan berbekal keimanan yang kuat, musibah akan jauh, rejeki akan deras mengalir jika Anda istiqomah mengikuti asuransi Allah. Bersama Allah, tak ada perniagaan yang rugi. Pasti menguntungkan, dunia dan akhirat.

        Ini bukan sekedar janji saya – salesman yang baru belajar – tapi janji Allah dan Rasul-Nya. Ini saatnya Anda memikirkan ulang apakah asuransi yang selama ini Anda bayarkan mampu melindungi semua musibah yang mungkin terjadi saat perusahaan asuransi itu sendiri belum tentu mampu melindungi dirinya sendiri saat musibah terjadi.

        Jika belum pernah berfikir tentang hal ini, saran saya cobalah. Mantapkan hati, ucapkan bismillah. Kabari saya jika tiba-tiba ada keajaiban dan rejeki dari arah tak disangka-sangka mendatangi Anda. Saya tidak akan minta bagian, tapi jika Anda ingin berbagi: berbagilah ke Allah.

        Sang pemilik alam semesta ini adalah satu-satunya yang paling mampu melindungi Anda, keluarga Anda, anak-anak Anda dan harta Anda. Bukan perusahaan asuransi manusia. Atau yang semacamnya.

        Berikut saya kutipkan cerita yang bisa menjelaskan Asuransi Allah dengan lebih baik:

        Ada dua saudagar, salah satunya berasal dari Kuwait dan satunya lagi berasal dari Saudi Arabia. Mereka adalah dua sahabat karib yang dipersatukan oleh satu agama: Islam. Mereka bersepakat untuk melakukan afiliasi dalam usaha bisnis yang bisa mempererat tali persaudaraan dan mengokohkan bangunannya. Allah telah membimbing mereka dalam bisnis yang legal, dan keduanya menjadi teladan yang baik bagi Ukhuwah Islamiyah yang tulus dan sejati. Bisnis mereka pun maju pesat dan menjadi besar. Banyak sekali proyek yang mereka garap, dan atas karunia Allah Ta’ala proyek-proyek itu meraup keuntungan yang sangat banyak.

        Pada suatu hari, keduanya duduk berbincang-bincang mengenai berbagai hal diantara mereka. Saudagar yang berkebangsaan Kuwait berkata kepada rekannya, “Kenapa kita tidak mengasuransikan bisnis kita ini?”

        Rekannya itupun menimpali ucapannya, “Buat apa kita mengasuransikan bisnis kita?”

        Dia berkata “Kebanyakan komoditi kita datang melalui jalur laut dan tentu rentan terhadap insiden. Seandainya saja terjadi – semoga saja tidak – sesuatu yang tidak diinginkan terhadap komoditi kita, maka kita tidak akan mengalami kerugian apa pun, dan perusahaan asuransi akan mengganti semua biayanya. Lalu apa pendapatmu?”

        Rekannya berkata kepadanya, “Tidak tahukah kamu bahwa kita sudah mengasuransikan seluruh komoditi kita.”

        Dia bertanya, “Kepada siapa?”

        “Kepada Allah Ta’ala” jawab rekannya.

        Dia berkata, “Sebaik-baik Dzat yang dipasrahi. Akan tetapi sikap kehati-hatian itu harus”.

        Rekannya kembali berkata, “Bukankah kita sudah mengeluarkan zakat bisnis kita?”

        Dia menjawab, “Benar.”

        “Kalau begitu, janganlah kamu takut pada apa pun. Ini merupakan asuransi terhadap komoditi kita yang paling aman. Bertawakallah kepada Allah dan jangan panik”. Ujar rekannya kepadanya.

        Dia pun berucap, “Aku beriman kepada Allah dan bertawakkal kepadaNya.”

        Hari-hari berlalu sedang bisnis mereka semakin maju dan berkembang. Suatu hari, salah satu kapal kargo mengangkut banyak sekali barang komoditas. Di antaranya barang dagangan kedua saudagar ini. Sebelum sampai ke pelabuhan, kapal itu mengalami kecelakaan dan akibatnya kapal pun karam.

        Seseorang memberi tahu dua saudagar itu, dan seketika mereka pun tergopoh-gopoh menuju pelabuhan. Di sana, keduanya berdiri mengamati aktifitas penyelamatan. Seorang dari mereka tetap tenang dan tak gundah hatinya, sedang yang lainnya terlihat sedikit panik dan gusar.

        Rekannya berkata kepadanya, “Kamu jangan panik, sesungguhnya Allah bersama kita.”

        Setelah tuntas semua prosesi penyelamatan. Apa yang terjadi? Sungguh amat mencengangkan. Hampir seluruh barang komoditi tenggelam dan rusak. Kecuali barang dagangan kedua rekan bisnis ini. Barang dagangan mereka bisa dikeluarkan dari kapal dalam kondisi baik, tak tersentuh apa pun.

        Rekannya berujar kepadanya, “bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa barang dagangan kita dijamin Dzat yang tak akan menyia-nyiakan semua titipan dan amanat?”.

        Dia berkata, “Kamu benar, wahai sobatku”.

        “Demi Allah, kepercayaanku pada Allah tidak pernah pudar, dan aku pun tidak pernah merasa cemas dan panik. Aku percaya sepenuhnya bahwa Allah Ta’ala akan menyelamatkan barang dagangan kita. Hal itu karena kita rajin mengeluarkan zakat dengan penuh kerelaan dan keimanan, dan ini merupakan jaminan terbesar dan asuransi paling kuat.” Ujar rekannya kepadanya.

        Dia pun berkata, “Dan aku juga demikian, meski aku merasa sedikit cemas”.

        Akan tetapi, bagaimana hal itu bisa terjadi? Dan bagaimana seluruh komoditi tenggelam kecuali komoditi kedua saudagar ini?

        Kejadiannya adalah pada waktu semua barang komoditi diangkut ke atas kapal, maka barang dagangan kedua saudagar ini dikelilingi karung-karung berisi tepung dalam jumlah yang besar. Ketika kapal tenggelam dan air mulai masuk ke dalamnya, maka air itu pun merusak seluruh komoditi yang ada selain komoditi kedua saudagar ini. Air tersebut tidak sampai kepadanya karena terhambat dan terhalang oleh karung-karung yang berisi tepung tadi. Mengingat, pada saat air sampai kepada karung-karung yang berisi tepung itu, maka tepung itu sedikit larut lalu melahap air itu dan dia pun menjadi keras. Tepung itu menjadi seperti tembok yang membentengi komoditi tersebut sehingga -atas izin Allah- air pun tidak sampai menjangkaunya.

        Kedua saudagar ini adalah dua insan yang beriman kepada Allah dengan tulus. Kepercayaannya kepada Allah sangat kuat, takkan pernah goyah selamanya. Keduanya senantiasa menunaikan hak Allah atas diri mereka dengan mengeluarkan zakat. Hal itu merupakan asuransi yang paling utama dan paling kuat. Maka, Allah pun melindungi harta mereka.

        Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, yang artinya, : “Bentengilah harta kalian dengan zakat, obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, dan hadapilah cobaan dengan do’a.” (HR. Al Baihaqi dan Thabrani, dishahihkan Syaikh Al Albani).

        Sumber: Serial Kisah Teladan kumpulan Kisah-Kisah Nyata, karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Qahthani. Cet. Darulhaq

        Cerita ini dikutip dari www. alsofwah.or.id
        Image pinjem dari http://www.rozhlas.sk/inetportal/rsi/core.php?page=showSprava&id=8877&lang=2
        M. Arief Budiman di Sunday, March 01, 2009
        Share

        6 comments:

        andika12:35 AM
        hahahahaha… aku seneng tulisan iki Rief!

        Reply

        masje12:21 AM
        subbaALLOH….
        luar biasa…
        ayo ikut Asuransi ALLOH..

        Reply

        Masje12:22 AM
        subbanaALLOH….
        luar biasa…
        ayo ikut Asuransi ALLOH..

        Reply

        Sastra8:09 PM
        Wah, asyik nich asuransi ini. Gratisss kan ndaftarnya

        Reply

        Anonymous3:50 AM
        insya Alloh.. 🙂

        Reply

        psykofaktory3:51 AM
        insya Alloh 🙂

        Reply

        Load more…
        Link ke posting ini
        Create a Link



        Home
        View web version

        Powered by Blogger.

        Disukai oleh 1 orang

  6. obat moral berkata:

    umat Islam sangat patuh akan perintah الله، dan takut dari hukum الله…. saudaraku… tidak boleh menafsirkan takdir… jangan takut miskin, jangan takut mati…

    Suka

  7. Ping balik: Asuransi Syariah Bukan Hanya Tidak Haram, Tapi Juga Baik dan Mulia | Asuransi Jiwa dan Kesehatan Syariah

  8. jalmon berkata:

    konsepnya sama dengan yang konvensional ( bukan syariah ), cuman ganti istilah. Misal kalau khamr atau minuman keras namanya di ganti atau istilahnya di ganti ya sama saja. dengan digantinya istilah terus jadi Halal.

    Suka

  9. illank86 berkata:

    Kalau saya pribadi lebih menuruti ulama..

    Mengenai tulisan anda, saya akui cukup menarik, tapi ada beberapa hal dalam tulisan anda yang menarik perhatian saya.

    1. Mengenai gharar atau ketidak jelasan, anda mengatakan bahwa asuransi syariah hasil dari dana yang terkumpul dan digunakan untuk membiayai orang yang mengalami musibah, tapi anda tidak menjawab masalah gharar atau ketidak jelasan waktu kapan anda sakit, atau mengalami musibah, hal itu juga termasuk gharar yang terjadi dalam akad, malah anda sendiri secara tidak sadar menyatakan bahwa memang anda usur gharar dalam akad asuransi, contohnya pada poin menabung bisa menggantikan asuransi, anda bertanya “tahukah kapan anda sakit?” Dan tidak bisa dipungkiri bahwa iming2 yang dijual perusahaan asuransi adalah kata “jika” atau “kalau”, contoh, jika anda sakit, kalau anda kecelakaan dsb. Hal ini menunjukkan ketidak jelasan waktu pembayaran.

    2. Ta’awun atau tolong menolong, ada hal yg sangat menjadi perhatian saya, tolong menolong sangat dianjurkan, namun yang menjadi masalah, jika sesorang yang ikut asuransi kemudian mengalami kebangkrutan dan tidak bisa membayar premi, otomatis dia keluar dari ke anggotaan, dan jika polisnya batal, otomatis dia tidak dapat jaminan jika dia mengalami musibah, dimanakah letak tolong menolongnya dan dikemanakan kah dana hibah yang sudah disetorkan? seharusnya jika seseorang tidak mampu membayar premi lagi dia tetap mendapat pertolongan. Jangankan kena musibah, kita bangkrut aja perusahaan asuransi mana mau tau… apakah tolong menolong disaat ada duiit aja?, kasarnya sih begitu… hehehe.

    3. Mengenai 75%, saya tidak menanggapi mengenai datanya darimana, akan tetapi secara logika orang awam, perusahaan asuransi juga mencari untung, hal ini sudah pasti, jadi secara otomatis, jika orang yang sakit lebih banyak dari orang sehat, maka bisa dipastilan perusahaan asuransi rugi, hal ini yang dijadikan patokan oleh perusahaan asuransi, bahwa orang2 akan menjaga baik2 kesehatannya sehingga probabilitas orang sehat akan lebih banyak. Contoh gampang BPJS, cuman bayar 80rb dapet fasilitas kesehatan, apa perusahaan BPJS rugi??? Anda bisa menjawab sendiri, maka perusahaan asuransi menggunakan marketing “psikologi” ketakutan akan masa depan yang gharar atau ketidak jelasan.

    4. Menanggapi pernyataan “Seandainya mereka tahu asuransi sebuah kebutuhan, mereka akan mengupayakan dalil”, ulama yang taat tidak mencari pembenaran, tetapi mencari kebenaran, kami dengar dan kami taat. Saya sebagai manusia jika melakukan suatu perbuatan yg bertentangan dengan akidah dan agama, akan berusaha mencari pembenaran dengan dalil dalil, itulah sifat manusia, akan sulit menerima kebenaran. Karena lebih memperturutkan hawa nafsu.

    5. Menanggapi mengenai poin pokok anda “Poin pokok saya adalah: jika hendak berpendapat tentang sesuatu, pelajarilah sesuatu itu terlebih dahulu.”, mungkin sebaiknya kita juga mempertanyakan hal ini kepada diri sendiri apakah kita sudah mempelajari agama dengan baik. Para ulama membahas dari sisi fiqih muamalah yang sudah tentu menjadi mata kuliah mereka, karena “asuransi” belum ada dijaman nabi, otomatis mereka melihat dari sisi fiqih muamalah..

    Tanggapan saya, hanya sebagai bahan diskusi bukan menghakimi.

    Semoga diterima 🙂

    Salam

    Sekian dari saya, mantan agen asuransii dan pengguna asuransi

    Suka

    • Asep Sopyan berkata:

      Terima kasih atas tanggapannya. Saya juga ikut ulama, tapi ulama pun macam-macam pendapatnya, ada yang berpendapat asuransi haram, ada yang berpendapat asuransi halal. Saya ikut pendapat yg mengatakan asuransi halal, dalam hal ini asuransi syariah.
      1. Gharar. Waktu penyerahan manfaat asuransi tercakup dalam periode kontrak, misalnya satu tahun, atau dari tanggal sekian sampai tanggal sekian. Misalnya dalam asuransi kesehatan rawat inap dengan kontrak satu tahun (contoh produk di Allianz: Allisya Care). Jika seorang peserta sakit dalam periode kontrak, tanggal berapa pun itu, dia akan mendapat bantuan pembayaran biaya rumah sakit. Jadi, ini jelas dan tidak gharar.
      2. Prinsip taawuni dalam asuransi syariah berarti jika anda ingin ditolong, anda harus menolong. Bukan ingin ditolong saja tapi tidak mau atau tidak mampu menolong. Jika seseorang tidak membayar premi karena satu dan lain hal, lalu polisnya batal, berarti dia dalam keadaan tidak mau atau tidak mampu menolong. Maka wajar jika dia pun tidak berhak lagi mendapatkan pertolongan. Mengenai dana hibah yang telah disetorkan, itu sudah dipakai utk menolong peserta lain yg kena musibah, dan insya Allah dia mendapat pahala jika ikhlas.
      Selanjutnya, jika dia ingin mendapatkan pertolongan dan kondisinya tergolong tidak mampu, dia bisa mengajukan permohonan bantuan dari lembaga lain semisal lembaga zakat infak sedekah atau melalui program sosial dari pemerintah.
      3. Apa pun istilahnya, silakan saja. Yang pasti, saya yakin agama Islam memerintahkan kita untuk bersiap-siap menghadapi masa depan yang penuh ketidakjelasan.
      4. Ulama-ulama di MUI tahu bahwa asuransi itu kebutuhan yang tidak bisa diganti dengan cara lain. Maka keluarlah fatwa tentang asuransi syariah.
      5. Fikih muamalah mestinya berkembang seiring perkembangan cara hidup manusia, dan demikian pula para ulama harus mengembangkan pengetahuannya. Saya tunggu fatwa Ustadz Khalid ttg asuransi setelah beliau mempelajari asuransi dari berbagai segi.

      Demikian.

      Suka

      • illank86 berkata:

        Maksud saya adalah, ketika setelah sekian tahun seseorang sudah membayarkan premi, kemudian dipertengahan jalan orang tersebut tidak mampu, dan polis batal, otomatis tidak mendapat jaminan jika dia terkena musibah… berarti ini zalim terhadap orang yg sudah menyetor tapi kemudian tidak mampu…

        Suka

        • Asep Sopyan berkata:

          Zalim atau tidak ini hanya soal persepsi. Yang jelas, di kontrak awal mestinya nasabah sudah tahu bahwa jika di tengah jalan dia tidak membayar premi lagi, polisnya bisa batal dan dia tidak berhak lagi mendapatkan manfaat asuransi.
          Asuransi itu tolong-menolong. Artinya, jika ingin ditolong, harus menolong. Jika tidak mau atau tidak mampu menolong tapi masih ingin ditolong, tak mengapa. Tapi tempatnya bukan di asuransi.

          Suka

      • prestinov berkata:

        1.Menurut saya istilah tolong – menolong dalam asuransi memang bgitu dipaksakan
        “Asuransi itu tolong-menolong. Artinya, jika ingin ditolong, harus menolong. Jika tidak mau atau tidak mampu menolong tapi masih ingin ditolong, tak mengapa. Tapi tempatnya bukan di asuransi.” >> memang dari awal asuransi bukan tempat tolong menolong. Dan memang bukan seperti itu konsep tolong menolong, kita menolong smua balasan dari Allah, artinya keridloan pihak yang ada dalam kegiatan tolong-menolong itu jelas, dalam tolong menolong tidak ada pemaksaan hubungan timbal balik semacam itu, bagaimana bisa dikatakan tolong menolong kalo konsepnya seperti yang anda maksud? saya hanya ingin mengingatkan sebagai sesama muslim, hidup cuma sekali maka sebaiknya kita berhati-hati bukan? apalagi dengan persoalan uang (nafkah) yang pasti bakal diminta pertanggung jawabannya
        2. Orang tua saya dulu juga bekerja di asuransi dan Alhamdulillah sudah mendapat hidayah dari Allah lewat ilmu yang disampaikan para ustadz dan benar2 meninggalkannya. Setelah meninggalkan asuransi keadaan ekonomi keluarga kami justru jauh lebih baik (walaupun memang butuh proses selama kurang lebih 3 tahun). Yang ingin saya sampaikan lewat pengalaman pribadi saya adalah: Bagaimana jika ternyata banyak orang yang memang tidak ingin terlibat dalam nafkah haram tapi tidak mengerti hukumnya lalu dengan membaca artikel anda mereka bukannya mendapatkan pencerahan tapi justru menjadikan apa yang anda tulis sebagai pembenaran? Bagaimana pertanggung jawaban anda nantinya di hadapan Allah?
        3. Ingat konsep tolong menolong terbaik dalam Islam itu Sodaqoh dimana kita menolong orang lain hanya semata2 karena Allah entah orang lain / makhluk mau menolong kita atau tidak, dan Allah bisa saja membalas perbuatan kita suatu saat terjadi bencana lewat pertolongan orang lain dimana sang penolong tadi juga mencari keridhoaan Allah tanpa peduli akan ditolong apa oleh kita sehingga “hak untuk ditolong” tidak akan pernah dicabut oleh makhluk
        4.Barangsiapa menyeru kepada petunjuk, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa sebagaimana dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa mereka sedikitpun. (HSR. Muslim no:2674, dari Abu Hurairah)
        Sumber hadits : http://muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html
        5.Mohon maaf jika apa yang saya sampaikan kurang berkenan, ini semata2 karena adanya kewajiban amal makruf nahi mungkar dan saya tidak ingin niat baik anda dalam mencoba menjelaskan permasalahan umat justru menjadikan bumerang bagi anda yang dihitung sebagai amal perbuatan buruk yang berantai (diamalkan oleh banyak orang). Masih banyak pekerjaan halal dan ikhtiar-ikhtiar lain yang halal dan jauh lebih baik dari asuransi.

        Suka

        • Asep Sopyan berkata:

          Salam, Pak/Bu Prestinov (namanya terdengar aneh)

          Terima kasih atas tanggapannya.
          1. Asuransi adalah tolong-menolong yang diformalkan dan diikat dengan perjanjian, jadi memang bersifat memaksa. Jika tidak setuju dengan poin-poin perjanjiannya, seseorang bisa membatalkan kontrak sejak awal atau tidak perlu ikut sejak awal. Tidak ada larangan maupun paksaan untuk mengikuti asuransi. Asuransi itu khusus bagi yang mau dan mampu saja serta paham konsekuensinya.
          Sedekah/donasi pun ada yang dipaksakan, contohnya zakat, pajak, iuran lingkungan, iuran keanggotaan dalam organisasi tertentu, bahkan arisan. Arisan ibu-ibu pada awalnya bersifat sukarela (tidak ada paksaan utk ikut arisan), tapi begitu seseorang sudah bergabung dg klub arisan, dia tidak bisa berhenti begitu saja, apalagi jika sudah dapat uangnya.
          Tidak ada larangan dalam hal ini.

          2. Menurut saya dan sesuai dg pendapat para ulama (antara lain di MUI), asuransi syariah tidaklah haram. Nabi pun tidak pernah mengharamkan asuransi, jadi tidak perlu mengharamkan sesuatu yang tidak ada larangannya. Saya yakin saya dapat mempertanggungjawabkan pekerjaan saya di hadapan Allah kelak. Amin.

          3. Saya bersedekah melalui asuransi dan saya juga tetap bersedekah serta berzakat seperti biasa. Melalui asuransi, setiap kali ada yang klaim sakit atau meninggal di Allianz syariah, saya telah ikut menyumbang, dan saya yakin saya dapat pahala.

          4. Saya yakin asuransi bukan hanya tidak haram, tapi juga baik dan mulia. Saya telah menulis satu artikel di sini: https://myallisya.com/2016/12/14/asuransi-syariah-bukan-hanya-tidak-haram-tapi-juga-baik-dan-mulia/. Dg menjadi agen asuransi, justru saya sedang menyeru kepada kebaikan. Dan jika orang-orang mengikuti seruan saya, saya yakin saya mendapat pahala.

          5. Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua. Amin.

          Suka

        • Nana berkata:

          Nabi tidak menharamkan asuransi, trading saham, forex, dll, saya setuju, krn pada jaman Nabi hal ini belum ada, makanya ada Fiqih Muamalah.. yang membahas masalah muamalah bukan dari NAMA akan tetapi dari segi tatacara nya, Penggunaan kata syariah harus betul2 dipertanggung jawabkan, saya tidak mengatakan asuransi syariah haram, namun kebanyakan hanya nama, pada prakteknya belum sesuai

          Pahala itu Allah yang menentukan, kita tidak boleh yakin, kita hanya boleh berharap dan berikhtiar

          Arisan pun sebenarnya tidak dianjurkan dalam agama, krn bisa menjadi hutang

          Jika terjadi perbedaan pendapat ulama dalam hal ini yang menyebabkan terjadinya keraguan, maka sebaiknya ditinggalkan karena itu lebih baik. Analoginya, jika kita ingin makan suatu makanan kemudian kita bertanya, apakah makanan ini mengandung babi atau tidak? Kemudian ada dua orang yang menjawab, orang pertama menjawab iya, yang satu tidak, maka logika orang awam, sebaiknya mencari aman saja. Hindari syubhat..

          Thanks

          Suka

        • Asep Sopyan berkata:

          – Mungkin hukum ttg asuransi syariah belum sempurna dan pada pelaksanaannya masih ada unsur-unsur yg tidak sesuai syariat, tapi saya setuju dengan kaidah “Sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan semua, jangan ditinggalkan semua” (ma la yudraku kulluhu, la yutraku kulluhu).
          – Asuransi itu kebutuhan utk menghindari kondisi darurat. Asuransi itu sesuai dg setidaknya 3 dari 5 maqashid syariah: menjaga jiwa (kesehatan), harta, dan keturunan. Ini yg luput dilihat oleh orang2 yg mengharamkan asuransi. Yang namanya kebutuhan tidak mungkin diharamkan, dan kalaupun asuransi yg ada masih mengandung unsur-unsur yg diharamkan, pastilah Allah menyediakan penggantinya yang sesuai syariat.
          – Berhadapan dg kondisi di zaman modern, segelintir ulama melihatnya sbg ancaman bagi akidah, sehingga pendapat-pendapatnya cenderung mudah mengharamkan tapi tanpa memberikan solusi. Sampai-sampai arisan pun dipersoalkan karena yg dilihat potensi negatifnya saja (bisa menimbulkan utang). Mohon maaf, saya tidak mengikuti ulama semacam itu.
          – Jika ada sesuatu yg meragukan, atau ada dua pendapat yg bertentangan, jika hal tsb relevan dg hidup saya, pertama saya akan mempelajarinya lebih dulu, bukan langsung menjauhinya.

          Wallahu a’lam.

          Suka

      • Tony berkata:

        Haduh pak, udah lewat 40th ya?

        Suka

  10. Abu Nabil berkata:

    Assalamualaikum, kalau anda sudah mempelajari sunnah tentu akan mendapatkan bahwa tidak hanya Ustadz Khalid saja, tapi semua ustadz sunnah akan menyampaikan bahwa asuransi haram, karena memang sudah diharamkan para ulama sejak kemunculan asuransi itu sendiri. Kemudian kaidah yang anda sebut “Sesuatu yang tidak bisa dilaksanakan semua, jangan ditinggalkan semua” itu untuk amal sholeh pak atau amalan yang Allah perintahkan, dalilnya adalah Quran “Bertakwalah pada Allah semampu kalian.” (QS. At Taghabun: 16) dan hadits “Jika kalian diperintah suatu perkara, maka lakukanlah semampu kalian.” (HR. Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337). Contohnya jika kita tidak bisa shalat tahajud setiap hari ya jangan sampai tidak pernah tahajud sama sama sekali. Jadi kaidah tsb tidak bisa diterapkan untuk semua perkara apalagi untuk perkara semacam asuransi ini. Saya juga sependapat dengan para ustadz tentang arisan karena jelas menimbulkan hutang, dan dalam Islam walau hutang tidak diharamkan tapi ada kondisi tertentu yang menyebabkan seorang harus berhutang yaitu hanya dalam keadaan terdesak saja. Karena hutang itu berat di akhiratnya lho pak. Jadi jangan sampai gampang berhutang, karena umur ga ada yang tau. Dan seorang muslim harusnya berada di posisi aman, supaya mudah menghadapi hisab Allah nanti. Pada dasarnya saya paham bila ada pendapat tentang asuransi diharamkan pasti akan ada penolakan dari dalam diri dan mencari-cari bantahannya supaya halal (pastilah kita akan merasa tersenggol apalagi memang dunia kita sudah disitu), tapi coba lagi mendalami sunnah deh. Moga Allah berikan pemahaman dan hidayah untuk kita semua.

    Suka

    • Asep Sopyan berkata:

      Terima kasih komentarnya. Utang memang tidak dianjurkan, tapi tidak diharamkan, jadi tidak perlu berlebihan. Dan arisan bukan hanya soal utang-mengutang, ada nilai lain yg juga baik seperti silaturahim.
      Dan jika terlanjur punya utang, asuransi jiwa adalah solusinya. Ketika orang yg berutang itu meninggal dunia sebelum utangnya lunas, akan cair sejumlah uang dari asuransi yang bisa digunakan oleh ahli waris utk membayar utang.
      Demikian.

      Suka

  11. Komarionov berkata:

    Assalamu’alaikum, maaf mau ikutan nimbrung tapi saya hanya ingin menyorot soal asuransi kesehatan atau asuransi jiwa. Karena saya lihat kita semua sepakat bahwa asuransi konven itu haram, jadi yg masih menjadi perdebatan di sini adalah asuransi syariah, betul?

    Yang saya tangkap dari artikel dan tanggapan ceramah di atas, dikatakan bahwa “Ulama-ulama di MUI tahu bahwa asuransi itu kebutuhan yang tidak bisa diganti dengan cara lain. Maka keluarlah fatwa tentang asuransi syariah.”

    Pertanyaan awam saya, “Apa iya tidak ada cara lain selain asuransi (walaupun syariah) dalam mengantisipasi kebutuhan yang sifatnya mendesak di masa mendatang?” Sejalan dengan Bpk/Ibu Prestinov di atas, saya melihat asuransi syariah (dan juga BPJS) itu asasnya tolong-menolong, tapi NANGGUNG. Bapak Asep Sopyan sendiri yang mengatakan, “Asuransi itu tolong-menolong. Artinya, jika ingin ditolong, harus menolong. Jika tidak mau atau tidak mampu menolong tapi masih ingin ditolong, tak mengapa. Tapi tempatnya bukan di asuransi.”

    Nah, kalau memang kita bisa saling menolong tanpa ada syarat macam-macam, kenapa bukan itu yg diusahakan atau ditonjolkan oleh para ulama? Menurut saya yg masih miskin ilmu ini, ada satu solusi yg bisa menggantikan konsep asuransi dan itu sudah lama dipraktikkan oleh para sahabat Nabi, yaitu BAITUL MAL. Memang lembaga sosial semacam BAZIS atau badan sosial swasta lainnya sudah memiliki konsep ini, walaupun dengan nama yang beragam (ada yg menyebut dompet amal, dompet dhuafa, dsb) tapi saya lihat masih parsial, tidak terpusat, dan belum maksimal dalam menghimpun dana dari masyarakat. Padahal, pernah dikatakan bahwa potensi zakat nasional mencapai ratusan triliun tiap tahunnya.

    Bukti gampangnya saja, kita semua pasti pernah membaca berita seorang pengemis yg tertangkap tangan mengantongi uang ratusan ribu rupiah, hasil mengemis seharian, sampai-sampai mengalahkan penghasilan seorang PNS. Contoh lain adalah pendapatan tukang parkir di suatu tempat yang mencapai puluhan juta tiap bulannya. Itu bukti bahwa sebenarnya dengan menyisihkan sedikit uang untuk orang lain, kita bisa saling menolong jika dananya dikelola dengan benar.

    Nah, bayangkan seandainya potensi ZIS tersebut bisa terealisasi, apalagi jika ditambah dana dari masyarakat yg non muslim, saya yakin asuransi tidak diperlukan lagi. Jadi, dengan niat murni tolong-menolong tanpa syarat yg berbelit-belit, saya yakin persoalan kebutuhan mendesak semacam biaya kesehatan bahkan masalah kemiskinan bisa teratasi. Yang lebih penting, lebih diridhai Allah. Tapi sayangnya sekali lagi, mengapa bukan konsep ini yang ditonjolkan? Kenapa harus asuransi?

    Demikian pendapat saya yg bukan ahli ini, mohon maaf atas segala kekurangan, wassalam.

    Suka

    • Asep Sopyan berkata:

      Terima kasih atas pendapatnya. Langsung saya komentari:
      1. Dana ZIS tidak akan dapat menggantikan fungsi asuransi, bahkan seandainya potensi ZIS tercapai semuanya. Menurut berita di Republika tahun 2016, potensi dana ZIS di Indonesia adalah 217 triliun, tapi yg terkumpul baru 4,2 triliun. (Sumber: http://syariah.bisnis.com/read/20160120/86/511299/potensi-zakat-capai-rp217-triliun-tapi-yang-terk%20umpul-baru-rp42-triliun). Angka 217 triliun bukan angka yang besar, karena dana BPJS kesehatan saja yang mencapai 69 triliun dan dikhususkan utk merawat orang sakit, masih terasa kurang. (Sumber: https://finance.detik.com/moneter/d-3470005/sepanjang-2016-bpjs-kesehatan-bayar-klaim-rp-69-t)
      2. Dana ZIS memiliki peruntukan yang bermacam-macam, tidak mungkin semuanya dipergunakan untuk menolong orang sakit. Jadi, kalaupun ada sebagian dari dana ZIS yg diperuntukkan mengobati orang sakit, jumlahnya pasti sangat sedikit. Dan itu pun tentu hanya orang-orang sakit yg tergolong tidak mampu saja yg berhak menerima, misalnya seperti LKC (Layanan Kesehatan Cuma-cuma) dari Dompet Dhuafa.
      3. Zakat Infak Sedekah memiliki semangat yg berbeda dengan asuransi. ZIS itu sarana distribusi kekayaan dari orang yang mampu (kaya) kepada orang yang lemah secara ekonomi (fakir-miskin). Jadi, penerima manfaat ZIS mestilah orang-orang yg lemah secara ekonomi (mustadh’afin). Akan tidak pantas jika orang-orang mampu masih menerima manfaat ZIS.
      Sedangkan orang kaya pun bukan berarti tidak butuh pertolongan jika kena musibah. Tapi mereka tidak mungkin mengharap bantuan dari dana ZIS. Bantuan sosial dari pemerintah pun jelas bukan utk orang kaya.
      Jadi, utk orang-orang yang mampu, asuransi merupakan solusi utk mengantisipasi risiko dari beberapa musibah tertentu.
      Jadi, keberadaan asuransi itu sangat dibutuhkan dan tidak bisa digantikan oleh cara lain.
      Demikian.

      Suka

  12. Afri berkata:

    Pak Asep. Terima kasih atas penjelasannya. “Tolong menolong” dalam asuransi saya bilang bias. Karena dalam asuransi nasabah harus melewati seleksi yang cukup ketat. Misal dari umur dan riwayat penyakit nasabah. Saya pernah mengajukan polis asuransi dan ditolak karena alasan kesehatan. Kalau memang prinsipnya tolong menolong tentunya siapa pun yang mau jadi anggota harus diterima. Karena tolong menolong itu bersifat sukarela. Akan tetapi disini jelas ada proteksi awal dari pihak asuransi untuk tidak merugi. Ini sudah tidak termasuk tolong menolong.
    Beda halnya dengan BPJS yang menerima apapun jenis penyakit dari nasabah. Tapi ulama tetap mengatakan itu haram. Semoga bapak mendapatkan hidayah dan bisa mencari nafkah dengan cara lain. Salam.
    https://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/30/173687699/ini-alasan-mui-beri-fatwa-haram-bpjs-kesehatan

    Suka

  13. Dhuta Pratama berkata:

    Fatwa ulama’ yang lebih utama, fatwa berdasarkan Al-Quran dan Hadist. Di Islam ada aturan tentang perekonomian syariah, bahkan semenjak Nabi-nabi sebelumnya pun mengharamkan riba. Adapun saya mengingatkan kehidupan dunia penuh cobaan, salah satunya adalah cinta dunia takut mati. Seandainya anda orang yang beruntung dan bisa mendekatkan diri ke Tuhan pasti akan tidak tunggu lama untuk meninggalkan riba’. Pertanyaannya, Sudah siapkah anda di hisab dan mempertanggung jawabkan perintah dan larangan Allah? Tidak mungkin anda berkata iya.. Berfikirlah sekali lagi, dunia hanyalah ujian, kematian adalah gerbang masuk ke alam Akhirat, pilih ujian mana yang bisa membawa untung dunia akhirat. InsyaAllah

    Disukai oleh 1 orang

    • Asep Sopyan berkata:

      Terima kasih atas komentarnya. Saya meyakini asuransi syariah bukanlah riba. Jauh sekali bedanya dg riba.

      Suka

      • rico berkata:

        Lebih baik menghindari hal yg subhat pak…semoga allah selalu memberikan hidayah nya pada kita semua

        Suka

        • Asep Sopyan berkata:

          Bagi saya asuransi sama sekali tidak syubhat, dan asuransi merupakan kebutuhan yg tidak bisa diganti dg cara lain. (Silakan cari cara yg bisa menggantikan fungsi asuransi. Jika mengharamkan pun harus ada solusinya). Apalagi saya makin tenang karena sudah ada fatwa MUI yg membolehkan asuransi syariah.
          Demikian.

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s