Cicilan Asuransi Itu Utang yang Baik

Ternyata, di dunia ini ada utang yang baik, bahkan sangat baik. Lho, memangnya ada utang baik? Bukankah semua utang menjadi beban dan merugikan? Betul. Semua utang menjadi beban dan merugikan. Banyak orang yang hidupnya tidak bahagia, karena sepanjang hari dia diburu debt collector. Tidurnya tak nyenyak dan istirahatnya dipenuhi gelisah. Bahkan, banyak hartawan dunia yang hidupnya berakhir bunuh diri, karena utang.

Dalam buku Financial Revolution in Action, Cara Cepat Melipatgandakan Kekayaan Anda, Tung Dasem Waringin dan Ongky Hojanto (2015) mengisahkan beberapa orang terkaya dan berkuasa di dunia (tahun 1932) berakhir dengan bunuh diri setelah 25 tahun dari masa kejayaannya. Ialah Leon Frazier, seorang presiden Bank of Internasional Settlements, meninggal dengan cara bunuh diri; dan Jesse Livermore, seorang spekulator saham terbesar, juga meninggal dengan cara yang sama. Keduanya bunuh diri karena bangkrut dan dililit utang besar.

Jadi, betullah kiranya, utang itu membawa sengsara dan bukan membawa nikmat. Tapi, tampaknya Tung Dasem Waringin dan Ongky Hojanto tidak sepenuhnya percaya dengan konsep semua utang itu jahat. Keduanya punya cara pandang sendiri dan membuktikan bahwa ada utang yang baik, di samping yang jahat, sebagaimana ada lemak jahat dan lemak baik.

Lalu, apa itu utang baik? Karena yang mempunyai ide dua orang yang saya sebut tadi, maka saya akan mengutip secara utuh apa yang dimaksud utang menurut Tung Dasem Waringin dan Ongky Hojanto.

Menurut keduanya utang baik atau jahat, tergantung pada penggunaan uang dari utang tersebut. Nah, lho, apa maksudnya? Waringin dan Hojanto punya tiga definisi utang, yaitu utang buruk, utang baik, dan utang sangat baik.

Pertama, utang buruk adalah utang yang cicilannya harus dibayar dengan keringat dan darah kita sendiri. Misalnya, mencicil mobil setiap bulan, padahal mobil tersebut tidak digunakan untuk sesuatu yang menguntungkan (produktif).

Kedua, utang baik adalah utang yang cicilannya dibayar oleh keringat dan darah orang lain. Misalnya, mencicil mobil, kemudian mobil tadi disewakan sehingga cicilan kita dibayar oleh penyewa.

Ketiga, utang sangat baik, yaitu saat berutang kita mendapat keuntungan dan cicilannya dibayar oleh orang lain sedangkan kita mendapat keuntungan dari cicilan tersebut. Misalnya, kita membeli rumah seharga Rp 250.000.000 hanya dengan harga Rp 150.000.000 karena yang menjual butuh uang, kemudian kita mengajukan kredit ke bank. Oleh bank rumah tersebut dinilai Rp 250.000.000, jadi kita diberi 70% dari nilai rumah, yakni sebesar Rp 175.000.000.

Setelah dikurangi biaya administrasi, notaris, dll., kita masih memiliki Rp 160.000.000. Kita telah sepakat dengan penjual, uang pembelian ditransfer oleh bank, jadi penjual akan memberikan kelebihan Rp 10.000.000 kepada kita.

Rumah tersebut dijadikan kos-kosan lima kamar yang dapat disewakan sebesar Rp 600.000 per kamar. Uang sewa kamar kita gunakan untuk membayar cicilan bank yang besarnya Rp 2.300.000 per bulan ditambah tagihan air dan listrik sebesar Rp 200.000 per bulan. Itu berarti kita masih memiliki Rp 500.000 per bulan dengan kondisi utang kita dibayar oleh penyewa.

Memang sangat rumit memahami ini, tapi percayalah, itu adalah konsep utang yang sangat baik, setidaknya menurut Tung Dasem Waringin dan Ongky Hojanto.

Ringkasnya, kedua orang hebat di bidang keuangan ini percaya, berutang itu sah-sah saja, asalkan kita bisa masuk ke dalam tingkatan utang yang baik atau sangat baik. Waringin dan Hojanto mengingatkan dengan dua kalimat sederhana: “Utang jahat akan memakan Anda; sedangkan utang baik akan memberi Anda makan.” Ajaib, bukan?!

Mari hentikan perdebatan utang jahat dan utang baik. Meskipun dilarang, saya akan memaksakan diri bicara asuransi dan mengaitkan pembicaraan utang dengan asuransi, hanya karena saya seorang agen asuransi.

Saya mungkin tidak bisa memasukan cicilan premi asuransi ke dalam kategori utang yang mana, dari tiga definisi yang diajukan Waringin dan Hojanto. Tapi saya bisa memastikan, cicilan premi asuransi termasuk utang yang baik atau bisa jadi sangat baik, mengingat manfaatnya yang begitu besar.

Dengan mencicil premi asuransi kita bisa hidup lebih tenang, karena kita punya uang pertanggungan jika sewaktu-waktu musibah berupa sakit atau kecelakaan datang secara mendadak. Uang pertanggungan asuransi untuk sakit kritis dan kecelakaan bisa cukup besar dan sangat membantu di saat musibah sakit kritis datang. Dengan uang ini, seseorang bisa menghindari menjual aset yang dimilikinya dan mampu membayar biaya pengobatan sekaligus membiayai kebutuhan keluarga.

Dengan mencicil premi asuransi kita sudah menyiapkan uang warisan sejak dini untuk keluarga, jika sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Hampir semua orang tahu menyiapkan warisan merupakan kewajiban terutama bagi kepala keluarga, karena dia tidak boleh meninggalkan keturunannya lemah, khususnya secara keuangan. (Baca juga: Ketika Semua Orang Menyukai Utang)

Dengan mencicil premi asuransi kita juga sedang menyiapkan dana pensiun, karena di produk unitlink sebagian premi asuransi tersebut disisihkan untuk dana investasi yang diinvestasikan di saham, surat berharga, mata uang asing, dan instrumen pasar modal lainnya. Dalam jangka panjang, tentu saja sangat menguntungkan dan dapat menjadi dana pensiun yang bisa diharapkan di masa depan.

Nah, membeli produk asuransi dengan cara mencicil premi memanglah bentuk utang. Tapi, dengan melihat manfaatnya yang begitu besar, tentulah kita tak akan segan menyebut cicilan premi asuransi sebagai utang yang baik, bahkan mungkin sangat baik. Anda setuju?!

Sumber

Layanan konsultasi GRATIS dapat menghubungi kami, Agen Asuransi Allianz di Bekasi dan Cikarang.

Dede Sulaeman
Business Executive Allianz Star Network
Kontak: 085767622961 (Tlp/WA)
Email: desulanakata@yahoo.com

Iklan

Tentang Dede Sulaeman

Business Executive Allianz Star Network [] HP/WA 085767622961 [] Email: desulanakata@yahoo.com [] Tinggal di Cikarang Utara, Bekasi.
Pos ini dipublikasikan di Perencanaan Keuangan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s