Apakah dalam Asuransi Ada Kezaliman?

Asuransi Itu ProteksiDalam hukum Islam, semua transaksi ekonomi, termasuk asuransi, harus bebas dari unsur-unsur yang diharamkan, antara lain riba, judi, dan gharar (ketidakjelasan). Kenapa tiga unsur itu dilarang? Salah satunya karena mengandung kezaliman, menguntungkan satu pihak dengan merugikan pihak lain.

Riba merugikan karena bisa mencekik orang dengan utang berbunga yang terus menggunung. Judi pun demikian, tak jarang kita dengar ada orang yang mempertaruhkan seluruh hartanya dalam berjudi, bahkan istri sendiri pun bisa dipertaruhkan. Sementara gharar ibarat membeli kucing dalam karung, beruntung jika mendapat kucing yang bagus tapi bisa pula sial jika memperoleh kucing yang buduk.

Lalu bagaimana dengan asuransi, apakah ada kezaliman di dalamnya?

Asuransi ada yang murni proteksi dan ada yang disertai nilai tunai (tabungan, investasi). Dalam asuransi yang murni proteksi, seluruh premi tidak kembali alias hangus. Dalam asuransi yang disertai nilai tunai, sebagian premi ada yang hangus dan ini untuk biaya proteksi, sebagian lagi ada nilai tunai yang bisa ditarik kembali. Nilai tunai ini diinvestasikan dan jika hasil investasinya bagus, bisa menggantikan biaya yang dibayar untuk proteksi, sehingga seakan-akan biaya proteksinya gratis.

Untuk memudahkan pembahasan, saya berikan contoh asuransi yang murni proteksi.

Produk asuransi jiwa berjangka (term-life). Ada orang membayar premi 5 juta setahun, kontrak 20 tahun, manfaat UP (Uang Pertanggungan) 1 miliar. Selama premi dibayar tepat waktu, jika meninggal dalam 20 tahun, maka ahli warisnya akan mendapatkan uang 1 miliar. Jika masih hidup setelah 20 tahun, maka preminya hangus dan tidak ada pengembalian.

Pertanyaannya, apakah ada kezaliman pada asuransi dengan contoh di atas? Kalau ada, di mana letaknya?

Mari kita analisis satu per satu.

Pertama, dilihat dari sumber pembayaran dana klaim. Jika orang itu baru sekali bayar (5 juta) lalu meninggal dan ahli warisnya mendapatkan 1 miliar, dari mana selisih uang 995 juta?

Perlu diketahui bahwa nasabah perusahaan asuransi itu bukan hanya satu orang, tapi ada ribuan bahkan jutaan orang. Jadi, terhadap pertanyaan dari mana sumber dana klaim, jawabannya adalah dari premi semua nasabah (termasuk nasabah yang kena musibah).

Dalam asuransi syariah, hal ini dieksplisitkan dalam kontrak, yaitu tolong-menolong di antara sesama peserta. Dalam asuransi konvensional, hal ini tidak dinyatakan dalam kontrak, tapi pada dasarnya perusahaan asuransi bisa membayar klaim karena memperoleh dana dari pembayaran premi seluruh nasabahnya.

Apakah dalam peristiwa ini ada yang dirugikan?

Coba kita bertanya kepada siapa pun nasabah asuransi: “Jika ada nasabah lain meninggal dunia, lalu perusahaan asuransi membayarkan klaim kepada nasabah lain tersebut, di mana sebagian dari uang klaim itu berasal dari uang premi anda, apakah anda merasa rugi?”

Jika jawabannya tidak, berarti tidak ada kezaliman. Dan pasti jawabannya tidak. Justru nasabah akan senang jika mengetahui perusahaan asuransi menepati janjinya membayar klaim kepada nasabah lain. Dan sebaliknya, jika diketahui perusahaan asuransi menolak membayar klaim kepada nasabah lain, para nasabah akan merasa waswas, jangan-jangan ketika dia mengajukan klaim juga tidak akan dibayar.

Atau barangkali perusahaan asuransi yang rugi ketika harus membayar klaim kepada nasabah?

Dilihat secara parsial, perusahaan asuransi tampaknya rugi karena nasabah yang dibayar klaimnya tersebut baru bayar sedikit tapi mendapat klaim jauh lebih banyak. Tapi dilihat secara keseluruhan, nyatanya perusahaan asuransi tetap untung. Sekadar menyebut merek, Allianz, Prudential, AIA, AXA, dan Manulife, terus mencetak keuntungan setiap tahun dan nilai aset mereka makin besar.

Kenapa perusahaan asuransi bisa untung? Tentunya hal itu sudah ada hitung-hitungannya dan ada ilmu yang mengurusi hal ini, yaitu ilmu aktuaria. Selama perusahaan asuransi dijalankan dengan patuh terhadap ilmu aktuaria, perusahaan asuransi itu tidak akan rugi dan akan selalu untung.

Tapi bukankah ada perusahaan asuransi yang bangkrut atau tutup? Di bisnis apa pun pasti ada pemainnya yang yang tersisih, rugi, bangkrut, dan tutup. Jika suatu perusahaan mengalami kerugian sementara para pemain lain baik-baik saja dan tetap untung, berarti ada yang salah dalam pengelolaannya, atau manajemennya kurang kreatif merespons permintaan pasar. Itu saja.

Kedua, jika nasabah tidak mengalami klaim sampai akhir kontrak dan uangnya hangus sebagian ataupun seluruhnya, apakah itu bukan kerugian bagi nasabah?

Ini adalah poin krusial yang menjadi tantangan agen asuransi dalam menjelaskan kepada calon nasabah sejak dulu sampai sekarang. Jawaban dari masalah ini kita kembalikan saja kepada fungsi asuransi yang mendasar. Apa fungsi asuransi? Ialah memberikan perlindungan dari risiko-risiko tertentu yang dapat menimbulkan kerugian keuangan. Bagaimana jika tidak terjadi risiko? Berarti tidak ada kerugian keuangan dan dengan demikian tidak ada yang perlu diganti.

Contoh: sakit menimbulkan biaya perawatan di rumah sakit. Jika tanpa asuransi, biaya itu akan dibayar oleh orang yang sakit itu sendiri (atau keluarganya). Tapi jika ada asuransi kesehatan, biaya rumah sakit akan dibayari oleh asuransi sehingga uang si sakit aman.

Pertanyaan para calon nasabah: Bagaimana jika tidak ada sakit?

Jawaban: Jika tidak ada sakit ya tidak usah bingung. Malah seharusnya bersyukur karena berarti sehat-sehat saja, sehingga tidak ada biaya yang mesti keluar untuk bayar rumah sakit.

Maksudnya adalah, kata calon nasabah, bagaimana dengan uang yang telah dibayarkan jika tidak ada klaim?

Jawaban: Kembali ke tujuan anda ikut asuransi. Jika sakit, biaya rumah sakit anda dibayari oleh asuransi. Jika anda tidak sakit, berarti tidak ada biaya rumah sakit, jadi tidak ada yang perlu dibayar oleh asuransi. Adapun uang premi yang telah anda bayar, itulah biaya untuk memproteksi keuangan anda dari sakit. Jika anda tidak ikhlas, anggaplah uang itu sebagai sedekah, karena toh uang itu dipakai oleh para nasabah lain yang terkena sakit. Atau jika anda tidak ikhlas juga, ya sedari awal tidak perlu ikut asuransi.

Pilih mana: membayar premi yang nilainya relatif kecil dan itu pun bisa dicicil, atau tidak membayar premi dengan risiko kehilangan seluruh aset secara sekaligus?

Orang yang mengerti tujuan dan manfaat asuransi, dia akan memilih membayar premi secara rutin daripada harus membayar sekaligus biaya musibah yang mungkin terjadi.

Tapi kan musibah itu belum tentu terjadi? Ya, betul, justru karena itulah asuransi ada. Kalau musibah sudah pasti terjadi dalam periode tertentu, tidak akan ada asuransi yang mau menanggungnya, karena sudah pasti bikin rugi. Kecuali dalam hal ini program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dari BPJS Kesehatan, karena ini adalah jenis asuransi sosial, bukan komersial, dan diselenggarakan negara.

Apakah membayar premi itu kerugian? Ya, boleh-boleh saja dianggap kerugian. Tapi ini kerugian yang kecil dan bisa ditoleransi, dibandingkan kerugian akibat musibah yang bisa saja sangat besar dan tidak dapat ditoleransi.

Itulah sebabnya asuransi sering dikiaskan dengan payung; harga payung tak seberapa, tapi kerugian yang timbul akibat kehujanan bisa tak terkira. Terjadi hujan ataupun tidak, payung tak bisa dikembalikan ke penjualnya.

Asuransi juga sering diibaratkan dengan membayar satpam. Gaji satpam mungkin hanya beberapa juta tiap bulan, atau hanya beberapa puluh ribu jika ditanggung bersama oleh warga satu lingkungan, tapi kerugian akibat kehilangan barang berharga di dalam rumah bisa jauh lebih besar. Terjadi pencurian atau tidak, gaji satpam tidak bisa diminta balik.

Kesimpulannya, apakah dalam asuransi ada kezaliman? Tidak ada. Membayar premi memang  keluar uang, tapi ada kompensasinya yaitu mendapatkan proteksi, sehingga tidak sepantasnya dianggap kerugian dan kezaliman.

Demikian. []

Untuk konsultasi masalah asuransi, silakan menghubungi saya: 

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Iklan bisnis

Iklan

Tentang Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com dan asepsopyan.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Menjadi agen asuransi Allianz sejak November 2011.
Pos ini dipublikasikan di Edukasi Asuransi dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s