Apakah Asuransi Mengandung Riba?

insurance-1022558_960_720Ada yang berkata, asuransi itu riba. Di mana letak ribanya? Pada kelebihan dari manfaat yang diterima dibanding premi yang dibayar.

Misalnya ada orang baru bayar premi beberapa sekali, tapi ketika sakit, biaya pengobatannya senilai puluhan sd ratusan juta ditanggung oleh asuransi. Ada orang terkena sakit kritis dan mendapat uang 1 miliar, padahal dia baru beberapa kali bayar premi sebesar 1 juta per bulan. Ada produk asuransi dengan premi di bawah 500 ribu per bulan, tapi dapat memberikan santunan 1 miliar untuk ahli waris dari orang yang meninggal, walaupun baru bayar satu kali. Bahkan program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) pun preminya hanya beberapa puluh ribu per bulan, tapi biaya sakit ratusan juta pun bisa dibayari semua.

Jika dihitung-hitung, tingkat kelebihan dalam asuransi itu bisa puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali lipat.

Itulah riba, kata mereka yang menganggap asuransi sebagai riba.

Pertanyaannya, silakan dicek sejak zaman Nabi, adakah riba yang kelebihannya mencapai ratusan sampai ribuan kali lipat?

Saya yakin tidak ada, dan memang tidak ada. Berarti kelebihan dalam asuransi beda dengan kelebihan dalam riba.

Untuk zaman sekarang, riba dalam bentuk bunga pinjaman dari lembaga keuangan seperti bank dan leasing, paling hanya sekitar 10-30 persen setahun, atau 1-3% sebulan. Dan riba dalam bentuk bunga simpanan jauh lebih kecil, sekitar 1 sd 5% setahun. Yang lumayan besar biasanya riba dari rentenir keliling, bisa 30-50% dalam sebulan atau 1-2% per hari, karena ditagih harian dan bersifat jangka pendek.

Tapi sebesar-besarnya bunga utang, tidak lantas menjadi berlipat-lipat dalam waktu cepat. KPR pun baru berlipat dua setelah 10 atau 15 tahun. Utang jangka panjang biasanya bunganya kecil, sedangkan utang yang bunganya besar hanyalah utang jangka pendek.

Kelebihan riba baru menjadi ribuan kali lipat jika ada utang yang tertunggak selama puluhan sampai ratusan tahun, karena pokok plus kelebihannya berbunga lagi dan berbunga lagi dan berbunga lagi (bunga majemuk).

Tapi kelebihan ribuan kali lipat dalam asuransi terjadi dalam waktu singkat, yaitu pada tanggal pengajuan polis disetujui atau setelah masa tunggu terlewati, tidak perlu menunggu bertahun-tahun.

Jadi, sekali lagi, kelebihan dalam asuransi ini berbeda dengan kelebihan dalam riba.

Dari Mana Sumber Kelebihan dalam Asuransi?

Kenapa bisa berbeda? Karena sumber yang menimbulkan kelebihan itu berbeda.

Riba yang dikenal sejak zaman dahulu kala terjadi dalam konteks utang-piutang atau jual-beli dengan cara dicicil. Dalam utang-piutang yang mengandung riba, ada yang disebut pokok dan ada bunga. Semakin besar pokok, semakin besar bunganya. Selain itu juga terkait dengan persentase bunga dan jangka waktu pelunasan utang. Semakin besar persentase bunga, dan semakin lama jangka waktunya, semakin besar pula nilai bunga yang harus dibayar. Lalu jika utang tertunggak, bunganya pun ikut membengkak. Dan lama-kelamaan, nilai bunga bisa melebihi pokok utangnya itu sendiri.

Bunga inilah yang disebut riba. Dengan kata lain, riba adalah kelebihan berupa bunga.

Bagaimana kalau kelebihannya bukan berupa bunga?

Dalam hal ini saya akan mengajukan 4 contoh.

Contoh pertama. Jual beli secara kredit dengan menaikkan harga terlebih dahulu. Atau penjual menawarkan dua harga, misalnya jika tunai 100 ribu, jika dicicil sekian bulan 150 ribu. Tukang kredit keliling yang mayoritas asal Tasikmalaya, mereka menjual barang sehari-hari dengan cara ini. Menurut para ulama, cara seperti ini boleh dan bukan riba. Di bank syariah, ini disebut akad murabahah dan bukan riba.

Contoh kedua. Tukar-menukar hadiah. Para raja dan presiden sejak zaman dahulu sampai sekarang sering saling bertukar hadiah dengan para raja dan presiden lainnya. Nilai hadiahnya pasti berbeda. Dalam sebuah kelas atau organisasi, sering pula ada acara tukar-menukar kado pada momen tertentu. Meski nilai kado itu biasanya dibatasi maksimalnya, tentulah harga riilnya akan berbeda-beda. Apakah perbedaan nilai ini menimbulkan riba? Tidak, karena menurut hadis riwayat Bukhari, Nabi Muhammad Saw sendiri biasa menerima hadiah dan biasa pula membalasnya. Dan Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian maka kalian akan saling mencintai.” (HR Bukhari).

Contoh ketiga. Potluck party. Dalam acara makan-makan di lingkungan tetangga atau keluarga, atau juga reuni kelas, tak jarang acaranya dikemas dalam format potluck party. Setiap orang membawa bahan makanan yang berbeda-beda. Biasanya didata dulu siapa yang membawa nasi, lauk, sayur, buah, minuman, cemilan, dan sebagainya. Semua makanan dikumpulkan lalu dimakan bersama-sama tanpa perhitungan. Nilai dari makanan yang dibawa dan nilai makanan yang dimakan sudah pasti berbeda-beda. Apakah perbedaan ini menimbulkan riba? Tidak.

Contoh keempat. Iuran pengurusan jenazah. Di lingkungan kecil seperti RT/RW, atau perumahan, atau bahkan ada yang sampai level kecamatan, lazim diselenggarakan iuran untuk pengurusan jenazah. Tiap keluarga ditarik iuran, lalu jika dalam keluarga tersebut ada yang meninggal, maka biaya pengurusan jenazah ditanggung semua. Iurannya mungkin kecil saja, misalnya 10-20 ribu per bulan tiap keluarga, tapi biaya pengurusan jenazah bisa sampai jutaan. Iuran ini sifatnya hangus (atau anggap saja sedekah), tidak bisa ditarik kembali. Contoh keempat ini paling mirip dengan praktik asuransi. Apakah itu riba? Sejauh ini tidak pernah ada yang mengatakan itu riba.

Dari empat contoh di atas, tampak bahwa tidak setiap kelebihan dalam transaksi pertukaran merupakan riba. Riba itu spesifik, hanya kelebihan berupa bunga, yang muncul akibat transaksi utang-piutang dan pembelian barang secara kredit. Tapi tidak setiap utang-piutang dan pembelian barang secara kredit menimbulkan bunga.

Sekarang mari kita periksa kelebihan dalam asuransi itu bentuknya apa dan dari mana munculnya.

Sebagai contoh, ada produk asuransi jiwa murni (bukan unitlink) dengan premi 5 juta per tahun dan UP 1 miliar, dengan jangka waktu 20 tahun. Jika nasabah meninggal dunia di dalam waktu 20 tahun dan polisnya aktif (premi selalu dibayar tepat waktu), ahli warisnya mendapatkan uang 1 miliar. Walaupun nasabah baru bayar sekali, dan dia meninggal di tahun pertama, ahli warisnya tetap mendapatkan 1 miliar. Jika nasabah masih hidup selewat 20 tahun, premi tidak kembali alias hangus.

Pertanyaannya, dari mana uang 1 miliar itu berasal? Karena jika pun nasabah bayar selama 20 tahun, totalnya baru 100 juta.

Begini. Perusahaan asuransi itu punya nasabah bukan hanya 1 orang, tapi ada ribuan bahkan jutaan orang. Jadi, terhadap pertanyaan dari mana uang 1 miliar itu berasal, jawabannya adalah dari para nasabah yang lain.

Apakah itu bunga? Jelas bukan. Karakteristiknya jauh berbeda.

Bunga lahir dari pokok, sebagaimana kembang lahir dari tanaman, dan anak lahir dari induknya. Sedangkan dalam asuransi tidak ada yang disebut pokok, tidak ada bunga, dan premi pun tidak bisa disamakan dengan cicilan.

Berikut perbedaan antara utang-piutang yang mengandung riba dengan asuransi:

Utang-piutang dengan Riba Asuransi
Ada pokok. Pokok adalah utang. Tidak ada pokok. UP (Uang Pertanggungan) bukan pokok dan bukan utang.
Ada bunga. Bunga adalah tambahan utang. Tidak ada bunga. Tidak ada tambahan utang.
Ada cicilan Ada premi. Tapi premi tidak sama dengan cicilan.
Cicilan untuk mengurangi pokok Premi untuk mendapatkan UP. Tapi setoran premi tidak mengurangi ataupun menambah UP.
Ada denda jika tertunggak, sehingga utang dan bunganya jadi bertambah. Tidak ada denda jika premi tertunggak. Konsekuensinya manfaat asuransi terhenti.
Terkadang ada jaminan berupa aset tetap. Tidak ada jaminan apa pun.
Jika cicilan tertunggak, aset bisa disita. Tidak ada penyitaan aset.

(Sebaliknya, justru jika tidak ada asuransi, aset bisa disita untuk biaya pengobatan).

Dana klaim berasal dari premi para nasabah seluruhnya, dan ini bukan bunga. Lalu berupa apakah?

Dalam hal ini ada perbedaan cara pandang antara asuransi syariah dengan asuransi konvensional. Asuransi syariah memandang dana klaim tersebut adalah uang hibah atau sedekah dari seluruh peserta. Statusnya milik kumpulan para peserta, sedangkan perusahaan hanya sebagai pengelola yang mendapat upah. Dalam akad pada saat pengajuan asuransi, para peserta asuransi syariah meniatkan seluruh atau sebagian premi yang disetorkan sebagai hibah atau sedekah untuk saling menolong dengan para peserta lain dalam menghadapi musibah.

Sedangkan asuransi konvensional memandang dana klaim tersebut sebagai milik perusahaan. Pada saat pengajuan asuransi, nasabah asuransi konvensional menganggap seluruh atau sebagian premi yang diserahkannya kepada perusahaan asuransi sebagai biaya atas perlindungan keuangan mereka.

Baik sedekah ataupun biaya, keduanya sama-sama hangus, tidak dapat ditarik kembali, dan harus diikhlaskan. Dalam asuransi murni, baik syariah ataupun konvensional, seluruh premi tidak dapat ditarik kembali alias hangus. Dalam asuransi jenis unitlink, sebagian premi ada yang disalurkan ke investasi dan ini bisa ditarik, tapi sebagian lagi menjadi biaya atau sedekah, yang juga sama-sama tidak dapat ditarik kembali.

Apakah dalam Asuransi Ada Kezaliman?

Kenapa riba diharamkan? Ada beberapa alasan. Di antaranya karena dalam riba ada unsur kezaliman atau penganiayaan, menguntungkan satu pihak dengan merugikan pihak lain. Riba adalah modal tanpa risiko bagi pemodal, padahal seharusnya risiko itu ditanggung bersama antara pemodal dengan pengelola.

Sebagai bukti kezaliman riba, tak jarang kita dengar ada orang yang aset-asetnya disita karena tak sanggup bayar utang yang terus menggunung. Di film, terkadang seorang ayah membayar utangnya dengan cara menjual anak gadisnya kepada sang rentenir.

Tapi itu kan salah dia sendiri kenapa berutang dan kenapa tidak mengelola utangnya dengan baik sehingga tak sanggup bayar. Ya, sebagian mungkin salah orang yang berutang, tapi tidak selalu. Tak jarang orang berutang karena terpaksa, misalnya karena keluarganya sakit keras. (Oleh karena itu, agar hal ini tidak terjadi, milikilah asuransi kesehatan dan asuransi penyakit kritis saat masih sehat).

Bagaimana kalau orang yang berutang mampu membayar tepat waktu sehingga cicilan utang lunas sesuai perjanjian tanpa ada penyitaan? Entahlah, dalam hal ini kita hanya bisa manut. Agama melarang sesuatu seringkali bukan karena akibat buruknya pasti terjadi. Misalnya, khamar tetap dilarang walaupun hanya setetes, padahal kita tahu setetes khamar tak akan bikin mabuk.

Lalu bagaimana dengan asuransi, apakah ada kezaliman di dalamnya?

Pertama, seperti disebut di atas, dana yang dipergunakan untuk membayar klaim seorang nasabah dalam asuransi diperoleh dari iuran premi seluruh nasabah. Nasabah yang mendapatkan uang klaim jelas diuntungkan secara materi, meski untuk itu ia harus kena musibah. Tapi apakah dalam hal ini ada yang dirugikan?

Untuk menjawabnya, kita bisa bertanya kepada siapa pun nasabah asuransi: “Jika ada nasabah lain terkena sakit atau musibah apa pun yang ditanggung dalam polis, lalu perusahaan asuransi membayarkan klaim kepada nasabah lain tersebut, di mana sebagian dari uang klaim itu berasal dari uang premi anda, apakah anda merasa rugi?”

Jika jawabannya tidak, berarti tidak ada kezaliman. Dan pasti jawabannya tidak. Justru nasabah akan senang jika mengetahui perusahaan asuransi menepati janjinya membayar klaim kepada nasabah lain. Dan sebaliknya, jika diketahui perusahaan asuransi menolak membayar klaim kepada nasabah lain, para nasabah akan merasa waswas, jangan-jangan ketika dia mengajukan klaim juga tidak akan dibayar.

Atau barangkali perusahaan asuransi yang rugi ketika harus membayar klaim kepada nasabah?

Dilihat secara parsial, perusahaan asuransi tampaknya rugi karena nasabah yang dibayar klaimnya tersebut baru bayar sedikit tapi mendapat klaim jauh lebih banyak. Tapi dilihat secara keseluruhan, nyatanya perusahaan asuransi tetap untung. Sekadar menyebut merek, Allianz, Prudential, AIA, AXA, terus mencetak keuntungan setiap tahun dan nilai aset mereka makin besar.

Tapi ada perusahaan asuransi yang bangkrut atau tutup. Bakrie Life bangkrut. Bumiputera pun tengah sekarat. Bahkan Takaful Umum yang asuransi syariah itu pun tutup. Itu kenapa?

Di bisnis apa pun pasti ada pemainnya yang yang tersisih, rugi, bangkrut, dan tutup. Jika pemain-pemain lain baik-baik saja dan tetap untung, berarti ada yang salah dalam pengelolaannya, atau manajemennya kurang kreatif. Itu saja.

Kedua, jika nasabah tidak mengalami klaim sampai akhir kontrak dan uangnya hangus sebagian ataupun seluruhnya, apakah itu bukan kerugian bagi nasabah?

Ini adalah poin krusial yang menjadi tantangan agen asuransi dalam menjelaskan kepada calon nasabah sejak dulu sampai sekarang. Masalah ini kita kembalikan saja kepada fungsi asuransi yang mendasar. Apa fungsi asuransi? Ialah memberikan perlindungan dari risiko-risiko tertentu yang dapat menimbulkan kerugian keuangan. Bagaimana jika tidak terjadi risiko? Berarti tidak ada kerugian keuangan dan tidak ada yang perlu diganti.

Contoh: sakit menimbulkan biaya perawatan di rumah sakit. Jika tanpa asuransi, biaya itu akan dibayar oleh orang yang sakit itu sendiri (atau keluarganya). Tapi jika ada asuransi kesehatan, biaya rumah sakit akan dibayari oleh asuransi sehingga uang si sakit aman.

Pertanyaan para calon nasabah: Bagaimana jika tidak ada sakit?

Jawaban: Jika tidak ada sakit ya tidak usah bingung. Malah seharusnya bersyukur karena berarti sehat-sehat saja, sehingga tidak ada biaya yang mesti keluar untuk bayar rumah sakit.

Maksudnya adalah, kata calon nasabah, bagaimana dengan uang yang telah dibayarkan jika tidak ada klaim?

Jawaban: Kembali ke tujuan anda ikut asuransi. Jika sakit, biaya rumah sakit anda dibayari oleh asuransi. Jika anda tidak sakit, berarti tidak ada biaya rumah sakit, jadi tidak ada yang perlu dibayar oleh asuransi. Adapun uang premi yang telah anda bayar, itulah biaya untuk memproteksi keuangan anda dari sakit. Jika anda tidak ikhlas, anggaplah uang itu sebagai sedekah, karena toh uang itu dipakai oleh para nasabah lain yang terkena sakit. Atau jika anda tidak ikhlas juga, ya sedari awal tidak perlu ikut asuransi.

Pilih mana: membayar premi yang nilainya relatif kecil dan itu pun bisa dicicil, atau tidak membayar premi dengan risiko kehilangan seluruh aset secara sekaligus?

Orang yang mengerti tujuan dan manfaat asuransi, dia akan memilih membayar premi secara rutin daripada harus membayar sekaligus biaya musibah yang mungkin terjadi.

Tapi kan musibah itu belum tentu terjadi? Ya, betul, justru karena itulah asuransi ada. Kalau musibah sudah pasti terjadi dalam periode tertentu, tidak akan ada asuransi yang mau menanggungnya, karena sudah pasti bikin rugi. Kecuali dalam hal ini program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dari BPJS Kesehatan, karena ini adalah jenis asuransi sosial, bukan komersial, dan diselenggarakan negara.

Apakah membayar premi itu kerugian? Ya, dapat dianggap kerugian. Tapi ini kerugian yang kecil dan bisa ditoleransi, dibandingkan kerugian akibat musibah yang bisa saja sangat besar dan tidak dapat ditoleransi.

Itulah sebabnya asuransi sering dikiaskan dengan payung; harga payung tak seberapa, tapi kerugian yang timbul akibat kehujanan bisa tak terkira. Terjadi hujan ataupun tidak, payung tak bisa dikembalikan ke penjualnya.

Asuransi juga sering diibaratkan dengan membayar satpam. Gaji satpam mungkin hanya beberapa juta tiap bulan, atau hanya beberapa puluh ribu jika ditanggung bersama oleh warga satu lingkungan, tapi kerugian akibat kehilangan barang berharga di dalam rumah bisa jauh lebih besar. Terjadi pencurian atau tidak, gaji satpam tidak bisa diminta balik.

Jadi, apakah dalam asuransi ada kezaliman? Jika diniatkan dengan benar, dalam asuransi tidak ada kezaliman. Niat yang benar dalam berasuransi adalah menghindari atau mengurangi kerugian keuangan akibat risiko-risiko yang mungkin terjadi. Membayar premi memang keluar uang, tapi ada kompensasinya yaitu mendapatkan proteksi, sehingga tidak sepantasnya dianggap kerugian dan kezaliman.

Bagaimana jika orang berasuransi dengan niat yang tidak benar? Inilah yang bisa menimbulkan kerugian. Contohnya meniatkan asuransi dengan tujuan mendapatkan keuntungan investasi, besar kemungkinan akan rugi. Kenapa? Karena produk asuransi memiliki komponen biaya yang besar, antara lain biaya akuisisi di tahun-tahun awal, yang akan menghambat keuntungan investasi. Belum untung sudah dipotong biaya besar duluan. Sedangkan orang melakukan investasi dengan tujuan mendapatkan keuntungan, jadi mestinya biayanya bisa ditekan sekecil mungkin.

Baca juga: Asuransi Itu Proteksi, Bukan Investasi. 

Adakah Asuransi yang Mengandung Riba?

Asuransi dalam bentuknya yang murni adalah seperti dijelaskan di atas, bukan riba dan tidak mengandung riba. Isinya semata-mata adalah tolong-menolong di antara sesama nasabah dalam menghadapi musibah, baik dinyatakan secara tekstual dalam kontrak polis (asuransi syariah) maupun tidak dinyatakan secara tekstual (asuransi konvensional).

Tapi karena kebanyakan orang tidak mau rugi, maka supaya asuransi tetap laku, dibuatlah produk asuransi yang memberikan pengembalian premi. Di sinilah asuransi bersentuhan dengan unsur riba.

Pada awalnya, semua asuransi itu murni proteksi tanpa nilai tunai, alias preminya hangus. Sekarang pun untuk asuransi umum (general insurance) kebanyakan masih menggunakan skema premi hangus. Tapi khusus untuk jenis asuransi jiwa (life insurance), ada banyak modifikasi.

Terdapat empat jenis produk asuransi jiwa yang dikenal:

  1. Term-life
  2. Whole-life
  3. Endowment
  4. Unit-link

Term-life adalah asuransi jiwa berjangka tanpa nilai tunai. Masa bayar premi sama dengan masa proteksi. Selama premi dibayar, proteksi berlaku selama masa kontrak (misalnya 1 tahun, 10 tahun, 20 tahun). Setelah kontrak berakhir, proteksi pun berakhir. Premi seluruhnya menjadi milik perusahaan. Atau pada asuransi syariah, premi menjadi milik kumpulan peserta setelah perusahaan mengambil haknya sebagai pengelola.

Karena banyak orang keberatan dengan sistem premi hangus sementara klaim belum tentu terjadi, lahirlah produk whole-life. Whole Life memberikan jaminan proteksi seumur hidup, umumnya sampai usia 100 tahun, sehingga uang pertanggungan pasti cair dan diterima ahli waris. Syaratnya hanya satu, yaitu nasabah membayar premi secara rutin selama jangka waktu yang disepakati, misalnya 10 atau 15 tahun. Selain mendapat UP, ahli waris juga mendapatkan sejumlah nilai tunai yang dijamin dan nilai tunai tambahan hasil pengembangan dana. Premi whole-life beberapa kali lipat lebih mahal daripada term-life.

Tapi asuransi jenis whole-life pun memiliki kelemahan, yaitu nilai tunai hanya bisa dinikmati oleh ahli waris, sementara nasabah itu sendiri tidak bisa menikmatinya. Jika nasabah mengambil sebagian nilai tunainya pada saat ia masih hidup, maka dana yang diambil itu dianggap utang dan kena bunga. Jika nilai tunainya diambil semua, polisnya berakhir. Oleh karena itu, dibuatkan endowment (dwiguna), yaitu produk asuransi yang memberikan manfaat meninggal maupun manfaat hidup berupa nilai tunai yang dijamin. Produk endowment biasanya dikemas dalam bentuk asuransi pendidikan dan asuransi pensiun. Nilai tunai pada endowment dijamin akan keluar pada tahun-tahun tertentu sesuai fitur produk. Premi endowment lebih mahal lagi daripada whole-life.

Unsur riba terdapat pada produk whole-life dan endowment karena ada nilai tunai yang dijamin. Nilai tunai yang dijamin itu muncul karena ada bunga. Selain itu, penyaluran dana pada instrumen-instrumen investasi berbasis bunga pun menimbulkan adanya riba, seperti deposito, obligasi, dan saham perbankan konvensional.

Adakah produk whole-life dan endowment yang tanpa riba? Tidak ada. Jika pun dibuat produk whole-life dan endowment syariah, nilai tunainya sudah pasti tidak dijamin. Ketentuan syariah tidak memungkinkan sebuah investasi memberikan imbal hasil yang dijamin, karena itu sama dengan bunga dan bunga itu riba.

Bagaimana dengan unit-link? Unit-link adalah perpaduan antara asuransi dan investasi. Untuk asuransinya berbentuk term-life, sedangkan investasinya berbentuk reksadana. Kenapa unsur asuransinya disebut term-life (berjangka)? Karena biaya asuransinya dibayar selama masa proteksi. Jika masa proteksinya sampai usia 100 tahun, maka biaya asuransinya pun dibayar sampai usia 100 tahun, atau sampai meninggal dunia (mana yang lebih dulu). Premi berfungsi lebih sebagai deposit (cadangan dana) untuk membayar biaya asuransi dan administrasi. Jika deposit habis, maka tidak ada dana untuk membayar biaya asuransi, dan proteksi pun berakhir. Jika ingin melanjutkan proteksi, nasabah harus menyetor sejumlah dana lagi (top up) untuk membayar biaya asuransinya.

Berbeda dengan whole-life dan endowment yang nilai tunainya dijamin, nilai tunai pada unit-link tidak dijamin. Jadi, unit-link mengandung risiko dan risiko ini ditanggung nasabah. Dari sisi syariah, soal tidak dijamin dan adanya risiko ini tidak masalah. Tinggal dilihat ke mana dananya diinvestasikan. Dalam hal ini dibedakan antara unit-link syariah dengan unit-link konvensional. Pada unit-link syariah, dana diinvestasikan pada instrumen-instrumen yang sesuai dengan syariah, seperti deposito syariah, sukuk (obligasi syariah), dan saham-saham syariah. Sedangkan unit-link konvensional tidak ada batasan tersebut. Unit-link konvensional dapat diinvestasikan baik pada instrumen investasi yang sesuai syariah maupun tidak sesuai syariah atau berbasis bunga, contohnya deposito, obligasi, dan saham apa pun yang dinilai memberikan keuntungan, termasuk saham perbankan konvensional.

Apakah ada unsur riba pada produk asuransi unit-link? Untuk sisi asuransinya, penjelasannya seperti disampaikan di atas, yaitu bukan riba. Sedangkan untuk sisi investasinya, jika instrumen investasinya bukan berbasis bunga, maka investasinya tidak mengandung riba. Tapi jika investasinya berbasis bunga (riba), maka hasil investasinya pun mengandung riba. Jadi, memang ada unsur riba pada produk asuransi jenis unit-link, dalam hal ini unit-link konvensional.

Simpulan

  • Kelebihan dalam asuransi bukanlah riba.
  • Asuransi dalam bentuknya yang murni, pure insurance, tidak mengandung riba. Contoh: term-life, asuransi kesehatan murni, JKN BPJS, asuransi jiwa dan kesehatan untuk karyawan, asuransi mobil pada umumnya, asuransi rumah pada umumnya, asuransi profesi dokter, asuransi barang kiriman, asuransi perjalanan, asuransi kargo. 
  • Asuransi yang memiliki nilai tunai (saving), mengandung riba jika nilai tunainya dijamin. Contoh: whole-life dan endowment
  • Asuransi yang nilai tunainya tidak dijamin, dapat mengandung riba jika diinvestasikan pada instrumen investasi berbasis bunga. Contoh: unit-link konvensional.
  • Asuransi yang nilai tunainya tidak dijamin dan investasinya disalurkan pada instrumen-instrumen investasi yang sesuai dengan ketentuan syariah, maka tidak mengandung riba. Contoh: unit-link syariah.
  • Asuransi sebaiknya dikembalikan pada fungsi dasarnya, yaitu sebagai proteksi atau perlindungan keuangan dari kerugian akibat musibah, bukan untuk mencari untung dari perkembangan investasi, bahkan walaupun produknya jenis unit-link. Pilihan produk yang disarankan adalah asuransi murni dan unit-link syariah.

Demikian, semoga bermanfaat. []

Bahan bacaan lain:

Untuk konsultasi lebih lanjut tentang asuransi dan produk-produk asuransi dari Allianz, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Iklan Smartmed

Iklan

Tentang Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com dan asepsopyan.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Menjadi agen asuransi Allianz sejak November 2011.
Pos ini dipublikasikan di Asuransi Syariah dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s