Mengenal Prinsip Indemnitas dan Subrogasi: Asuransi Bukan untuk Cari Untung

Hasil gambar untuk contoh kasus subrogasi dalam asuransi

Dalam asuransi dikenal beberapa prinsip yang menunjukkan karakteristik apa itu sesungguhnya asuransi. Dua prinsip di antaranya menunjukkan karakteristik asuransi yang paling penting, yaitu bahwa asuransi bukan untuk cari untung. Dua prinsip itu ialah indemnitas (indemnity) dan subrogasi (subrogation).

Indemnitas atau dengan kata lain “ganti rugi” artinya hak tertanggung untuk mendapatkan penggantian atas kerugian yang dia alami sehingga posisi keuangan tertanggung menjadi sama dengan kondisi sesaat sebelum terjadi kerugian.

Jika tertanggung mengalami kerugian 10 juta, maka yang diganti oleh penanggung (asuransi) adalah maksimal 10 juta. Jika kerugiannya 100 juta, maka yang diganti oleh asuransi adalah maksimal 100 juta, dengan tetap memperhatikan batas manfaat dari produk asuransi yang dimiliki tertanggung.

Sedangkan subrogasi artinya hilangnya hak tertanggung untuk menuntut pihak ketiga yang menyebabkan kerugian bagi tertanggung apabila pihak penanggung (perusahaan asuransi) telah menyelesaikan pembayaran ganti rugi kepada tertanggung. Hak penuntutan kepada pihak ketiga ini beralih kepada penanggung.

Prinsip subrogasi menjamin prinsip indemnitas berjalan dengan baik.

Misalnya: Mobil si A ditabrak oleh mobil si B. Si A memiliki asuransi mobil, termasuk di dalamnya ada manfaat tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga (third party liability). Dalam kasus ini A memiliki dua sumber penggantian, yaitu perusahaan asuransi dan si B.

Jika perusahaan asuransi telah membayar ganti rugi atas kerugian si A sesuai prinsip indemnitas, maka si A tidak berhak menuntut si B. Hak untuk menuntut si B beralih ke perusahaan asuransi, dan perusahaan asuransi boleh menggunakan haknya boleh pula tidak (walaupun biasanya tidak).

Demikian pula jika si B telah mengganti kerugian yang dialami si A, maka si A tidak berhak menuntut perusahaan asuransi untuk memberikan ganti rugi. Tapi biasanya, jika si B tahu bahwa si A memiliki asuransi mobil, si B akan mempersilakan si A untuk mengajukan klaim ke asuransi dulu, dan dia akan menanggung sisanya yang tidak diganti oleh asuransi.

Bagaimana jika si A tetap menuntut si B seraya tidak memberitahukan bahwa dia punya asuransi, sedangkan dia pun tetap mengajukan klaim ke perusahaan asuransi seraya tidak memberi tahu bahwa mobilnya ditabrak si B?

Tidak boleh seperti itu, karena dalam pengajuan klaim ke asuransi harus disertakan kronologi kejadian, dan dia harus jujur mengungkapkan kronologinya sesuai dengan prinsip asuransi lainnya yang mendasari semua prinsip, yaitu utmost good faith (pengungkapan niat baik). Jika si A tidak jujur dan ketahuan, maka klaimnya bisa tidak dibayar.

Kedua prinsip indemnitas dan subrogasi tampak jelas dalam jenis asuransi yang berbentuk penggantian biaya, seperti asuransi kesehatan, asuransi mobil, dan asuransi rumah. Bagaimana dengan jenis asuransi yang bentuknya santunan tunai atau uang pertanggungan yang dibayarkan sekaligus (lumpsum), seperti asuransi jiwa, cacat tetap, penyakit kritis, dan santunan harian?

Kerugian finansial ada yang bisa dihitung nilainya dan ada yang tidak bisa dihitung. Biaya rumah sakit, perbaikan kendaraan, dan biaya hukum bisa dihitung nominalnya. Tapi biaya akibat kematian, kehilangan kemampuan bekerja, dan biaya-biaya di luar biaya medis tidak bisa dihitung. Dalam hal ini, batasnya adalah kemampuan keuangan atau gaya hidup dari si tertanggung sendiri.

Orang tidak mungkin membeli asuransi dengan premi di luar batas kemampuannya, atau mengambil UP (uang pertanggungan) yang terlalu tinggi. Jika penghasilannya 5 juta per bulan, tidak mungkin dia mengambil asuransi dengan premi 5 juta juga per bulan, bahkan premi di atas 1 juta pun berat. Perusahaan asuransi pun akan mewajibkan tertanggung untuk mengisi kuesioner keuangan jika mengambil UP sejumlah minimal tertentu (misalnya di atas 5 miliar).

Asuransi santunan harian (cash plan) yang rawan disalahgunakan karena bisa double claim pun dibatasi maksimal per harinya. Di Allianz, batas manfaat santunan harian adalah 1 juta per hari.

Jadi, asuransi berbentuk santunan tunai pun tetap memperhatikan prinsip indemnitas dan subrogasi. Intinya, asuransi bukanlah untuk cari untung, melainkan untuk menghindari kerugian yang timbul akibat risiko tertentu.

Jika ada orang cari untung lewat asuransi, dia keliru. Termasuk jika mengharapkan untung dari nilai investasinya, itu pun salah alamat.

Demikian. []

Untuk konsultasi masalah asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Tentang Asep Sopyan

Senior Business Partner ASN | HP/WA 082-111-650-732 | Email myallisya@gmail.com | Blog: myallisya.com dan asepsopyan.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Menjadi agen asuransi Allianz sejak November 2011.
Pos ini dipublikasikan di Edukasi Asuransi, Pengetahuan Asuransi dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s