Edukasi Asuransi

4 Kesamaan antara Vaksinasi dan Asuransi

Hasil gambar untuk vaksinasiVaksinasi dan asuransi memiliki beberapa kesamaan.

Pertama, vaksinasi dan asuransi sama-sama berfungsi untuk mencegah kejadian tertentu yang tidak diinginkan.

Vaksinasi mencegah terjadinya penyakit tertentu, asuransi mencegah terjadinya kerugian keuangan akibat risiko tertentu. Dalam asuransi, bukan risikonya yang dicegah, tapi kerugian keuangan yang ditimbulkannya. Sedangkan dalam vaksinasi, yang dicegah adalah penyakitnya itu sendiri.

Kedua, karena sama-sama berfungsi mencegah, vaksinasi dan asuransi hanya bisa dilakukan atau diambil sebelum kejadian.

Jika penyakit sudah terjadi, maka vaksin tidak ada gunanya lagi. Yang dibutuhkan adalah obat dan terapi. Begitu pula dalam asuransi, jika risiko sudah terjadi, asuransi tidak bisa diambil. Yang dibutuhkan adalah uang tunai, tapi belum tentu uang tunainya tersedia. Jika pun ada aset, belum tentu bisa cepat dicairkan.

Ketiga, karena sifatnya untuk mencegah, banyak orang tidak mampu merasakan pentingnya vaksinasi dan asuransi. Kata mereka, buat apa vaksinasi, toh belum tentu sakit. Buat apa asuransi, toh belum tentu kena musibah.

Pentingnya vaksinasi dan asuransi seringkali baru disadari setelah kejadian. Meskipun mungkin sudah terlambat, tetap penting untuk menyadarinya, setidaknya kesadaran ini bisa digunakan untuk menyadarkan anggota keluarga yang lain.

Keempat, vaksinasi dan asuransi juga sama-sama dihinggapi isu haram. Vaksinasi dianggap haram karena berasal dari kuman atau virus bibit penyakit (meski telah dilemahkan), mengandung unsur babi atau hal-hal yang dianggap kotor, atau bahkan merupakan konspirasi kaum tertentu untuk menghancurkan Islam. Sementara asuransi dianggap haram karena mengandung riba, judi, dan ketidakjelasan (gharar).

Tapi terhadap isu ini, sudah ada para ulama antara lain dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) yang memfatwakan halalnya vaksinasi dan asuransi. Setidaknya ada vaksinasi dan asuransi yang halal. Jadi kita tidak perlu khawatir. Vaksinasi dan asuransi itu berfungsi mencegah atau menghindari darurat, dan menghindari darurat itu wajib. Kalau tidak, bisa gawat.

Fatwa MUI tentang vaksinasi (tepatnya tentang imunisasi) dikeluarkan tahun 2016, bisa dibaca di SINI.

Fatwa MUI tentang asuransi halal atau asuransi syariah ada beberapa fatwa, semuanya bisa dibaca di SINI.

Demikian. []

Ingin berkonsultasi tentang asuransi? Silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Asuransi Syariah

Dapatkah Asuransi Digantikan oleh ZIS (Zakat, Infak, Sedekah)?

zakat-infakDi antara orang-orang yang mengharamkan asuransi, ada yang berkata, “Jika potensi ZIS (zakat, infak, dan sedekah) bisa dimaksimalkan, asuransi tidak diperlukan lagi.”

Benarkah demikian?

Tanpa bermaksud mengecilkan peranan dan fungsi ZIS, mari kita uji pernyataan ini secara konsep maupun kenyataan.

Saya akan mulai dengan kenyataan.

Menurut sejumlah data (sumber berita bisa dilihat di bawah), potensi ZIS di Indonesia pada tahun 2015 adalah 217 triliun per tahun, sedangkan dana yang terkumpul baru sekitar 4 triliun.

Bagaimana dengan asuransi? Pada tahun 2016, total pendapatan premi asuransi di Indonesia mencapai 270 triliun, terdiri dari asuransi jiwa 208,92 triliun dan asuransi umum 61,9 triliun. Ini belum termasuk pendapatan premi BPJS Kesehatan yang sebesar 67,4 triliun. Totalnya lebih dari 300 triliun.

Pertanyaannya, dapatkah dana 4 triliun menggantikan dana 300 triliun? Tentunya tidak. Lanjutkan membaca “Dapatkah Asuransi Digantikan oleh ZIS (Zakat, Infak, Sedekah)?”

Asuransi Syariah

Asuransi Syariah Bukan Hanya Tidak Haram, Tapi Juga Baik dan Mulia

fatwa-muiAsuransi, dalam hal ini asuransi syariah, bukan hanya tidak haram, tapi juga baik dan mulia.

Asuransi tidak haram, karena tidak ada satu pun teks dalam Alquran maupun hadis yang secara harfiah mengharamkan asuransi.

Asuransi itu baik, karena dia memenuhi salah satu kebutuhan manusia ketika tertimpa musibah, yaitu uang.

Asuransi itu mulia, karena melalui asuransi, manusia menerapkan praktik tolong-menolong dengan sesamanya.

Kebanyakan orang yang mengharamkan asuransi hanya terpaku pada aspek hukum, tapi luput melihat aspek maslahat dari asuransi itu sendiri, yaitu memenuhi kebutuhan manusia, dan nilai tambah yang ada padanya, yaitu sebagai wujud tolong-menolong. Padahal aspek hukum tentang asuransi ini pun sebetulnya masih merupakan area yang kosong, sehingga terbuka ruang yang luas bagi para ulama untuk berijtihad merumuskan hukum asuransi yang sesuai syariat, dengan dalil-dalil yang digali langsung dari Alquran dan hadis serta tradisi baik di zaman Nabi Muhammad Saw. Lanjutkan membaca “Asuransi Syariah Bukan Hanya Tidak Haram, Tapi Juga Baik dan Mulia”