Edukasi Asuransi

Perbedaan antara Asuransi dengan Investasi

Lebih Prioritas Asuransi atau Investasi? | Muda

Banyak orang yang belum bisa membedakan antara asuransi dengan investasi. Mereka membuka polis asuransi, menyetor dana secara rutin, dan dalam bayangan mereka kelak akan mendapat sejumlah uang yang bisa dipakai untuk pendidikan anak atau keperluan lainnya di masa depan. Tak tahunya, setelah beberapa tahun, ternyata dana mereka bukannya bertambah malah berkurang drastis. Dan ramai-ramailah mereka komplain ke perusahaan asuransi dan juga ke agen yang mengajak mereka.

Ya, memang ada andil agen dalam pemahaman para nasabah mengenai asuransi. Banyak agen, sama dengan nasabah, mengira bahwa produk asuransi yang mereka tawarkan itu bertujuan untuk investasi. Atau jika pun cukup paham tentang produk, tetap yang ditawarkan kepada nasabah lebih ke sisi investasinya.

Tapi agen pun tak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka memperoleh pemahaman seperti itu karena didikan dari leader dan perusahaan. Ya, setidaknya itulah yang terjadi pada dua dekade awal munculnya PAYDI (Produk Asuransi Yang Dikaitkan Dengan Investasi) alias unitlink.

Sekarang, sudah semakin banyak agen dan masyarakat yang sadar bahwa unitlink bukan alat untuk berinvestasi. Bagaimana pun unitlink adalah produk asuransi dan dikeluarkan oleh perusahaan asuransi. Walaupun ada unsur investasinya, tujuannya untuk menjaga keberlangsungan asuransi. Termasuk unitlink dengan premi tunggal, atau unitlink yang dibilang tanpa biaya akuisisi, atau unitlink dengan manfaat asuransi yang kecil, tetaplah bukan instrumen investasi yang layak dipilih dibandingkan dengan instrumen yang murni untuk investasi. 

Jika ingin berinvestasi, lebih baik memilih instrumen investasi murni seperti reksadana, saham, obligasi, atau instrumen tradisional seperti deposito, emas, properti, tanah, pohon, bahkan hewan ternak.  

Jadi, apa bedanya asuransi dengan investasi?

1. Asuransi bertujuan melindungi uang supaya tidak habis, investasi bertujuan mengembangkan uang supaya tambah banyak.

Misalnya anda punya uang 100 juta. Dengan asuransi, anda mencuil sedikit uang tsb, misalnya 5 juta per tahun, untuk mendapatkan perlindungan asuransi kesehatan. Dengan demikian, anda tidak perlu kehilangan seluruh uang anda jika terjadi sakit.

Sedangkan dengan investasi, misalnya anda punya uang 100 juta, anda berpikir bagaimana caranya supaya dalam beberapa tahun ke depan uang tsb menjadi lebih banyak.

Jadi, asuransi itu bersifat pertahanan, sedangkan investasi bersifat pengembangan.

2. Asuransi itu jaga-jaga dari hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja, investasi itu persiapan untuk hal-hal yang diinginkan di masa depan.

Hal-hal tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja misalnya rawat inap, sakit kritis, kecelakaan, cacat tetap, dan meninggal dunia. Kapan saja itu mungkin tahun depan, mungkin bulan depan, atau bahkan mungkin esok hari, kita tak pernah tahu. Datangnya kejadian-kejadian tersebut tidak memandang apakah kita sudah punya uang atau tidak. Untuk itulah kita butuh asuransi supaya dampak keuangannya bisa ditanggulangi atau diminimalkan.

Sedangkan hal-hal yang diinginkan di masa depan itu contohnya pendidikan anak, ibadah haji, liburan, dan pensiun. Semua itu sama-sama butuh dana, tapi waktunya bisa diketahui atau direncanakan sehingga setiap orang bisa mempersiapkannya sejak jauh-jauh hari. Cara mempersiapkannya ialah dengan investasi (jika jangka waktunya relatif panjang) atau menabung (jika jangka waktunya pendek, kurang dari satu tahun).

3. Asuransi itu jangka pendek, investasi itu jangka panjang.

Asuransi itu bersifat jangka pendek karena nilai dari manfaat asuransi akan semakin mengecil seiring waktu. Misalnya anda punya uang pertanggungan jiwa 1 miliar, saat ini nilainya mungkin terasa besar, tapi semakin lama nilainya semakin mengecil karena faktor inflasi. Oleh karena itu, setiap periode tertentu, misalnya setiap 5 tahun, uang pertanggungan asuransi harus ditinjau dan jika perlu ditingkatkan (upgrade).

Atau asuransi kesehatan, plan kamar 750 ribu 10 tahun lalu mungkin cukup untuk mendapatkan kamar VIP, tapi sekarang tidak lagi. Jadi, asuransi kesehatan anda perlu diperbaharui.

Sedangkan investasi itu jangka panjang karena keuntungan investasi akan semakin membesar seiring waktu. Semakin panjang masa investasi, keuntungan yang dihasilkannya akan semakin besar.

4. Asuransi itu tidak butuh waktu untuk menjadi besar, investasi itu butuh waktu untuk menjadi besar.

Ini perbedaan lain yang harus disadari. Banyak orang menolak asuransi karena mendingan uangnya ditabung atau diinvestasikan saja. Padahal jika musibah datang dalam waktu dekat, tentu tabungannya belum banyak dan yang belum banyak itu bisa habis semuanya dalam sekejap. Dengan asuransi, dalam waktu singkat telah tersedia sejumlah besar dana untuk menanggulangi dampak dari musibah yang bisa terjadi kapan saja, karena asuransi itu memakai prinsip berbagi risiko di antara sejumlah orang.

Contoh: uang 5 juta di asuransi akan segera menyediakan dana hingga miliaran rupiah jika terjadi sakit atau meninggal. Tapi uang 5 juta jika diinvestasikan, akan butuh ratusan tahun untuk menjadi miliaran, itu pun jika caranya benar.

5. Asuransi itu kekuatan bersama, investasi itu kekuatan sendiri.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang datangnya tidak terduga, mana yang lebih efektif: melakukannya sendirian atau melakukannya bersama-sama?

Asuransi, baik konvensional maupun syariah, bisa mengumpulkan dana besar secara cepat karena ada banyak orang yang terlibat di dalamnya sebagai peserta. Setiap peserta merelakan uangnya dipakai untuk membayar klaim peserta lain, dan tidak keberatan jika dirinya sendiri tidak memperoleh uang klaim (artinya tidak terjadi musibah).

Sedangkan investasi adalah murni uang sendiri berikut pengembangannya. Nilai investasi pada produk unit-link adalah milik tiap-tiap peserta, tidak tercampur sama sekali dengan uang dari peserta lain. Dalam asuransi yang disebut “asuransi pendidikan” pun, dana tahapan yang diterima peserta seluruhnya berasal dari uang sendiri, tidak ada sama sekali uang dari peserta lain.

6. Asuransi itu hangus, investasi tidak hangus

Dalam perencanaan keuangan, asuransi itu bagian dari biaya seperti halnya pengeluaran untuk listrik dan telepon. Yang namanya biaya, tentu hangus alias tidak kembali. Dalam asuransi jenis unitlink pun, bagian premi yang dialokasikan untuk asuransi sifatnya hangus. Dan sebagai gantinya, kita memperoleh proteksi. Entah musibah terjadi atau tidak, kita tetap memperoleh proteksi. Proteksi tidak bisa dilihat atau diraba secara fisik, tapi bisa dirasakan dalam bentuk ketenangan.

Sedangkan investasi bukanlah biaya, melainkan cara kita mengembangkan uang sehingga menjadi lebih besar dari sebelumnya. Dalam investasi ada biayanya, tapi sebisa mungkin carilah instrumen investasi yang paling minim biayanya, supaya hasilnya lebih maksimal. Dan investasi itu mestinya tidak hangus, kecuali anda menaruh uang anda di investasi bodong (atau di produk asuransi seperti unitlink).

Demikian. []


Untuk konsultasi tentang asuransi Allianz, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (SBP, MDRT Allianz Indonesia)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: asepsopyan.asn@gmail.com | Youtube: Asep Sopyan Network

Edukasi Asuransi, Unit Link

Investasi di Asuransi? Tidak!

Banyak orang mengambil produk asuransi dengan tujuan investasi, seperti untuk pendidikan anak, pensiun, atau sekadar menyimpan dana supaya bisa ditarik sewaktu-waktu dibutuhkan. Tapi pada saat mau ambil dana, di tahun keberapa pun itu, ternyata jumlahnya tidak sesuai dengan yang dibayangkan di awal.

Hal ini tak lepas dari penawaran agen, yang memang banyak sekali yang menawarkan asuransi dengan bahasa tabungan atau investasi, atau menyebutnya asuransi pendidikan, asuransi pensiun, dan sebagainya.

Tapi agen asuransi pun tak sepenuhnya bisa disalahkan. Hal ini juga tak lepas dari kebijakan perusahaan asuransi jiwa yang membuat produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) alias unitlink, dan menjadikannya produk unggulan yang dijual ke masyarakat, dan produk itu pula yang ditrainingkan cara-cara penjualannya kepada para agen.

Perusahaan asuransi pun mungkin bisa berkilah, produk unitlink dibuat karena masyarakat menginginkan produk asuransi yang memberikan manfaat lebih daripada produk tradisional. Dan faktanya, memang industri asuransi meroket sejak produk unitlink diperkenalkan pada awal tahun 2000-an.

Selain itu, juga ada otoritas yang mengizinkan.

Jadi bagaimana sebaiknya?

Saya agen asuransi, dan produk unggulan yang dijual di perusahaan tempat saya bernaung adalah unitlink. Tapi terus-terang saya sama sekali tidak sarankan unitlink untuk tujuan investasi.

Kenapa? Ada dua alasan pokok.

Pertama, fungsi utama asuransi itu adalah proteksi, jaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan, yang bisa terjadi kapan saja. Contoh: sakit, kecelakaan, cacat, meninggal dunia. Sedangkan investasi itu justru ditujukan untuk hal-hal yang diinginkan dan waktunya bisa direncanakan. Contoh: sekolah anak, liburan, perjalanan ibadah, pensiun. Jadi, dari segi fungsi saja asuransi dan investasi itu bukan hanya berbeda, tapi bertolak belakang.

Kedua, potongan biaya di produk unitlink itu sangat besar. Jika tujuannya investasi, tentu saja ini akan menggerus hasil investasi. Kenapa potongannya sangat besar? Karena ada manfaat asuransinya. Manfaat asuransi ini tidak gratis, karena untuk membayar klaim kepada nasabah yang terkena risiko, perusahaan asuransi harus mencadangkan sejumlah dana dan dana ini diambil dari premi nasabah.

Sebesar apa potongan biaya di produk asuransi unitlink? Tergantung manfaat asuransinya. Semakin besar manfaat asuransi (yaitu uang pertanggungan jiwa dan rider), semakin besar potongannya.

Jika anda pernah keberatan dengan biaya administrasi di tabungan bank yang nilainya sekitar belasan ribu per bulan, ketahuilah bahwa itu belum ada apa-apanya dibanding biaya administrasi di asuransi yang bisa mencapai 2-3 kali lipat.

Dan biaya administrasi di asuransi itu hanyalah sebagian kecil dari total biaya yang dikenakan. Ada lagi biaya yang lebih besar, yaitu biaya akuisisi, yang pada tahun pertama saja bisa mencapai 100% dari premi yang anda setorkan. Bayangkan, 100% itu artinya kalau anda setor 1 juta per bulan, maka seluruhnya hangus. Jadi, bagaimana investasi mau untung?

Dan biaya akuisisi ini masih dikenakan hingga 5 tahun dengan totalnya bisa mencapai 200% dari premi tahunan. Sebagai gambaran, jika premi anda 1 juta per bulan (12 juta per tahun), total biaya akuisisi yang dikenakan selama lima tahun bisa mencapai 24 juta.

Tapi itu bukan yang terbesar. Masih ada lagi potongan yang lebih besar daripada biaya akuisisi, yaitu biaya asuransi (cost of insurance). Besarnya biaya asuransi tergantung UP dasar dan rider yang diambil. Awalnya mungkin kecil (standar 10-20% dari premi, ada juga yang sampai 40-an%), tapi biaya ini naik setiap tahun seiring bertambahnya usia nasabah sehingga lama-lama bisa melebihi premi, dan dikenakan seumur hidup (atau selama polis masih aktif). (Selengkapnya tentang struktur biaya unitlink, bisa dibaca di SINI).

Jadi, bagaimana mungkin investasi di asuransi bisa untung?

Kalau memang berinvestasi di asuransi tidak disarankan, kenapa produk asuransi ada investasinya?

Pada produk unitlink, fungsi investasi adalah sebagai cadangan dana agar polis tetap aktif. Jadi, aktifnya manfaat asuransi tergantung keberadaan nilai investasi. Kalau dananya ditarik, saldo berkurang dan akan lebih cepat habis karena potongan biaya asuransi terus berjalan.

Jadi, bagi anda yang bertujuan investasi, pilihlah instrumen yang memang ditujukan khusus untuk investasi. Misalnya: deposito, reksadana, saham, obligasi, emas, tanah, properti, atau memodali suatu bisnis. Boleh juga seperti cara orangtua kita dulu, berinvestasi dengan menanam pohon dan memelihara ternak.

Dan jika anda ambil asuransi, walaupun itu produk unitlink yang ada investasinya, niatkan untuk tujuan proteksi.

Itu. []


Untuk konsultasi asuransi secara GRATIS, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Youtube: Asep Sopyan Network

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Edukasi Asuransi

9 Kesalahan Umum dalam Berasuransi

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Di lapangan, tak jarang saya menemukan orang-orang yang sebetulnya sudah bagus mau ambil asuransi tapi dengan tujuan atau cara yang tidak tepat. Hal ini dapat menyebabkan asuransi yang diambilnya tidak memberikan manfaat secara optimal. Tentunya kita tidak mau, bukan, sudah keluar uang lumayan besar setiap bulan atau setiap tahun, ternyata tidak dapat membantu kita pada saat dibutuhkan, atau tidak memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

Kita perlu memahami kekeliruan-kekeliruan tersebut agar tidak terulang pada diri kita, dan agar kita bisa mendapatkan manfaat yang optimal dari asuransi.

Ada sembilan kesalahan umum yang lazim terjadi pada orang-orang yang mengambil asuransi.

1. Mengambil asuransi untuk tujuan menabung atau investasi

Sesuai arti harfiahnya, asuransi itu proteksi, bukan tabungan atau investasi. Apa bedanya? Proteksi itu jaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja, sedangkan menabung dan investasi itu persiapan dana untuk suatu kebutuhan yang diinginkan atau direncanakan di masa depan.

Memang, produk asuransi yang banyak ditawarkan zaman sekarang, yaitu unitlink, ada investasinya. Tapi produk tersebut tetaplah produk asuransi. Jika ingin berinvestasi melalui produk tersebut, perlu disadari bahwa potongan biaya-biayanya sangat besar setiap bulannya, dan itu akan menggerus nilai investasi anda. Sudah banyak sekali kasus orang yang merasa tertipu dan rugi karena saat dana ditarik, jumlahnya jauh lebih kecil daripada dana yang telah disetorkan.

Jadi, walaupun produk asuransi yang anda ambil itu jenisnya unitlink, tujuannya tetap proteksi. Yang dilihat adalah sisi proteksinya, bagus atau tidak, mencukupi atau tidak. Sedangkan sisi investasinya berfungsi untuk menjaga keberlangsungan proteksi, bukan diambil untuk keperluan lain.

2. Mendahulukan asuransi untuk anak

Kadang ada orangtua karena saking sayangnya dengan anak, dia ambilkan asuransi untuk anaknya lebih dahulu tapi dia sendiri sebagai orangtuanya tidak. Kenapa ini salah? Karena kalau terjadi apa-apa pada orangtua, siapa yang akan melanjutkan membayar polis? Oke, mungkin bisa ditambahkan manfaat pembebasan premi. Tapi yang lebih penting, siapa yang memberi makan si anak kalau orangtuanya tidak ada dan tidak meninggalkan warisan yang banyak?

Ini ibaratnya kalau di pesawat, ketika terjadi keadaan darurat, si orangtua memasangkan pelampung untuk anaknya lebih dahulu. Kenapa ini salah? Karena kalau terjadi sesuatu lebih dulu pada orangtua, anak tidak akan bisa menolong. Dan bukan hanya itu, si anak pun bisa tidak tertolong walaupun sudah memasang pelampung.

3. Manfaat asuransinya kecil

Manfaat kecil di sini dibandingkan dengan premi yang dibayarkan. Ditinjau dari konsep asuransi sebagai proteksi, tentunya tujuan proteksi jadi tidak tercapai. Dan jika pun tujuannya ingin investasi, tetap sulit dicapai karena terbentur potongan biaya yang terlalu besar.

Ada orang punya polis dengan premi 500 ribu per bulan, tapi UP jiwanya hanya 50 juta, dan manfaat lain seperti kecelakaan dan sakit kritis pun hanya beberapa puluh juta saja, padahal usia masih muda. Uang 50 juta mungkin terlihat besar, tapi dalam kondisi kena musibah, itu akan sangat kurang sekali. Saat saya bilang dengan premi segitu bisa mendapat UP 1 miliar (jika UP jiwa saja), atau 250 sd 500 juta (jika ditambah rider kecelakaan, cacat, dan sakit kritis), dia kaget.

Yang paling ekstrem, saya pernah mendapati ada nasabah yang punya polis di suatu asuransi dengan premi 100 juta setahun, dan itu full premi (premi dasar semua tanpa top up berkala, enak banget agennya), UP jiwanya hanya 500 juta alias hanya 5x dari premi tahunan, padahal usianya baru 30 tahunan. Lalu saya buatkan polis dengan UP jiwa 5 miliar, premi hanya 26 juta per tahun. Kalau mau investasi, selisihnya 74 juta silakan ditaruh di deposito atau reksadana.

Polis dengan manfaat asuransi yang kecil-kecil seperti itu banyak sekali. Sebabnya ada dua kemungkinan:

  • Produknya tidak memungkinkan memberikan manfaat yang besar, karena iming-imingnya lebih ke investasi. Tapi yang mengherankan, kok full premi ya, karena biaya akuisisinya jadi besar sekali. Jelas ini pengerukan thd uang nasabah. Jika ingin menawarkan investasi besar, seharusnya top up berkala atau premi savernya yang diperbesar, atau tawarkan single premium sekalian.
  • Agennya menawarkan seperti itu agar preminya bisa balik setelah sekian tahun. Jadi agennya mempertimbangkan sisi investasinya juga. Its oke, walaupun soal premi yang bisa balik itu sifatnya tidak dijamin. Dan jadi tidak oke jika premi yang ditawarkan ke nasabah seluruhnya ditaruh sebagai premi dasar, karena berarti agennya mengambil komisi terlalu banyak.

Sementara pada saat yang sama, nasabah yang memang masih awam, tidak paham bahwa uangnya telah diambil banyak sekali oleh perusahaan asuransi atau agen asuransi tanpa mendapatkan timbal balik berupa manfaat asuransi yang memadai.

4. Ambil asuransi karena gak enak sama temen atau sodara

Ambil asuransi dari teman atau saudara yang menjadi agen asuransi itu tidak salah, tapi kalau alasannya karena gak enak, itu bisa berisiko terhadap diri sendiri. Yang lebih penting itu kenali manfaat asuransi yang diambil, apakah sesuai kebutuhan atau tidak. Jangan sampai setelah ambil asuransi, ketika terjadi sesuatu ternyata tidak bisa diklaim karena manfaatnya tidak sesuai.

5. Tidak tahu manfaat asuransi yang diambil

Banyak orang mengaku sudah punya asuransi, tapi ketika ditanya manfaat apa saja yang terdapat dalam polisnya, mereka tidak bisa menjawab. Polis itu jangan sekadar dikoleksi, tapi harus diketahui dan dipahami manfaatnya. Asuransi itu ada bermacam-macam tergantung risiko yang ditanggungnya. Pastikan anda tahu kejadian apa saja yang bisa diklaim. Baca polis dan tanyakan kembali pada agen jika kurang paham.

6. Tidak baca polis

Banyak orang setelah menerima buku polis lantas langsung menyimpannya di lemari. Mestinya dibaca dulu setidaknya di bagian data polis, jika ada yang kurang paham tanyakan kepada agen atau baca isi polisnya. Setelah dipahami, barulah disimpan di tempat penyimpanan yang aman.

Buku polis asuransi memang bukan bacaan yang mengasyikkan karena isinya pasal-pasal dan tulisannya kecil-kecil, mirip dengan kitab hukum. Tapi ini bukan alasan untuk tidak memahami isinya.

Yang dikhawatirkan karena tidak baca polis adalah anda tidak memahami atau salah memahami manfaat polis yang dimiliki. Terkadang banyak orang menyalahkan agen bukan semata karena si agennya yang salah, tapi nasabah pun tidak membaca polisnya.

7. Tidak memantau perkembangan polis

Nah, ini kesalahan yang mengherankan. Biasanya terhadap uang itu orang sangat perhatian hingga ke recehan yang paling kecil. Tapi terhadap uang premi yang disetorkan secara rutin ke perusahaan asuransi, kenapa banyak orang yang abai dan memilih percaya saja? Maunya tahu hasil akhirnya saja, dan hasilnya harus untung sesuai yang dibayangkan di awal, tapi saat ditarik ternyata mengejutkan. Akhirnya banyak yang ngamuk-ngamuk di kantor asuransi dan dilanjutkan di media sosial.  

Jika sadar sejak awal dan ternyata salah beli asuransi, setidaknya kerugian yang dialami tidak perlu terakumulasi.

Perkembangan nilai investasi polis dapat dipantau di laporan bulanan yang dikirim ke alamat rumah atau ke email, dan sekarang ini banyak perusahaan asuransi juga sudah menyediakan portal online yang dapat diakses setiap saat. Jadi tak ada alasan untuk kaget saat mau tarik dana, mestinya. Jika tidak ada laporan secara rutin, segeralah menanyakan ke perusahaan asuransi atau melalui agen.

8. Tidak melakukan evaluasi terhadap polis asuransi secara berkala

Kadang ada orang ketika ditanya apakah sudah punya polis asuransi, dijawab sudah. Kapan ambilnya, ternyata belasan tahun lalu. Nah, polis yang diambil belasan tahun lalu itu kemungkinan besar tidak mencukupi lagi manfaatnya di masa sekarang. Misalnya jika asuransi jiwa, perlu dilihat UP-nya berapa. UP 50 juta tahun 2002 mungkin terasa besar, tapi sekarang tak seberapa. Kalau asuransi kesehatan, plan kamar 200 ribu dulu sudah wah, sekarang kamar kelas 3 saja sudah tidak dapat.

Jadi, penting untuk mengevaluasi polis secara berkala, disesuaikan dengan perkembangan penghasilan, pertambahan anggota keluarga, inflasi, dan sebagainya.

9. Tidak jujur dengan kondisi kesehatan

Kejujuran merupakan syarat sahnya sebuah polis asuransi, sesuai dengan prinsip utmost good faith atau itikad baik. Polis yang diketahui tidak jujur, klaimnya akan ditolak, bahkan polis pun bisa dibatalkan.

Contoh tidak jujur, misalnya ada riwayat sakit tapi tidak disampaikan di form SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa). Jika terjadi klaim yang berat di tahun-tahun awal, perusahaan asuransi akan melakukan investigasi untuk memastikan kebenaran klaim dan kesesuaian dengan data yang disampaikan di SPAJ. Jika tidak sesuai, itu bisa jadi alasan bagi perusahaan asuransi untuk menolak klaim.

Demikian. []


Untuk berkonsultasi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Jadi agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda