Asuransi Kesehatan

Asuransi Kesehatan dan Hal-hal yang Perlu Diketahui

Asuransi kesehatan adalah asuransi yang memberikan penggantian terhadap biaya perawatan di rumah sakit atau klinik. Perawatan bisa berarti rawat inap, pembedahan, rawat jalan, rawat gigi, atau melahirkan.

Pada umumnya produk asuransi kesehatan yang dijual di pasaran hanya menanggung rawat inap dan pembedahan (hospital & surgical). Sedangkan rawat jalan, rawat gigi, dan melahirkan, kalau ada, ditawarkan sebagai rider atau manfaat tambahan.

Prosedur penggantian biaya pada asuransi kesehatan untuk saat ini sudah lazim dilengkapi fasilitas cashless, khususnya untuk manfaat rawat inap dan pembedahan, sehingga nasabah cukup menunjukkan kartu asuransinya kepada petugas administrasi rumah sakit yang menjadi rekanan asuransi, dan pihak rumah sakit yang akan menagih ke perusahaan asuransi. Namun cara klaim secara reimbursement (bayar dulu lalu ajukan klaim) tetap disediakan karena tidak semua manfaat bisa diklaim secara cashless. Lagi pula fasilitas cashless itu hanya bisa diberikan di RS yang menjadi mitra perusahaan asuransi.

Macam-macam Produk Asuransi Kesehatan

Berdasarkan Jenis Produk

Berdasarkan kemasan produknya, asuransi kesehatan ada yang berbentuk asuransi murni yang berdiri sendiri (stand alone) dan ada pula yang menjadi rider (asuransi tambahan) pada asuransi jiwa jenis unitlink (asuransi plus investasi).

Produk asuransi kesehatan murni pada umumnya memberikan manfaat dasar rawat inap (plus pembedahan), dan bisa ditambah rider rawat jalan, rawat gigi, dan melahirkan dengan tambahan premi.

Sedangkan produk asuransi kesehatan rider unitlink hanya menyediakan manfaat rawat inap (dan pembedahan). Karena dirinya sendiri sudah merupakan rider, tentunya tidak bisa ditambah rider lain.

Bagaimana dengan preminya, mana yang lebih murah antara asuransi kesehatan murni dengan asuransi kesehatan unitlink? Terus-terang keduanya tidak bisa dibandingkan secara langsung. Belum tentu perusahaan asuransi akan menyediakan produk yang sama dengan dua skema sekaligus. Jika pun ada, tetap tidak bisa dibandingkan secara adil karena asuransi kesehatan di unitlink ada manfaat asuransi jiwa dan ada investasinya. Memang, premi di asuransi kesehatan jenis unitlink akan lebih tinggi, tapi preminya bersifat flat atau tetap untuk jangka waktu yang panjang karena terbantu oleh investasinya, sedangkan premi asuransi kesehatan murni akan naik seiring usia.

Contoh produk asuransi kesehatan murni di Allianz: Allisya Care, Maxi Violet, dan Smartmed Premier.

Contoh produk asuransi kesehatan unitlink di Allianz: Rider HSC+ dan Rider HSC Premier X.

Berdasarkan Limit Manfaat

Berdasarkan limit atau plafon yang diberikan, asuransi kesehatan ada yang mengenakan inner limit dan ada yang sesuai tagihan dengan limit tahunan.

Inner limit artinya ada limit atau batasan untuk tiap manfaat yang ditanggung, seperti untuk kamar, ICU, dokter, obat-obatan, pembedahan, hingga perawatan sebelum dan sesudah rawat inap.

Sedangkan sesuai tagihan (as charge atau on bill) artinya tidak mengenakan limit untuk tiap-tiap manfaat tsb, tapi tetap ada limit secara tahunan (yearly limit).

Asuransi kesehatan sesuai tagihan lebih nyaman bagi penggunanya, karena selama tagihan RS tidak melebihi limit tahunan yang umumnya cukup besar, dia bisa pulang dari RS tanpa membayar sepeser pun. Tentunya premi asuransi kesehatan sesuai tagihan lebih tinggi daripada premi asuransi kesehatan inner limit. Kedua jenis asuransi kesehatan ini ada yang berbentuk asuransi murni dan ada yang merupakan rider unitlink.

Berikut adalah contoh perbedaan tabel manfaat antara asuransi kesehatan inner limit dan asuransi kesehatan sesuai tagihan.

Selain inner limit dan limit tahunan, ada variasi jenis limit yang perlu diketahui oleh pengguna asuransi, yang mungkin saja terdapat pada produk asuransi kesehatan yang diambil. Antara lain:

  • Limit per ketidakmampuan atau per penyakit
  • Limit jumlah hari dalam setahun, misalnya 180 hari setahun, atau tanpa batasan hari dalam setahun.
  • Limit jumlah kunjungan dokter per hari, misalnya 1 atau 2 kunjungan dokter per hari.
  • Limit masa perawatan sebelum dan sesudah rawat inap, misalnya 30 hari sebelum dan 30 hari sesudah rawat inap.
  • Limit masa klaim rawat jalan dan gigi darurat karena kecelakaan, misalnya 14 hari.
  • Limit untuk jenis manfaat tertentu. Asuransi kesehatan sesuai tagihan pun biasanya tetap mengenakan limit untuk manfaat tertentu, misal limit untuk kemoterapi, limit untuk fisioterapi, limit untuk dialisa, hingga limit untuk pengobatan eksperimental (jika ada).

Contoh produk asuransi kesehatan inner limit di Allianz: Allisya Care, Maxi Violet, dan Rider HSC+.

Contoh produk asuransi kesehatan sesuai tagihan di Allianz: Smartmed Premier dan Rider HSC Premier X.

Plan Kamar

Sebuah produk asuransi kesehatan selalu terdiri dari beberapa plan, di mana plan ini menentukan besarnya limit manfaat, dan tentu berbeda pula preminya, dan calon nasabah dapat memilih sesuai kebutuhan atau kemampuannya.

Plan kamar dalam asuransi asuransi kesehatan dapat didasarkan pada tiga hal:

  1. Harga kamar per hari
  2. Jumlah tempat tidur
  3. Kelas kamar

Pada asuransi kesehatan inner limit, plan yang digunakan umumnya berdasarkan harga kamar per hari. Misalnya plan kamar 250 ribu, plan kamar 500 ribu, plan kamar 800 ribu, plan kamar 1 juta, dan sebagainya. Dari perbedaan plan kamar ini, akan berbeda pula limit untuk tiap manfaat yang ditanggung. Semakin tinggi plan, semakin tinggi limitnya, dan tentunya preminya pun lebih tinggi pula.

Di Allianz, produk Allisya Care, Maxi Violet, Smartmed Premier, dan Rider HSC+ plan kamarnya didasarkan harga kamar per hari.

Pada asuransi kesehatan sesuai tagihan, untuk produk-produk keluaran baru (sejak sekitar tahun 2019), plan yang digunakan umumnya berdasarkan jumlah tempat tidur, sedangkan untuk produk-produk keluaran lama, jika masih ada, plannya berdasarkan harga kamar. Smartmed Premier termasuk asuransi kesehatan sesuai tagihan keluaran lama, tahun 2014, jadi plan kamarnya masih didasarkan pada harga kamar.

Jumlah tempat tidur per kamar di rumah sakit ada yang 1 tempat tidur, 2 tempat tidur, atau lebih banyak. Plan yang digunakan dalam produk asuransi pada umumnya hanya dua opsi, yaitu 1 tempat tidur (privat) dan 2 tempat tidur (standar atau semi-privat). Jika ada lebih dari satu kelas kamar dengan 1 tempat tidur, misalnya ada VIP dan VVIP, maka yang jadi patokan adalah kamar yang harganya paling rendah (VIP). 

Karena pilihannya hanya dua opsi, plan yang berdasarkan jumlah tempat tidur sering ditambah variasinya dengan membedakan wilayah perlindungan, misalnya Indonesia saja, Indonesia dan Malaysia, Asia kecuali Jepang-Singapura-Hongkong, Asia, seluruh dunia kecuali Amerika Serikat, hingga seluruh dunia termasuk Amerika Serikat. Tentunya semakin luas wilayah perlindungan, semakin tinggi preminya.

Plan berdasarkan jumlah tempat tidur juga sering dikombinasikan dengan harga kamar. Misalnya: plan 1 tempat tidur atau plan kamar 1 juta per hari, mana yang lebih besar. Jika kamar 1 tempat tidur terendah harganya 1,2 juta per hari, nasabah dapat memilih kamar tsb. Tapi jika kamar 1 tempat tidur terendah harganya 750 ribu per hari, dan di atasnya ada kamar 1 tempat tidur seharga 1 juta, maka nasabah dapat memilih kamar yang harganya 1 juta per hari. Jadi nasabah dapat memilih mana yang lebih nyaman untuknya.

Di Allianz, Rider HSC Premier X merupakan contoh asuransi kesehatan yang plan kamarnya didasarkan jumlah tempat tidur dan wilayah pertanggungan, serta dikombinasi dengan harga kamar per hari.

Sedangkan plan berdasarkan kelas kamar, sepertinya sejauh ini hanya diterapkan oleh JKN dari BPJS. Itu pun hanya kelas 1, kelas 2, dan kelas 3. Tidak termasuk kelas VIP.

Masa Tunggu Manfaat

Selain manfaat dan premi, satu hal yang perlu diketahui oleh nasabah adalah masa tunggu penggunaan manfaat asuransi kesehatan. Masa tunggu artinya jika terjadi sakit pada masa tersebut, klaim belum bisa dilakukan atau akan ditolak.

Secara umum masa tunggu dibedakan berdasarkan empat sebab:

  1. Kecelakaan: umumnya tidak ada masa tunggu
  2. Penyakit secara umum: umumnya masa tunggu 30 hari
  3. Penyakit khusus atau penyakit kronis: umumnya masa tunggu 12 bulan
  4. Penyakit yang sudah ada (preexisting condition): ada yang dikecualikan selamanya, ada yang dikenakan masa tunggu 2 tahun.

Di Allianz sendiri, masa tunggu manfaat berbeda-beda tergantung produk.

Pada produk Allisya Care dan Maxi Violet, kecelakaan dan penyakit secara umum tidak dikenakan masa tunggu, penyakit khusus masa tunggu 12 bulan, dan penyakit yang sudah ada dikecualikan selamanya.

Pada produk Smartmed Premier, kecelakaan tanpa masa tunggu, penyakit secara umum dikenakan masa tunggu 30 hari, penyakit khusus masa tunggu 12 bulan, dan penyakit yang sudah ada masa tunggu 2 tahun (jika disetujui untuk ditanggung).

Pada produk Rider HSC+, kecelakaan dan penyakit secara umum dikenakan masa tunggu 30 hari, penyakit khusus masa tunggu 12 bulan, dan penyakit yang sudah ada tidak ditanggung.

Pada produk Rider HSCPX, kecelakaan tidak ada masa tunggu, penyakit secara umum dikenakan masa tunggu 30 hari, penyakit khusus masa tunggu 12 bulan, dan penyakit yang sudah ada masa tunggu 2 tahun (jika disetujui untuk ditanggung).

Selain empat sebab di atas, ada juga masa tunggu untuk beberapa penyakit lain yang sifatnya spesifik. Misalnya pada produk HSCPX, penyakit kanker dan penyakit kritis katastropik dikenakan masa tunggu 90 hari (bukan 12 bulan seperti penyakit khusus lainnya). Kemudian penyakit HIV/AIDS dikenakan masa tunggu 5 tahun.

Lalu jika ambil rider melahirkan, untuk melahirkannya dikenakan masa tunggu 280 hari (9 bulan 10 hari), yang artinya pada saat masuk harus dalam keadaan belum hamil. Tapi untuk kontrol kehamilan tidak ada masa tunggu.

Penyakit Khusus dan Penyakit yang Sudah Ada (Preexisting)

Apa itu penyakit khusus dan kenapa dikenakan masa tunggu 12 bulan? Lalu apa bedanya dengan penyakit yang sudah ada atau preexisting?

Penyakit khusus merujuk pada segala jenis penyakit yang bersifat kronis, bersifat menetap atau menahun, datangnya perlahan-lahan dan penyembuhannya seringkali membutuhkan waktu yang lama, atau kalaupun bisa disembuhkan biasanya masih menimbulkan bekas dalam jangka panjang.

Termasuk penyakit khusus antara lain:

  • Batu dalam ginjal dan gagal ginjal
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah
  • Hipertensi dan kolesterol
  • Katarak
  • Segala jenis kista, polip, tumor, kanker
  • Penyakit yang berhubungan dengan THT yang memerlukan pembedahan
  • Kencing manis
  • TBC
  • Gangguan kelenjar tiroid
  • Hernia
  • Ganggungan hematologi (kelainan darah)

Beberapa produk kadang berbeda dalam menetapkan jumlah penyakit khusus. Untuk detailnya harus dilihat di buku polis yang diambil.

Kenapa penyakit khusus dikenakan masa tunggu 12 bulan? Karena penyakit jenis ini jika muncul hari ini, sebetulnya dia sudah mengendap beberapa lama sebelumnya. Contoh batu ginjal, itu batu tidak tiba-tiba langsung besar dan bikin orang tak bisa kencing, tapi melalui proses perlahan-lahan yang seringkali tidak disadari. Sejumlah penyakit khusus juga membutuhkan proses penyembuhan yang lama, atau bahkan tidak bisa hilang. Seperti kolesterol dan diabetes, keduanya hampir-hampir tidak bisa dihilangkan secara total.

Hal ini berbeda misalnya dengan penyakit biasa (kita sebut saja begitu), yang bisa tiba-tiba muncul tapi jika diobati dengan benar bisa langsung hilang tanpa bekas. Misalnya tipes, akibat kecapaian dan kurang tidur, orang bisa kena tipes dan butuh dirawat, tapi setelah menginap beberapa hari di rumah sakit, dia bisa pulih kembali seperti sediakala. Atau DBD, kena gigitan nyamuk lalu sakit panas tinggi, setelah masa kritis terlewati dia bisa sembuh secara total.

Sedangkan penyakit yang sudah ada adalah penyakit yang sudah pernah dialami, dirasakan, dilakukan pengobatan, atau disarankan untuk pengobatan terlepas dari pengobatannya sudah dilakukan atau belum.

Tidak semua penyakit yang pernah dialami akan masuk kategori preexisting. Penyakit biasa seperti tipes dan DBD, walaupun pernah dialami, biasanya akan diabaikan saja karena penyakit ini bisa sembuh total.

Tapi penyakit-penyakit khusus atau kronis seperti disebutkan di atas, jika pernah dialami, akan dipertimbangkan untuk masuk kondisi preexisting. Bekas luka permanen atau cacat akibat kecelakaan juga masuk preexisting. Biasanya diperlukan dokumen medis tambahan atau bahkan permintaan tes medis untuk melihat kondisi terkini kesehatan calon nasabah. Dari situ underwriting akan memutuskan apakah pengajuan polis dengan adanya penyakit yang sudah ada tersebut ditanggung dengan premi standar, atau dikenakan premi tambahan, atau dikenakan pengecualian, atau dikenakan masa tunggu yang lebih lama.

Pengecualian-pengecualian Lainnya

Perlu dipahami bahwa asuransi kesehatan dibuat untuk melindungi penggunanya dari kehilangan uang akibat risiko sakit, yang itu tentunya tidak diinginkan, tidak disengaja, dan tidak diketahui waktunya. Siapa yang mau sakit? Tentunya tidak ada. Tapi karena sakit bisa datang kapan saja, dan sakit butuh biaya, maka perlu disiapkan biayanya.

Tapi ada beberapa risiko yang timbul karena sesuatu yang diinginkan, disengaja, dan diketahui waktunya. Nah, risiko-risiko ini tidak ditanggung dalam asuransi kesehatan. Contohnya bisa banyak sekali, antara lain:

  • Perawatan kecantikan atau kosmetika
  • Perawatan untuk meningkatkan kesuburan
  • Perawatan untuk menambah atau menurunkan berat badan
  • Kecelakaan akibat melakukan hobi berisiko tinggi
  • Kehamilan dan melahirkan (kecuali ditambah rider melahirkan).

Semua itu keinginan sendiri, jadi tidak ditanggung karena tidak sesuai dengan tujuan dibuatnya asuransi kesehatan. Melahirkan pun sebetulnya bukan area yang perlu untuk diasuransikan, tapi karena banyak permintaan maka ada perusahaan asuransi yang membuat produk ini, dengan syarat dan kondisi yang ketat, antara lain masa tunggu yang lebih lama dari masa kehamilan normal dan premi yang cukup tinggi.

Ekses Klaim

Fasilitas cashless merupakan salah satu kelebihan asuransi kesehatan, di mana peserta cukup menunjukkan kartu asuransinya saat awal masuk rumah sakit sehingga tidak perlu setor deposit atau gesek kartu kredit. Tapi kenyamanan ini hanya berlaku selama limit asuransi masih ada.

Pada asuransi kesehatan dengan inner limit, sangat mungkin limit manfaat tertentu akan habis padahal nasabah masih dirawat. Hal ini menimbulkan selisih biaya antara tagihan rumah sakit dengan biaya yang ditanggung asuransi. Inilah yang disebut ekses klaim, dan harus dibayar oleh nasabah sebelum pulang dari rumah sakit.

Sedangkan pada asuransi kesehatan sesuai tagihan, selama nasabah masuk kamar perawatan yang sesuai haknya, potensi ekses klaim sangat kecil tapi bukan berarti tidak ada. Bisa saja limit tahunan habis. Dan jika masuk kamar lebih tinggi dari plan, sudah pasti akan kena ekses klaim. Ada yang dikenakan inner limit seperti pada produk Smartmed Premier, ada juga yang secara prorata seperti pada produk Rider HSCPX dan pada umumnya asuransi kesehatan sesuai tagihan lainnya. Prorata artinya harga kamar sesuai plan dibagi harga kamar yang dimasuki dikalikan jumlah tagihan rumah sakit.

Double Claim dan COB

Ada orang punya lebih dari satu asuransi kesehatan, atau sudah punya asuransi dari kantor tapi tertarik saat ada agen menawari asuransi. Pertanyaannya, bisakah double claim?

Jawabnya, tidak bisa double claim, tapi bisa COB (coordination of benefit).

Apa bedanya double claim dengan COB?

Dengan double claim, kedua asuransi kesehatan diharapkan memberikan penggantian secara penuh sesuai benefit yang diberikan. Contoh, tagihan rumah sakit 50 juta. Asuransi pertama sudah membayar misalnya 40 juta, lalu asuransi kedua dari tabel manfaatnya mampu membayar 25 juta. Nah, yang 25 juta ini tidak bisa diklaim seluruhnya (double claim), tapi yang bisa diklaim adalah sebesar selisihnya saja yaitu 10 juta (COB).

COB juga bisa diberlakukan antara asuransi JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) BPJS dengan asuransi swasta, jika ada ekses klaim pada JKN (misalnya karena naik kelas perawatan atau untuk obat-obatan yang tidak ditanggung JKN).

Dalam hal ini asuransi kesehatan berbeda dengan asuransi penyakit kritis atau asuransi jiwa yang manfaatnya berbentuk uang pertanggungan sesuai yang tertera di polis. Kedua asuransi yang disebut terakhir ini bisa double claim dengan asuransi sejenis lainnya, baik dari perusahaan yang sama maupun perusahaan yang berbeda.

Oya, ada satu jenis asuransi kesehatan yang bisa double claim, yaitu asuransi santunan harian (cash plan). Produk ini memberikan santunan harian sesuai jumlah hari dirawat. Jika santunan per hari 500 ribu, dirawat lima hari, maka nasabah mendapat 2,5 juta, dan cara klaimnya reimbursement. Produk ini merupakan pelengkap dari asuransi kesehatan. Dasar pemikirannya adalah bahwa memang tagihan rumah sakit bisa dibayar oleh asuransi kesehatan, tapi pengeluaran di luar tagihan rumah sakit seperti transportasi, makanan untuk orang yang menemani, sampai kehilangan potensi penghasilan karena tidak bekerja selama sakit, semua itu tidak diganti oleh asuransi kesehatan. Jadi diperlukan asuransi santunan harian untuk menggantikan hal-hal tsb.

Demikian hal-hal yang perlu diketahui mengenai asuransi kesehatan. Sebetulnya masih banyak yang perlu dibahas, tapi ini pun sudah cukup panjang. Jadi untuk hal-hal yang belum dijelaskan atau kurang dipahami, silakan ditanyakan saja mudah-mudahan bisa dijawab.

Semoga bermanfaat. []

Untuk konsultasi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (MDRT Allianz 2021)

HP/WA: 082111650732 | Email: myallisya@gmail.com | Youtube: Asep Sopyan Network

Asuransi Kesehatan

Contoh Ilustrasi Asuransi Rawat Jalan, Rawat Gigi, dan Melahirkan

Banyak orang yang menanyakan asuransi untuk rawat jalan, rawat gigi, dan melahirkan atau persalinan (maternity). Saya tidak rekomendasikan ketiga asuransi tsb untuk diambil. Yang saya rekomendasikan hanyalah asuransi untuk Rawat inap dan asuransi untuk risiko yang lebih berat (sakit kritis, cacat tetap, meninggal dunia).

Tapi ada baiknya saya sampaikan ilustrasi produknya kepada anda, agar anda dapat menilainya sendiri.

Di Allianz, ada tiga produk yang menyediakan manfaat rawat jalan, rawat gigi, dan melahirkan, yaitu Allisya Care, Maxi Violet, dan Smartmed Premier. Manfaat dasar rawat inap, sedangkan rawat jalan, gigi, dan melahirkan merupakan rider (asuransi tambahan) dengan tambahan premi.

Contoh Ilustrasi Asuransi Rawat Jalan, Gigi, dan Melahirkan pada Produk Allisya Care

Berikut adalah contoh premi Allisya Care Plan E (kamar 500 ribu per hari), dengan manfaat Rawat inap, rawat jalan, rawat gigi, dan melahirkan. Tertanggung seorang wanita usia 30 tahun. Premi untuk tiap manfaat ditandai dengan warna kuning.

Seperti terlihat di atas, premi Rawat inap 2,425 juta, premi Rawat jalan 3,707 juta, premi Melahirkan 5,409 juta, dan premi Rawat gigi 902 ribu. Total premi 12,479 juta per tahun. Dengan demikian, tampak bahwa premi Rawat jalan dan melahirkan lebih tinggi daripada premi Rawat inap.

Bagaimana dengan manfaatnya?

Berikut adalah tabel manfaat Rawat jalan.

Dengan tambahan premi 3,7 juta per tahun, manfaat yang terpenting seperti obat-obatan dibatasi 4 juta setahun. Lalu ada co-share (berbagi risiko) 20%, artinya 20% biaya ditanggung nasabah dan 80% ditanggung asuransi. Lalu cara klaim Rawat jalan ini adalah dengan sistem reimbursement (bayar dulu lalu ajukan klaim).

Berikut adalah tabel manfaat Rawat gigi.

Dengan tambahan premi 902 ribu setahun, tersedia manfaat pencegahan sebesar 2 x 125 ribu. Ini bisa untuk scaling atau pembersihan karang gigi. Sedangkan manfaat lainnya hanya berlaku untuk kondisi sakit gigi.

Seperti halnya rawat jalan, untuk rawat gigi pun berlaku co-share (berbagi risiko) 20% dan cara klaim hanya bisa secara reimbursement.

Selanjutnya tabel manfaat Melahirkan.

Dengan tambahan premi 5,4 juta setahun, tersedia manfaat jika melahirkan normal sebesar 5 juta, dan jika melahirkan dengan operasi sesar 10 juta. Ada bonus untuk kontrol sebelum dan sesudah melahirkan 2,5 juta.

Asuransi melahirkan hanya bisa diambil sebelum hamil, karena ada masa tunggu melahirkan 280 hari (9 bulan 10 hari). Artinya, anda hanya punya waktu kurang dari 3 bulan untuk hamil, dan harus melahirkan sebelum 12 bulan berakhir. Jika tidak, anda harus memperpanjang polis asuransinya.

Contoh Ilustrasi Asuransi Rawat Jalan, Gigi, dan Melahirkan pada Produk Maxi Violet

Berikut adalah tabel premi Maxi Violet plan E (kamar 500 ribu) untuk manfaat Rawat inap, Rawat jalan, Rawat gigi, dan Melahirkan. Tertanggung seorang wanita usia 30 tahun.

Seperti terlihat di tabel, premi untuk Rawat inap 2,548 juta, premi Rawat jalan 4,705 juta, Melahirkan 5,409 juta, dan Rawat gigi 902 ribu. Dengan demikian, premi untuk Rawat jalan dan Melahirkan lebih tinggi daripada premi untuk Rawat inap.

Bagaimana manfaatnya?

Berikut adalah tabel manfaat Rawat jalan.

Dengan tambahan premi 4,7 jutaan setahun, tersedia limit untuk obat-obatan sebesar 4,7 juta. Seperti halnya Allisya Care, yang ini pun dikenakan co-share (berbagi risiko) 20%, dan cara klaimnya hanya reimbursement.

Untuk tabel manfaat Rawat gigi dan Melahirkan, premi maupun manfaatnya sama seperti Allisya Care.

Contoh Ilustrasi Asuransi Rawat Jalan, Gigi, dan Melahirkan pada Produk Smartmed Premier

Berikut adalah premi Smartmed Premier plan A (kamar 500 ribu) untuk manfaat Rawat inap, Rawat jalan & gigi, dan Melahirkan. Tertanggung seorang wanita usia 30 tahun.

Seperti terlihat pada tabel di atas, premi Rawat inap 3.866.800, premi Rawat jalan & gigi 6.091.000, dan premi manfaat Melahirkan 9.739.200 . Total 19.733.000 setahun. Dengan demikian, terlihat bahwa premi untuk manfaat Rawat jalan & gigi dan Melahirkan lebih tinggi daripada premi untuk Rawat inap.

Bagaimana dengan manfaatnya?

Berikut tabel manfaat Rawat jalan & gigi (di sini digabung).

Dengan tambahan premi 6 jutaan setahun, pengguna diberi limit sebesar 10 juta setahun, dengan co-share 20%. Perbedaan dengan dua produk lainnya, Smartmed Premier cara klaimnya untuk rawat jalan & gigi bisa cashless.

Selanjutnya manfaat Melahirkan.

Dengan tambahan premi 9,7 jutaan setahun, pengguna diberi limit 25 juta setahun. Tanpa co-share.

Manfaat melahirkan dikenakan masa tunggu 280 hari. Klaimnya cashless di RS rekanan.


Demikian untuk diketahui beberapa contoh ilustrasi asuransi untuk rawat jalan, rawat gigi, dan melahirkan.

Untuk konsultasi lebih lanjut tentang asuransi kesehatan maupun asuransi lainnya dari Allianz, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan [Senior Business Partner]

HP/WA 082111650732 | myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Edukasi Asuransi

RSCM: 4 Kejadian yang Membutuhkan Asuransi

RSCM 2

Apa itu RSCM? Ini bukan nama rumah sakit terkenal itu. RSCM berarti singkatan dari Rawat inap, Sakit kritis, Cacat tetap, dan Meninggal dunia. Empat kejadian ini membutuhkan asuransi untuk menangani dampak keuangannya.

Mengapa? Karena empat kejadian ini memiliki 3 kesamaan sekaligus, yaitu:

  1. Kejadiannya TIDAK DIINGINKAN;
  2. Waktunya TIDAK DAPAT DIKETAHUI;
  3. Butuh BIAYA BESAR.

Itulah tiga kriteria dibutuhkannya asuransi. Satu saja ada yang kurang, asuransi tidak diperlukan. Jika kejadiannya diinginkan oleh manusia, itu bukan urusan asuransi. Jika waktunya dapat diketahui, maka tidak perlu asuransi. Dan jika tidak butuh biaya besar, maka cukuplah ditanggung sendiri.

Di luar yang empat ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait risiko jiwa dan kesehatan. Di bagian bawah, akan kita bahas beberapa jenis asuransi yang sering dicari orang dan beberapa jenis “asuransi” yang sering ditawarkan perusahaan asuransi, yaitu asuransi rawat jalan, asuransi rawat gigi, dan asuransi melahirkan, lalu “asuransi” pendidikan dan “asuransi” pensiun.

Baca juga:

Prioritas Asuransi dalam Keluarga

R: Rawat Inap

Kejadian rawat inap memenuhi tiga kriteria di atas: kejadiannya tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar.

Dampak keuangan dari rawat inap adalah segala biaya perawatan di rumah sakit, meliputi kamar, dokter, obat, bedah, dan lain-lain. Besarnya biaya rawat inap bervariasi tergantung jenis penyakit, lamanya dirawat, dan juga fasilitas perawatan yang diperoleh. Sebagai contoh, dirawat karena tipes mungkin bisa habis sekitar 5 juta sampai beberapa puluh juta. Jika dirawat karena kanker, tentu beda lagi biayanya, bisa puluhan sampai ratusan juta. Semua itu pada umumnya terasa berat bagi kebanyakan orang.

Untuk mengantisipasi dampak keuangan dari rawat inap, produk asuransi yang tepat adalah asuransi kesehatan (askes). Askes rawat inap memberikan penggantian biaya rawat inap dan juga pembedahan di rumah sakit.

Produk askes ada yang berdiri sendiri dan ada juga yang merupakan rider (manfaat tambahan) pada asuransi jiwa. Selengkapnya pilihan produk asuransi kesehatan bisa dibaca di SINI.

S: Sakit Kritis

Kejadian sakit kritis memenuhi tiga kriteria: kejadiannya tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar.

Sakit kritis dapat disebabkan faktor keturunan, gaya hidup yang buruk, pengaruh lingkungan, ataupun kecelakaan. Jadi, tidak ada yang kebal dari sakit kritis.

Dampak keuangan dari sakit kritis ada dua, yaitu biaya perawatan dan turunnya penghasilan karena kehilangan produktivitas.

Untuk mengantisipasi dampak keuangan dari sakit kritis, produk asuransi yang tepat selain asuransi kesehatan adalah asuransi penyakit kritis. Asuransi kesehatan berperan menanggulangi biaya rawat inap dan pembedahan di rumah sakit. Sedangkan asuransi penyakit kritis melengkapi apa yang tidak dapat diberikan oleh askes sebagus apa pun, yaitu uang tunai dalam jumlah besar, yang bisa digunakan untuk mengganti penghasilan akibat produktivitas yang berkurang.

Asuransi penyakit kritis ada yang berdiri sendiri, tapi pada umumnya merupakan rider (manfaat tambahan) pada asuransi jiwa.

Baca juga:

Penjelasan tentang 3 Rider Asuransi Penyakit Kritis dari Tapro Allianz

 C: Cacat Tetap

Cacat tetap memenuhi tiga kriteria: kejadiannya tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar atau menimbulkan dampak keuangan yang berat.

Cacat tetap bisa sebagian maupun total, bisa disebabkan sakit ataupun kecelakaan. Pada titik tertentu, hilangnya fungsi anggota tubuh bisa menimbulkan hilangnya kemampuan produktif untuk mendapatkan penghasilan.

Produk asuransi yang tepat untuk mengantisipasi hilangnya penghasilan karena cacat tetap ada dua, yaitu ADDB (Accidental Death and Disability) dan TPD (Total Permanent Disability). ADDB menanggung kejadian cacat tetap atau meninggal dunia karena kecelakaan. Cacat tetap pada ADDB bisa sebagian (misalnya hilang satu ruas jari atau satu tangan) hingga total (misalnya hilangnya fungsi dua tangan, dua kaki, atau dua mata). Sedangkan TPD menanggung hanya cacat tetap total, cacat tetap sebagian tidak ditanggung, tapi bisa disebabkan oleh sakit ataupun kecelakaan.

ADDB dan TPD ada yang berdiri sendiri, tapi pada umumnya merupakan rider (manfaat tambahan) pada asuransi jiwa.

Baca juga:

Perbedaan dan Persamaan antara ADDB dengan TPD

M: Meninggal Dunia

Meninggal dunia memenuhi tiga kriteria: kejadiannya tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar atau menimbulkan dampak keuangan yang berat, khususnya bagi anggota keluarga yang ditinggalkan oleh pencari nafkah utama.

Dampak keuangan dari meninggal dunia yang pasti adalah biaya penyelenggaraan jenazah dan pemakaman. Lalu sesuai dengan budaya di banyak daerah di Indonesia, tradisi yang menyertai kematian pun tidak jarang membutuhkan biaya tinggi. Dan jika kejadian ini dialami oleh pencari nafkah dalam keluarga, maka hilang pulalah sumber nafkah keluarga tersebut.

Uang pertanggungan meninggal dunia merupakan manfaat dasar pada semua produk asuransi jiwa. Manfaat dasar ini bisa ditambah rider (manfaat tambahan) yaitu rider rawat inap, rider penyakit kritis, rider cacat tetap (ADDB dan TPD). Jika anggaran terbatas, asuransi jiwa merupakan produk asuransi pertama yang wajib dimiliki oleh pencari nafkah dalam sebuah keluarga, sebelum beranjak ke jenis asuransi lainnya.

Asuransi jiwa bisa berbentuk asuransi jiwa berjangka murni (term-life), asuransi jiwa seumur hidup (whole-life), asuransi jiwa dwiguna (endowment), atau asuransi jiwa berjangka plus investasi (unit-link).

Untuk keperluan proteksi, pilihannya adalah antara term-life atau unit-link. Kenapa unit-link? Karena unit-link itu hakikatnya adalah asuransi jiwa berjangka, sama seperti term-life. Bahkan unit-link itu jangka waktunya per tahun (tampak dari pengenaan biaya asuransi atau tabarru yang sifatnya tahunan), beda dengan term-life yang jangka waktunya bisa dipilih untuk beberapa tahun. Adapun sisi investasi pada unit-link, jika dikehendaki, bisa dikecilkan untuk mendapatkan manfaat proteksi yang maksimal, beda dengan sisi tabungan pada produk whole-life dan endowment yang tidak bisa diotak-atik sama sekali.

Baca juga:

5 Fungsi Asuransi Jiwa

Itulah RSCM (Rawat inap, Sakit kritis, Cacat tetap, Meninggal dunia), empat risiko yang memerlukan asuransi untuk menangani dampak keuangannya. Di luar RSCM tidak disarankan pakai asuransi. 

Produk Asuransi yang Disarankan

Produk yang disarankan untuk melindungi keuangan kita dari RSCM adalah Tapro Allisya Protection PlusProduk ini memiliki manfaat utama proteksi meninggal dunia, dan bisa ditambah rider (proteksi tambahan) rawat inap (HSC+), sakit kritis (CI+, CI100), cacat tetap (ADDB, TPD), dan memiliki fitur pembebasan premi jika terkena CI+ atau TPD.

Asuransi di Luar RSCM

Di luar RSCM, ada beberapa jenis asuransi yang produknya memang tersedia di pasaran, tapi sebetulnya tidak diperlukan atau pada hakikatnya bukan ranah asuransi. Pembahasan tentang hal ini ada di artikel “Hal-hal yang Sebaiknya Dipersiapkan Bukan Lewat Asuransi”, tapi saya angkat kembali di bawah ini dengan titik tekan yang berbeda.

Asuransi Rawat Jalan

Rawat jalan memenuhi dua kriteria pertama (tidak diinginkan dan waktunya tidak dapat diketahui), tapi tidak memenuhi kriteria ketiga yaitu dampak keuangan yang berat. Dampak keuangan dari rawat jalan seperti batuk-pilek-demam itu relatif ringan, sehingga pada umumnya bisa ditanggung sendiri.

Saran terbaik untuk mengantisipasi rawat jalan adalah menyiapkan dana darurat sejumlah yang diperkirakan akan diperlukan untuk biaya rawat jalan. Misalnya tahun lalu pergi 3 kali ke dokter dengan biaya 150 ribu per kunjungan, maka tahun ini kita siapkan uang sekitar 500 ribu dengan tujuan khusus untuk mengantisipasi biaya rawat jalan.

Jika biaya rawat jalan hendak disiapkan lewat asuransi, produk yang tersedia di pasaran jarang sekali. Dan kalaupun ada, preminya mahal sekali. Sebagai contoh, untuk mendapatkan manfaat rawat jalan sebesar maksimal 5 juta setahun, preminya sekitar 2,5 juta setahun. Perbandingan antara premi dengan manfaat hanya sekitar satu banding dua. Sangat tidak worth it. Bandingkan dengan premi rawat inap, misalnya 2,5 juta per tahun, manfaatnya bisa ratusan juta per tahun.

Mengapa premi rawat jalan itu mahal? Karena potensi klaimnya sering dan mudah disalahgunakan. Dan karena nilai klaimnya biasanya kecil, pihak asuransi tidak akan merasa perlu melakukan investigasi jika ada nasabah rawat jalan yang klaimnya mencurigakan. Daripada repot dengan nilai uang recehan, ya sudah dibikin mahal saja preminya.

Baca Juga:

Asuransi Rawat Jalan, Perlukah?

Asuransi Rawat Gigi

Sama seperti rawat jalan, rawat gigi pun memenuhi dua kriteria pertama, tapi tidak kriteria ketiga. Saran terbaik untuk mengantisipasi rawat gigi adalah menyiapkan uang sejumlah yang kira-kira diperlukan untuk biayanya. Misal, tahun lalu pergi ke dokter gigi 3 kali dengan total biaya 1 juta, maka tahun ini kita siapkan pula sekitar 1 juta khusus untuk biaya rawat gigi, jika memang sudah rutin merawat gigi.

Asuransi Melahirkan

Melahirkan tidak memenuhi tiga kriteria di atas sekaligus.

Kriteria pertama, melahirkan anak jelas merupakan sesuatu yang diinginkan oleh ibu bapaknya. Lalu kriteria kedua, secara garis besar, waktu melahirkan itu dapat diketahui. Ketika seorang istri hamil satu bulan, bisa diperkirakan dengan tepat bahwa ia akan melahirkan delapan bulan kemudian.

Lalu kriteria ketiga, dampak keuangan dari melahirkan bisa besar atau kecil, tergantung gaya hidup. Jika tak keberatan melahirkan di bidan dan puskesmas, biaya melahirkan relatif kecil dan bisa ditanggung sendiri. Jika gaya hidup mengharuskan seorang ibu melahirkan di rumah sakit, tentunya uang beberapa juta rupiah sanggup ditanggung oleh suaminya. Dan jika pun harus melahirkan secara caesar, biayanya masihlah terukur.

Dampak keuangan dari melahirkan yang terbesar biasanya bukanlah operasinya, tapi seremoni yang menyertainya (akikah dan upacara pemberian nama, persiapan kebutuhan bayi, dll), yang tentu saja tidak ada asuransi yang menanggungnya.

Kabar baiknya, saat ini asuransi untuk rawat jalan, rawat gigi, dan melahirkan bisa memakai program Jaminan Kesehatan Nasional dari BPJS Kesehatan. Jika pakai asuransi swasta khususnya yang individu, preminya akan mahal sekali, tidak sebanding dengan manfaatnya.

“Asuransi” Pendidikan

Kata “asuransi” pada istilah asuransi pendidikan sengaja saya bubuhi tanda petik, untuk menunjukkan bahwa sebetulnya cara untuk mempersiapkan dana pendidikan itu bukanlah melalui asuransi, melainkan investasi atau tabungan.

Memang sejak lama perusahaan asuransi telah mengeluarkan produk yang disebut “asuransi pendidikan” dan produk semacam ini cukup diminati oleh masyarakat. Tapi sebetulnya, pada produk tersebut, dana yang dicairkan untuk membayar dana tahapan pendidikan bukanlah diambil dari dana asuransinya, tapi dari sisi investasi atau tabungannya. Sedangkan sisi asuransi pada produk “asuransi pendidikan” bukanlah untuk dana tahapan ketika si anak memasuki jenjang pendidikan, melainkan untuk mengantisipasi musibah yang menimpa tertanggung atau pemegang polis, misalnya jika meninggal dunia atau terkena penyakit kritis.

Pendidikan tidak memenuhi kriteria pertama karena pendidikan merupakan kejadian yang diinginkan. Tidak juga kriteria kedua karena pendidikan itu waktunya dapat diketahui. Sedangkan kriteria ketiga, dampak keuangan dari biaya pendidikan mungkin besar, tapi hal ini tergantung gaya hidup keluarga yang bersangkutan.

Pada umumnya, orangtua akan menyekolahkan anaknya di tempat yang mereka mampu membayar iuran bulanannya. Jika keluarga tsb tergolong tidak mampu, banyak sekolah negeri gratis yang bisa dimasuki.  Dan jika si anak cukup pintar, ia bisa mencari beasiswa untuk mendapatkan sekolah yang bagus. Banyak lembaga atau para dermawan yang bersedia membiayai sekolah anak yang pintar dan berasal dari keluarga tidak mampu.

Kesimpulannya, pendidikan anak tetap perlu dipersiapkan, tapi tidak perlu melalui produk asuransi. Jika dipaksakan dipersiapkan lewat produk asuransi, entah berbentuk endowment (asuransi tradisional) ataupun unit-link, potongan biayanya besar sekali. Padahal untuk mendapatkan dana pendidikan yang sebesar-besarnya, potongan biayanya haruslah yang sekecil-kecilnya. Pilihan yang lebih disarankan adalah tabungan pendidikan yang dikeluarkan oleh bank. Dan jika bisa berinvestasi, itu lebih baik lagi, misalnya di reksadana, saham, atau properti.

Baca Juga:

Prinsip dan Tips Mempersiapkan Dana Pendidikan Anak

“Asuransi” Pensiun

Seperti halnya “asuransi” pendidikan, “asuransi” pensiun pun tidak memenuhi kriteria pertama dan kedua. Pensiun itu kejadian yang diinginkan dan waktunya dapat diketahui, atau setidaknya dapat direncanakan. Mengenai dampak keuangan, pensiun itu justru butuh biaya yang sangat besar, karena seseorang yang pensiun harus dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sampai batas waktu yang tidak dia ketahui, sementara saat itu dia tidak bekerja lagi.

Sebagai contoh, jika seorang dengan kebutuhan 5 juta per bulan ingin pensiun, saat itu dia harus memiliki uang tunai senilai minimal 1,2 miliar, di mana uang ini jika dia simpan di deposito yang memberikan imbal hasil 5% per tahun, maka dari imbal hasilnya saja dia bisa hidup selamanya tanpa harus mengurangi simpanan pokoknya.

Untuk bisa punya uang 1,2 miliar bukan sesuatu yang mudah, apalagi bagi orang dengan penghasilan 5 juta per bulan. Jika dia bisa menabung 1 juta saja per bulan, dibutuhkan waktu 1.200 bulan atau 100 tahun untuk bisa terkumpul 1,2M. Diperlukan suatu instrumen investasi dengan imbal hasil yang tinggi secara konsisten dalam jangka panjang, namun dengan biaya rendah (dan itu bukan produk asuransi), untuk bisa menghasilkan uang sejumlah yang ditargetkan untuk menghidupi masa pensiun. Atau jika hal itu dirasa sulit dicapai, diperlukan usaha tambahan untuk mendapatkan penghasilan tambahan yang bisa dicadangkan khusus untuk kebutuhan hidup di masa pensiun.

Memang, seperti halnya “asuransi pendidikan”, “asuransi pensiun” pun dikeluarkan oleh perusahaan asuransi. Namun sebetulnya, dana pensiun yang kelak diberikan kepada para nasabah bukanlah diambil dari sisi asuransinya, melainkan dari sisi investasinya.

Demikian. []

Untuk konsultasi asuransi Allianz, silakan menghubungi saya, agen asuransi Allianz di Serpong Tangerang Selatan:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com 

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Iklan HS