Asuransi Syariah

Dapatkah Asuransi Digantikan oleh ZIS (Zakat, Infak, Sedekah)?

zakat-infakDi antara orang-orang yang mengharamkan asuransi, ada yang berkata, “Jika potensi ZIS (zakat, infak, dan sedekah) bisa dimaksimalkan, asuransi tidak diperlukan lagi.”

Benarkah demikian?

Tanpa bermaksud mengecilkan peranan dan fungsi ZIS, mari kita uji pernyataan ini secara konsep maupun kenyataan.

Saya akan mulai dengan kenyataan.

Menurut sejumlah data (sumber berita bisa dilihat di bawah), potensi ZIS di Indonesia pada tahun 2015 adalah 217 triliun per tahun, sedangkan dana yang terkumpul baru sekitar 4 triliun.

Bagaimana dengan asuransi? Pada tahun 2016, total pendapatan premi asuransi di Indonesia mencapai 270 triliun, terdiri dari asuransi jiwa 208,92 triliun dan asuransi umum 61,9 triliun. Ini belum termasuk pendapatan premi BPJS Kesehatan yang sebesar 67,4 triliun. Totalnya lebih dari 300 triliun.

Pertanyaannya, dapatkah dana 4 triliun menggantikan dana 300 triliun? Tentunya tidak. Lanjutkan membaca “Dapatkah Asuransi Digantikan oleh ZIS (Zakat, Infak, Sedekah)?”

Asuransi Jiwa, Penyakit Kritis

Ibu Rumah Tangga: Perlukah Asuransi Jiwa?

IRT 4Jika berpegang pada pendapat para perencana keuangan secara saklek dan leterlek, mereka mengatakan bahwa ibu rumah tangga tidak perlu asuransi jiwa. Alasannya karena tidak ada dampak keuangan yang ditimbulkan dari peristiwa meninggalnya seorang ibu rumah tangga.

Tapi izinkan saya menawarkan sudut pandang berbeda.

Pertama, sesungguhnya suami akan sangat terbantu jika istrinya punya asuransi jiwa. 

Bukankah suami istri harus saling membantu? Ketika suami membeli asuransi jiwa atas nama dirinya, ia tengah membantu istri dan anak-anaknya. Ini sesuatu yang baik. Sebaliknya, ketika suami membelikan asuransi jiwa atas nama istrinya, ia tengah membantu dirinya dan anak-anaknya. Ini pun sesuatu yang baik.
Lanjutkan membaca “Ibu Rumah Tangga: Perlukah Asuransi Jiwa?”