Edukasi Asuransi

2 Kriteria Suatu Risiko Membutuhkan Asuransi

RSCM kriteriaHidup manusia tak pernah lepas dari risiko. Risiko hidup menimbulkan dampak ekonomi pada keuangan kita, atau dengan kata lain membutuhkan biaya.

Ada beberapa cara menghadapi dampak risiko, tergantung karakteristik dari risiko tersebut. Ada risiko yang ringan, dan ada risiko yang berat dampak keuangannya.

Risiko yang ringan tentunya dapat dihadapi sendiri tanpa memerlukan bantuan pihak lain. Tetapi risiko yang berat atau sangat berat umumnya tidak bisa dihadapi sendiri oleh kebanyakan orang. Jadi perlu bantuan pihak lain, salah satunya lembaga asuransi.

Tetapi tidak setiap risiko yang berat perlu dihadapi dengan asuransi. Ada risiko yang waktunya dapat diketahui, dan ada risiko yang waktunya tidak dapat diketahui. Untuk risiko yang waktunya dapat diketahui, cara paling tepat adalah melalui investasi. Contohnya untuk pendidikan anak, perjalanan ibadah, dan pensiun.

Sedangkan asuransi hanya cocok untuk risiko yang waktunya tidak dapat diketahui. Tidak dapat diketahui artinya risiko tersebut bisa terjadi kapan saja, mungkin masih lama mungkin sebentar lagi, mungkin bertahun-tahun kemudian mungkin juga esok hari. Lanjutkan membaca “2 Kriteria Suatu Risiko Membutuhkan Asuransi”

Asuransi Penyakit Kritis, Edukasi Asuransi, Uncategorized

Mengukur Prioritas Asuransi dari Frekuensi Kejadian dan Dampak Keuangan

Frekuensi atau dampak.

Pernyataan mana di bawah ini yang lebih anda setujui?

  1. Semakin sering frekuensi kejadiannya, semakin butuh asuransi.
  2. Semakin besar dampak keuangannya, semakin butuh asuransi.

Mari kita cermati dua kalimat di atas.

Ambil contoh sakit. Sakit apakah yang kejadiannya sering kita alami? Mungkin batuk, pilek, meriang. Saya rasa semua orang pernah mengalaminya. Tapi apakah kita membutuhkan asuransi untuk menangani masalah batuk-pilek-meriang? Saya pribadi, untuk sakit semacam itu, biasanya dengan beristirahat saja pun sembuh sendiri. Dan kalau agak lama batuk-pilek-meriangnya, saya beli obat warung atau minta obat ke puskesmas. Tidak pakai asuransi sama sekali. BPJS Kesehatan yang saya miliki pun biasanya tidak saya gunakan.

Baca juga: 

Asuransi Rawat Jalan, Perlukah? Lanjutkan membaca “Mengukur Prioritas Asuransi dari Frekuensi Kejadian dan Dampak Keuangan”

Edukasi Asuransi

Prioritas Asuransi dalam Keluarga


Prioritas Asuransi

Asuransi berfungsi menanggung hal-hal yang secara finansial tidak sanggup kita tanggung, atau akan terasa berat jika harus menanggungnya sendirian. Jika sesuatu masih sanggup kita tanggung, maka hal tersebut tidak perlu diasuransikan, atau setidaknya bukan prioritas.

Prioritas asuransi diukur dari dampaknya pada keuangan kita, bukan dari frekuensi kejadiannya. Ada yang kejadiannya sering, misalnya pilek atau batuk biasa, tapi karena dampak keuangannya kecil, tanpa asuransi pun tak masalah. Tapi ada peristiwa yang kejadiannya mungkin hanya sekali, namun bekas yang ditinggalkannya tak terhapuskan seumur hidup, baik dari segi fisik maupun keuangan.

Jika akibat dari satu kejadian itu membuat seseorang langsung jatuh dalam kemiskinan, aset-aset terjual atau tergadai, terjerat dalam belitan utang, sumber penghasilan terputus, hingga keluarga terbenam dalam kesedihan dan kehinaan, maka risiko itulah yang harus kita prioritaskan untuk diasuransikan.

Ketika kita memutuskan untuk berasuransi, berpikirlah – walau sejenak saja – untuk risiko-risiko yang paling buruk. Yaitu risiko-risiko yang butuh biaya sangat besar. Istilahnya: prepare for the worsts.

Apa sajakah itu?

Setelah menimbang berdasarkan dampak keuangannya dan preminya, saya menyimpulkan setidaknya ada enam jenis proteksi yang merupakan prioritas untuk dimiliki. Empat yang pertama asuransi untuk orang, dua lagi asuransi untuk barang. Keenam asuransi tersebut ialah asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia, rawat inap, penyakit kritis, cacat tetap, rumah, dan kendaraan.

Jika anda telah memiliki enam proteksi ini, silakan mau nambah asuransi lain juga (rawat jalan, rawat gigi, persalinan, dll), kalau memang ada dananya.

O ya, mungkin ada yang bertanya, kenapa asuransi pendidikan dan pensiun tidak disebut? Menurut saya, pendidikan dan pensiun tetap harus dipersiapkan, tapi keduanya bukan wilayah asuransi. Asuransi berkaitan dengan kejadian yang tidak diinginkan, waktunya tidak dapat diketahui, dan butuh biaya besar. Sedangkan pendidikan dan pensiun itu kejadian yang diinginkan dan waktunya pun dapat diketahui. Tapi karena keduanya butuh biaya besar, maka tetap harus dipersiapkan sejak awal melalui tabungan atau investasi.

Baca juga:

Hal-hal yang Sebaiknya Dipersiapkan Bukan Lewat Asuransi

1. Asuransi Meninggal Dunia

Asuransi yang menanggung risiko meninggal dunia menjadi prioritas pertama karena: selama masih hidup, akan selalu ada harapan. Tapi jika sudah dijemput maut, tak ada lagi yang bisa dikatakan.

Asuransi jiwa wajib bagi pencari nafkah dalam keluarga, biasanya ayah, dan juga ibu jika bekerja. Jika dana yang tersedia terbatas, inilah yang harus dibeli terlebih dahulu.

Kematian seorang ayah atau ibu berdampak pada putusnya sumber penghasilan karena tidak ada lagi orang yang mencarikan nafkah untuk keluarga. Kesedihan paling besar dialami oleh si anak. Terkadang dia harus dipelihara di rumah saudara atau bahkan dititipkan di panti asuhan. Tentunya kita tidak mau anak kita merepotkan orang lain, bukan?

Baca juga:

300 Ribu Per Bulan Dapat UP 1 Miliar, Mau?

2. Asuransi Kesehatan Rawat Inap

Setelah proteksi dasar terpenuhi, prioritas berikutnya adalah asuransi kesehatan rawat inap untuk seluruh anggota keluarga. Produk asuransi kesehatan ada yang dipasangi rider (proteksi tambahan) rawat jalan, rawat gigi, atau persalinan. Tapi yang prioritas hanyalah rawat inap. Yang lainnya terlalu mahal untuk dibeli, sementara manfaatnya tak seberapa, dan tanpa asuransi pun masih bisa ditanggulangi.

Asuransi kesehatan rawat inap memberikan penggantian biaya pengobatan sesuai yang dijanjikan dalam polis jika peserta mengalami rawat inap di klinik atau rumah sakit. Biaya pengobatan penyakit yang memerlukan rawat inap sangat bervariasi tergantung penyakitnya, tapi pada umumnya cukup memberatkan jika harus ditanggung sendiri.

Saat ini sebagian besar orang telah memiliki askes rawat inap. Mereka yang bekerja di sektor formal (PNS, Polri, TNI, dan karyawan swasta), boleh dikata semuanya telah memiliki askes. Sedangkan untuk masyarakat secara umum, khususnya kalangan menengah-bawah, pemerintah telah menyediakan berbagai jaminan kesehatan melalui program semacam Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat), Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah), Jamkesos (Jaminan Kesehatan Sosial), Jampersal (Jaminan Persalinan), KJS (Kartu Jakarta Sehat), hingga BPJS (Badan Penyelenggaran Jaminan Sosial).

Oleh karena itu, jika anda beruntung termasuk pemilik askes (apa pun jenis dan namanya), anda dapat melewatkan bagian ini dan melanjutkan ke prioritas asuransi berikutnya.

Baca juga:

4 Produk Asuransi Kesehatan Cashless dari Allianz

3. Asuransi Penyakit Kritis

Dari segi dampak keuangan, penyakit kritis dapat menimbulkan dampak yang lebih besar ketimbang kematian. Apalagi jika penyakit kritis tersebut berlangsung berkepanjangan atau tidak tersembuhkan, yang repot bukan hanya penderita, tapi juga keluarga, para kerabat, hingga teman-temannya. Contohnya, orang yang terkena stroke, jika tidak sembuh, dia jadi lumpuh dan tidak bisa bekerja seperti sebelumnya. Tapi dia harus tetap berobat sementara biaya hidup tak bisa ditunda pemenuhannya.

Sayangnya banyak yang belum menyadari pentingnya proteksi penyakit kritis. Mereka merasa asuransi kesehatan saja sudah cukup. Mungkin jika askesnya berkategori premium, biaya ratusan juta hingga miliaran bisa ditanggung, tapi askes premium harganya tak akan terjangkau oleh kebanyakan orang. Dan sebagus-bagusnya askes, tak ada yang memberikan uang tunai untuk nasabahnya. Padahal orang yang terkena penyakit kritis, dia bukan hanya butuh penggantian biaya pengobatan, tapi juga sejumlah uang untuk biaya hidup dan lain-lainnya.

Proteksi penyakit kritis tidak dimaksudkan untuk menggantikan asuransi kesehatan. Proteksi penyakit kritis menambal apa yang tidak dapat diberikan askes, yaitu uang tunai dalam jumlah besar (ratusan juta hingga miliaran rupiah).

Baca juga:

Dapatkan Asuransi Penyakit Kritis 1 Miliar Mulai 300 Ribu Per Bulan

4. Asuransi Cacat (Sebagian maupun Total, karena Sakit ataupun Kecelakaan)

Cacat bisa disebabkan kecelakaan ataupun penyakit. Dalam hal cacat tetap total, kejadian ini sama akibatnya dengan meninggal dunia dan beberapa jenis penyakit kritis, yaitu putusnya penghasilan karena tidak mampu lagi bekerja.

Di sini, tersedia dua proteksi yang penting, yaitu ADDB (Accident Death and Disability Benefit) dan TPD (Total Permanent Disability). ADDB menanggung risiko cacat (sebagian maupun total) akibat kecelakaan, sedangkan TPD menanggung risiko cacat total akibat sakit maupun kecelakaan.

Baca juga:

Pentingnya Proteksi Kecelakaan

5 & 6. Asuransi Rumah dan Kendaraan

Asuransi rumah penting karena harga rumah sangat tinggi dan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya kebakaran, biaya perbaikan atau mendirikannya kembali akan sangat memberatkan.

Asuransi kendaraan penting karena risiko yang terkait kendaraan juga lumayan besar jika ditanggung sendiri. Minimal jenis asuransi kendaraan yang harus diambil adalah TLO (Total loss only), yang menanggung kehilangan atau kerusakan minimal 75%.

Demikian. []

 

Untuk berkonsultasi tentang asuransi Allianz secara gratis, silakan menghubungi saya, agen asuransi Allianz di Serpong Tangerang Selatan:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com 

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Artikel ini telah dibahas di kanal youtube Asep Sopyan Network: