Edukasi Asuransi, Video

[Video] 11 Hal yang Perlu Diperhatikan oleh Nasabah Asuransi Jiwa

Ini adalah versi video dari artikel berjudul “11 Hal yang Perlu Diperhatikan Nasabah Asuransi Jiwa“, dimuat di kanal Youtube Asep Sopyan Network.

Untuk konsultasi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Serpong Tangerang Selatan | Agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Edukasi Asuransi

9 Kesalahan Umum dalam Berasuransi

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Di lapangan, tak jarang saya menemukan orang-orang yang sebetulnya sudah bagus mau ambil asuransi tapi dengan tujuan atau cara yang tidak tepat. Hal ini dapat menyebabkan asuransi yang diambilnya tidak memberikan manfaat secara optimal. Tentunya kita tidak mau, bukan, sudah keluar uang lumayan besar setiap bulan atau setiap tahun, ternyata tidak dapat membantu kita pada saat dibutuhkan, atau tidak memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

Kita perlu memahami kekeliruan-kekeliruan tersebut agar tidak terulang pada diri kita, dan agar kita bisa mendapatkan manfaat yang optimal dari asuransi.

Ada sembilan kesalahan umum yang lazim terjadi pada orang-orang yang mengambil asuransi.

1. Mengambil asuransi untuk tujuan menabung atau investasi

Sesuai arti harfiahnya, asuransi itu proteksi, bukan tabungan atau investasi. Apa bedanya? Proteksi itu jaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja, sedangkan menabung dan investasi itu persiapan dana untuk suatu kebutuhan yang diinginkan atau direncanakan di masa depan.

Memang, produk asuransi yang banyak ditawarkan zaman sekarang, yaitu unitlink, ada investasinya. Tapi produk tersebut tetaplah produk asuransi. Jika ingin berinvestasi melalui produk tersebut, perlu disadari bahwa potongan biaya-biayanya sangat besar setiap bulannya, dan itu akan menggerus nilai investasi anda. Sudah banyak sekali kasus orang yang merasa tertipu dan rugi karena saat dana ditarik, jumlahnya jauh lebih kecil daripada dana yang telah disetorkan.

Jadi, walaupun produk asuransi yang anda ambil itu jenisnya unitlink, tujuannya tetap proteksi. Yang dilihat adalah sisi proteksinya, bagus atau tidak, mencukupi atau tidak. Sedangkan sisi investasinya berfungsi untuk menjaga keberlangsungan proteksi, bukan diambil untuk keperluan lain.

2. Mendahulukan asuransi untuk anak

Kadang ada orangtua karena saking sayangnya dengan anak, dia ambilkan asuransi untuk anaknya lebih dahulu tapi dia sendiri sebagai orangtuanya tidak. Kenapa ini salah? Karena kalau terjadi apa-apa pada orangtua, siapa yang akan melanjutkan membayar polis? Oke, mungkin bisa ditambahkan manfaat pembebasan premi. Tapi yang lebih penting, siapa yang memberi makan si anak kalau orangtuanya tidak ada dan tidak meninggalkan warisan yang banyak?

Ini ibaratnya kalau di pesawat, ketika terjadi keadaan darurat, si orangtua memasangkan pelampung untuk anaknya lebih dahulu. Kenapa ini salah? Karena kalau terjadi sesuatu lebih dulu pada orangtua, anak tidak akan bisa menolong. Dan bukan hanya itu, si anak pun bisa tidak tertolong walaupun sudah memasang pelampung.

3. Manfaat asuransinya kecil

Manfaat kecil di sini dibandingkan dengan premi yang dibayarkan. Ditinjau dari konsep asuransi sebagai proteksi, tentunya tujuan proteksi jadi tidak tercapai. Dan jika pun tujuannya ingin investasi, tetap sulit dicapai karena terbentur potongan biaya yang terlalu besar.

Ada orang punya polis dengan premi 500 ribu per bulan, tapi UP jiwanya hanya 50 juta, dan manfaat lain seperti kecelakaan dan sakit kritis pun hanya beberapa puluh juta saja, padahal usia masih muda. Uang 50 juta mungkin terlihat besar, tapi dalam kondisi kena musibah, itu akan sangat kurang sekali. Saat saya bilang dengan premi segitu bisa mendapat UP 1 miliar (jika UP jiwa saja), atau 250 sd 500 juta (jika ditambah rider kecelakaan, cacat, dan sakit kritis), dia kaget.

Yang paling ekstrem, saya pernah mendapati ada nasabah yang punya polis di suatu asuransi dengan premi 100 juta setahun, dan itu full premi (premi dasar semua tanpa top up berkala, enak banget agennya), UP jiwanya hanya 500 juta alias hanya 5x dari premi tahunan, padahal usianya baru 30 tahunan. Lalu saya buatkan polis dengan UP jiwa 5 miliar, premi hanya 26 juta per tahun. Kalau mau investasi, selisihnya 74 juta silakan ditaruh di deposito atau reksadana.

Polis dengan manfaat asuransi yang kecil-kecil seperti itu banyak sekali. Sebabnya ada dua kemungkinan:

  • Produknya tidak memungkinkan memberikan manfaat yang besar, karena iming-imingnya lebih ke investasi. Tapi yang mengherankan, kok full premi ya, karena biaya akuisisinya jadi besar sekali. Jelas ini pengerukan thd uang nasabah. Jika ingin menawarkan investasi besar, seharusnya top up berkala atau premi savernya yang diperbesar, atau tawarkan single premium sekalian.
  • Agennya menawarkan seperti itu agar preminya bisa balik setelah sekian tahun. Jadi agennya mempertimbangkan sisi investasinya juga. Its oke, walaupun soal premi yang bisa balik itu sifatnya tidak dijamin. Dan jadi tidak oke jika premi yang ditawarkan ke nasabah seluruhnya ditaruh sebagai premi dasar, karena berarti agennya mengambil komisi terlalu banyak.

Sementara pada saat yang sama, nasabah yang memang masih awam, tidak paham bahwa uangnya telah diambil banyak sekali oleh perusahaan asuransi atau agen asuransi tanpa mendapatkan timbal balik berupa manfaat asuransi yang memadai.

4. Ambil asuransi karena gak enak sama temen atau sodara

Ambil asuransi dari teman atau saudara yang menjadi agen asuransi itu tidak salah, tapi kalau alasannya karena gak enak, itu bisa berisiko terhadap diri sendiri. Yang lebih penting itu kenali manfaat asuransi yang diambil, apakah sesuai kebutuhan atau tidak. Jangan sampai setelah ambil asuransi, ketika terjadi sesuatu ternyata tidak bisa diklaim karena manfaatnya tidak sesuai.

5. Tidak tahu manfaat asuransi yang diambil

Banyak orang mengaku sudah punya asuransi, tapi ketika ditanya manfaat apa saja yang terdapat dalam polisnya, mereka tidak bisa menjawab. Polis itu jangan sekadar dikoleksi, tapi harus diketahui dan dipahami manfaatnya. Asuransi itu ada bermacam-macam tergantung risiko yang ditanggungnya. Pastikan anda tahu kejadian apa saja yang bisa diklaim. Baca polis dan tanyakan kembali pada agen jika kurang paham.

6. Tidak baca polis

Banyak orang setelah menerima buku polis lantas langsung menyimpannya di lemari. Mestinya dibaca dulu setidaknya di bagian data polis, jika ada yang kurang paham tanyakan kepada agen atau baca isi polisnya. Setelah dipahami, barulah disimpan di tempat penyimpanan yang aman.

Buku polis asuransi memang bukan bacaan yang mengasyikkan karena isinya pasal-pasal dan tulisannya kecil-kecil, mirip dengan kitab hukum. Tapi ini bukan alasan untuk tidak memahami isinya.

Yang dikhawatirkan karena tidak baca polis adalah anda tidak memahami atau salah memahami manfaat polis yang dimiliki. Terkadang banyak orang menyalahkan agen bukan semata karena si agennya yang salah, tapi nasabah pun tidak membaca polisnya.

7. Tidak memantau perkembangan polis

Nah, ini kesalahan yang mengherankan. Biasanya terhadap uang itu orang sangat perhatian hingga ke recehan yang paling kecil. Tapi terhadap uang premi yang disetorkan secara rutin ke perusahaan asuransi, kenapa banyak orang yang abai dan memilih percaya saja? Maunya tahu hasil akhirnya saja, dan hasilnya harus untung sesuai yang dibayangkan di awal, tapi saat ditarik ternyata mengejutkan. Akhirnya banyak yang ngamuk-ngamuk di kantor asuransi dan dilanjutkan di media sosial.  

Jika sadar sejak awal dan ternyata salah beli asuransi, setidaknya kerugian yang dialami tidak perlu terakumulasi.

Perkembangan nilai investasi polis dapat dipantau di laporan bulanan yang dikirim ke alamat rumah atau ke email, dan sekarang ini banyak perusahaan asuransi juga sudah menyediakan portal online yang dapat diakses setiap saat. Jadi tak ada alasan untuk kaget saat mau tarik dana, mestinya. Jika tidak ada laporan secara rutin, segeralah menanyakan ke perusahaan asuransi atau melalui agen.

8. Tidak melakukan evaluasi terhadap polis asuransi secara berkala

Kadang ada orang ketika ditanya apakah sudah punya polis asuransi, dijawab sudah. Kapan ambilnya, ternyata belasan tahun lalu. Nah, polis yang diambil belasan tahun lalu itu kemungkinan besar tidak mencukupi lagi manfaatnya di masa sekarang. Misalnya jika asuransi jiwa, perlu dilihat UP-nya berapa. UP 50 juta tahun 2002 mungkin terasa besar, tapi sekarang tak seberapa. Kalau asuransi kesehatan, plan kamar 200 ribu dulu sudah wah, sekarang kamar kelas 3 saja sudah tidak dapat.

Jadi, penting untuk mengevaluasi polis secara berkala, disesuaikan dengan perkembangan penghasilan, pertambahan anggota keluarga, inflasi, dan sebagainya.

9. Tidak jujur dengan kondisi kesehatan

Kejujuran merupakan syarat sahnya sebuah polis asuransi, sesuai dengan prinsip utmost good faith atau itikad baik. Polis yang diketahui tidak jujur, klaimnya akan ditolak, bahkan polis pun bisa dibatalkan.

Contoh tidak jujur, misalnya ada riwayat sakit tapi tidak disampaikan di form SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa). Jika terjadi klaim yang berat di tahun-tahun awal, perusahaan asuransi akan melakukan investigasi untuk memastikan kebenaran klaim dan kesesuaian dengan data yang disampaikan di SPAJ. Jika tidak sesuai, itu bisa jadi alasan bagi perusahaan asuransi untuk menolak klaim.

Demikian. []


Untuk berkonsultasi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Jadi agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Edukasi Asuransi

Kenapa Kita Butuh Asuransi?

Kenapa kita butuh asuransi? Karena dalam hidup ini setiap manusia berkemungkinan mengalami yang namanya musibah atau risiko, di mana musibah ini menimbulkan dampak keuangan atau biaya untuk menanganinya, atau disebut kerugian finansial. Kerugian finansial inilah yang dikurangi oleh asuransi.

Tapi tidak semua musibah perlu diasuransikan. Musibah yang perlu diasuransikan musibah hanya yang memiliki dua ciri sekaligus. Pertama, menimbulkan kerugian finansial yang besar. Kedua, waktunya tidak dapat diketahui.

Ukuran besar artinya berat, atau sangat berat, atau terlalu berat, atau bahkan tidak akan sanggup jika ditanggung sendirian. Tidak dapat diketahui artinya bisa terjadi kapan saja, mungkin bertahun-tahun ke depan, atau mungkin juga besok pagi. Who knows?

Jika musibah itu kerugian finansialnya kecil, mestinya bisalah ditanggung sendiri. Contohnya sakit ringan yang cukup dengan obat warung atau sekali konsultasi ke dokter dan tidak memerlukan rawat inap. Jadi tidak perlu dikit-dikit asuransi, dikit-dikit asuransi. Asuransi kok dikit-dikit hehe.

Jika musibah itu waktunya dapat diketahui, eh, emang ada musibah yang waktunya dapat diketahui? Oke, istilah yang lebih tepat adalah risiko. Jika risiko itu waktunya dapat diketahui, maka tetap perlu dipersiapkan untuk menangani dampak keuangannya, tapi caranya bukan dengan asuransi.

Contohnya pendidikan anak. Jika saat ini anak anda berumur 2 tahun, kapan dia butuh uang untuk sekolah? Tidak mungkin tiba-tiba besok kan? Mungkin dia masuk TK umur 5 tahun, berarti butuh uangnya sekitar tiga tahun lagi. Masuk SD umur 7 tahun, berarti butuh uangnya lima tahun lagi. Kuliah umur 18 tahun, berarti butuh uangnya 16 tahun lagi. Masih lama? Tapi bukan berarti santai. Semua itu harus dipersiapkan dananya, tapi bukan lewat asuransi, melainkan lewat menabung atau investasi.

Bedakan antara nabung atau investasi dengan asuransi. Seringkali memang agen menawari asuransi dengan bahasa nabung. Sebetulnya itu beda sekali, sehingga menimbulkan salah persepsi di benak nasabah. Masalahnya ketahuan begitu nasabah mau tarik dana, kok jauh banget dengan premi yang telah disetorkan.  Jauh dalam arti: lebih kecil. Jadi mulai sekarang, kepada para agen, berhentilah menggunakan istilah nabung saat menawarkan asuransi, agar anda tidak diomeli nasabah setahun atau dua tahun kemudian. Nabung dan investasi pun beda, tapi nantilah kita bahas di kesempatan lain.

Cara yang sama untuk risiko-risiko lain yang waktunya bisa diketahui atau direncanakan, yaitu perjalanan ibadah haji, pensiun, liburan, bahkan melahirkan.

Jadi, asuransi hanya diperlukan untuk risiko yang butuh biaya besar dan waktunya tidak dapat diketahui. Apa saja itu?

Pertama, sakit yang memerlukan rawat inap atau pembedahan.

Kedua, sakit kritis.

Ketiga, cacat tetap.

Keempat, meninggal dunia.

Keempatnya saya singkat RSCM. Rawat inap, Sakit kritis, Cacat tetap, dan Meninggal dunia. Keempatnya butuh biaya besar dan waktunya tidak dapat diketahui.

Sakit kalau sudah memerlukan rawat inap atau pembedahan, sudah pasti biayanya besar, mulai jutaan ke atas, bisa puluhan, ratusan juta, bahkan miliaran. Besaran biayanya tergantung jenis penyakit, lamanya perawatan, fasilitas rumah sakit, dan lain-lain. Asuransinya disebut Hospital and Surgical (HS) dan inilah yang biasa disebut asuransi kesehatan. Manfaatnya diberikan dalam bentuk penggantian biaya ke rumah sakit, dan cara klaimnya dilengkapi fasilitas kartu cashless. Jadi peserta cukup membawa kartu tsb sebagai pengganti deposit saat harus dirawat inap di rumah sakit.

Sakit kritis, apa bedanya dengan sakit yang memerlukan rawat inap dan pembedahan? Oke. Sakit kritis sudah pasti, atau pada umumnya, memerlukan rawat inap dan pembedahan. Jadi di sini bisa pakai asuransi kesehatan.

Tapi sakit kritis disebut secara khusus karena ada kemungkinan dampak lain di luar biaya rumah sakit, dan nilainya bisa lebih besar, yaitu turunnya atau bahkan hilangnya kemampuan bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Contoh sakit kritis misalnya kanker, stroke, gagal ginjal, dan jantung. Orang yang kena kanker atau stroke, biasanya tidak mampu bekerja lagi bukan? Bukan hanya saat dirawat di RS, tapi setelah pulang ke rumah pun masih harus menjalani perawatan jangka panjang.

Asuransi penyakit kritis diberikan dalam bentuk uang tunai sekaligus alias lumpsum dalam jumlah besar, langsung ke nasabah bukan ke rumah sakit, sehingga penggunaannya lebih fleksibel. Bisa untuk biaya perawatan, bisa untuk biaya hidup, dan bisa juga disimpan saja untuk pendidikan anak. Bahkan untuk liburan pun bisa, mudah-mudahan mempercepat kesembuhan.

Kemudian cacat tetap, baik cacat sebagian ataupun total, bisa disebabkan kecelakaan ataupun penyakit. Kerugian yang ditimbulkannya adalah turunnya atau hilangnya kemampuan bekerja. Asuransinya ada dua, yaitu asuransi kecelakaan (Accidental Death and Disability Benefit atau ADDB) dan asuransi cacat tetap total (Total Permanent Disability atau TPD). Asuransi penyakit kritis seperti disebut di atas pun menanggung risiko cacat tetat total.

Lalu meninggal dunia. Pada umumnya orang yang sudah meninggal dunia tidak mampu lagi menghasilkan uang untuk keluarganya. Kecuali jika dia punya harta yang teramat banyak, atau punya asuransi jiwa. Jadi kalau anda belum punya harta yang teramat banyak untuk diwariskan, milikilah asuransi jiwa.

Itu adalah risiko-risiko yang terkait jiwa. Selain itu ada risiko-risiko terkait harta benda kita, terutama yang bernilai besar seperti rumah dan mobil. Keduanya mungkin mengalami kerusakan karena kebakaran, gempa, banjir, atau kerusuhan, dan mobil dapat mengalami tabrakan atau dicuri orang. Jadi kita pun perlu asuransi untuk rumah dan mobil. Bagaimana dengan motor? Motor nilainya tidak terlalu besar, kalau rusak kecil-kecil malah cuma numpang ribet ngurus asuransinya, jadi cukup total loss only atau asuransi untuk kehilangan dan kerusakan berat.

Demikian alasan kenapa kita butuh asuransi. Saya ulangi, jawabannya karena ada risiko yang butuh biaya besar dan waktunya tidak dapat diketahui. Sadar itu sebelum terlambat.

Terima kasih. []


Untuk konsultasi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Jadi agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda