Edukasi Asuransi

Apa Itu Asuransi?

Gambar dari Pixabay

Pengertian Asuransi

Secara harfiah, asuransi memiliki arti yang mirip dengan kata: jaminan, pertanggungan, perlindungan, proteksi, dan garansi.

Secara istilah, asuransi adalah suatu cara untuk mengalihkan risiko dari tertanggung kepada penanggung, dengan cara tertanggung membayar premi kepada penanggung, dan jika terjadi risiko tertentu pada tertanggung dalam masa asuransi, maka penanggung akan membayar sejumlah uang untuk menggantikan kerugian keuangan yang dialami tertanggung.

Tertanggung dalam asuransi bisa individu bisa institusi/perusahaan, sedangkan penanggung selalu merupakan perusahaan.

Definisi ini dapat pula diberlakukan pada asuransi syariah, dengan perbedaan bahwa penanggung pada asuransi syariah adalah kumpulan para tertanggung itu sendiri, sedangkan perusahaan sebagai pengelola yang menerima upah.

Contoh:

Dalam asuransi kendaraan, tertanggung sebagai pemilik kendaraan membayar premi kepada penanggung (perusahaan asuransi), misalnya untuk jangka waktu satu tahun, dan jika di tahun itu kendaraannya mengalami kerusakan hingga kehilangan, maka perusahaan asuransi akan membayar biaya perbaikan atau penggantian kendaraan tsb.

Dalam asuransi kesehatan, tertanggung membayar premi kepada penanggung (perusahaan asuransi), dan jika dalam masa asuransi tertanggung mengalami sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit, maka perusahaan asuransi akan membayar biaya perawatan tertanggung.

Unsur-unsur Asuransi

Dalam asuransi terkandung unsur-unsur sbb:

  • Tertanggung: pihak yang dirinya atau harta bendanya dipertanggungkan, bisa individu bisa lembaga.
  • Penanggung: pihak yang menanggung kerugian, yaitu perusahaan asuransi, atau kumpulan tertanggung dalam asuransi syariah.
  • Premi: uang yang dibayar oleh tertanggung kepada penanggung sebagai biaya atau iuran untuk memperoleh pertanggungan
  • Uang pertanggungan: uang yang dibayar oleh penanggung sebagai pengganti dari kerugian yang dialami tertanggung
  • Periode asuransi: waktu dimulai hingga diakhirinya pertanggungan
  • Risiko: kejadian tertentu yang menimbulkan kerugian pada tertanggung dan dijamin oleh penanggung
  • Penerima manfaat: pihak yang menerima uang pertanggungan, bisa tertanggung itu sendiri atau pihak lain yang memiliki kepentingan dengan risiko yang dialami tertanggung.

Macam-macam Asuransi

Asuransi ada bermacam-macam, tergantung risiko atau objek yang diasuransikan. Secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu asuransi jiwa (life insurance) dan asuransi umum (general insurance). Untuk mudahnya, asuransi jiwa adalah asuransi untuk orang, dan asuransi umum adalah asuransi untuk harta benda, walaupun terkadang keduanya beririsan.

Contoh asuransi jiwa antara lain asuransi kematian (menanggung risiko meninggal dunia), asuransi kesehatan (menanggung risiko sakit), asuransi penyakit kritis, asuransi kecelakaan, dan asuransi cacat tetap.

Contoh asuransi umum antara lain asuransi kendaraan, asuransi properti, asuransi pengangkutan barang, asuransi proyek, asuransi tanggung gugat (hukum), dan asuransi perjalanan. Terkadang asuransi kesehatan dan asuransi kecelakaan pun ada di asuransi umum.

Kenapa Manfaat Asuransi Jauh Lebih Besar dari Premi?

Ada satu hal yang sering menjadi keheranan orang, yaitu kenapa manfaat asuransi bisa jauh lebih besar daripada premi yang dibayar. Bedanya bisa puluhan hingga ribuan kali lipat. Misal, bayar premi asuransi mobil hanya 5 juta setahun untuk mobil harga 200 juta, tapi jika mobil mengalami kerusakan, biaya puluhan juta hingga maksimal seharga mobil bisa diganti oleh asuransi. Ada pula asuransi jiwa, premi 5 juta setahun bisa mendapatkan uang pertanggungan 1 miliar. Lalu ada asuransi kesehatan yang memberikan plafon hingga puluhan miliar, padahal preminya hanya beberapa juta per bulan. Kenapa asuransi bisa memberikan manfaat hingga ratusan-ribuan kali lipat dari premi yang dibayar?

Jawabnya karena tertanggung asuransi itu banyak sekali, sedangkan yang melakukan klaim jauh lebih sedikit. Kita bisa lihat di lingkungan kita, orang yang sakit jauh lebih sedikit daripada orang yang sehat, kendaraan yang mengalami tabrakan jauh lebih sedikit daripada kendaraan yang tidak mengalami tabrakan, rumah yang kebakaran jauh lebih sedikit daripada rumah yang tidak kebakaran. Seandainya semua orang di lingkungan kita tersebut bergabung dalam asuransi, maka musibah yang dialami salah seorang anggota komunitas akan dengan mudah tertanggulangi.

Dengan kata lain, asuransi itu hakikatnya adalah saling berbagi beban di antara para tertanggung, sehingga beban yang ditanggung oleh tiap-tiap tertanggung menjadi jauh lebih ringan, yaitu hanya sebesar premi.

Asuransi bekerja berdasarkan hukum bilangan besar. Semakin banyak orang yang ikut asuransi, semakin kerugian itu bisa diprediksi, dan semakin mudah pula menghitung preminya, termasuk keuntungan yang layak diambil oleh pengelola.

Perlu Dicatat

  • Asuransi tidak mencegah terjadinya risiko. Asuransi hanya mencegah kerugian keuangan yang timbul akibat terjadinya risiko.
  • Sekali lagi, kerugian yang diganti oleh asuransi adalah kerugian keuangan, bukan kerugian dalam bentuk lain seperti fisik, psikologis, emosional, historis, dan sebagainya.
  • Asuransi bukan untuk cari untung, tapi untuk mengurangi kerugian yang timbul akibat suatu risiko. Ikut asuransi pasti rugi, minimal sebesar premi. Tapi jika tidak ikut asuransi, kerugiannya bisa sebesar aset yang dimiliki.
  • Tidak semua risiko dapat ditanggung oleh asuransi, melainkan hanya risiko tertentu yang secara probabilitas tingkat kejadiannya jauh lebih sedikit dari populasi, misal hanya beberapa kejadian per seribu atau beberapa kejadian per seratus, tergantung jenis asuransinya. Itulah sebabnya orang yang sudah sakit berat tidak bisa masuk asuransi kesehatan, karena peluang orang yang sakit berat untuk melakukan klaim itu sangat besar (bahkan mendekati 100%).

Demikian. []

Untuk konsultasi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (MDRT Allianz Indonesia)

HP/WA: 082 111 650 732 | Email: myallisya@gmail.com | Youtube: Asep Sopyan Network

Edukasi Asuransi, Unit Link

Investasi di Asuransi? Tidak!

Banyak orang mengambil produk asuransi dengan tujuan investasi, seperti untuk pendidikan anak, pensiun, atau sekadar menyimpan dana supaya bisa ditarik sewaktu-waktu dibutuhkan. Tapi pada saat mau ambil dana, di tahun keberapa pun itu, ternyata jumlahnya tidak sesuai dengan yang dibayangkan di awal.

Hal ini tak lepas dari penawaran agen, yang memang banyak sekali yang menawarkan asuransi dengan bahasa tabungan atau investasi, atau menyebutnya asuransi pendidikan, asuransi pensiun, dan sebagainya.

Tapi agen asuransi pun tak sepenuhnya bisa disalahkan. Hal ini juga tak lepas dari kebijakan perusahaan asuransi jiwa yang membuat produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) alias unitlink, dan menjadikannya produk unggulan yang dijual ke masyarakat, dan produk itu pula yang ditrainingkan cara-cara penjualannya kepada para agen.

Perusahaan asuransi pun mungkin bisa berkilah, produk unitlink dibuat karena masyarakat menginginkan produk asuransi yang memberikan manfaat lebih daripada produk tradisional. Dan faktanya, memang industri asuransi meroket sejak produk unitlink diperkenalkan pada awal tahun 2000-an.

Selain itu, juga ada otoritas yang mengizinkan.

Jadi bagaimana sebaiknya?

Saya agen asuransi, dan produk unggulan yang dijual di perusahaan tempat saya bernaung adalah unitlink. Tapi terus-terang saya sama sekali tidak sarankan unitlink untuk tujuan investasi.

Kenapa? Ada dua alasan pokok.

Pertama, fungsi utama asuransi itu adalah proteksi, jaga-jaga dari hal-hal yang tidak diinginkan, yang bisa terjadi kapan saja. Contoh: sakit, kecelakaan, cacat, meninggal dunia. Sedangkan investasi itu justru ditujukan untuk hal-hal yang diinginkan dan waktunya bisa direncanakan. Contoh: sekolah anak, liburan, perjalanan ibadah, pensiun. Jadi, dari segi fungsi saja asuransi dan investasi itu bukan hanya berbeda, tapi bertolak belakang.

Kedua, potongan biaya di produk unitlink itu sangat besar. Jika tujuannya investasi, tentu saja ini akan menggerus hasil investasi. Kenapa potongannya sangat besar? Karena ada manfaat asuransinya. Manfaat asuransi ini tidak gratis, karena untuk membayar klaim kepada nasabah yang terkena risiko, perusahaan asuransi harus mencadangkan sejumlah dana dan dana ini diambil dari premi nasabah.

Sebesar apa potongan biaya di produk asuransi unitlink? Tergantung manfaat asuransinya. Semakin besar manfaat asuransi (yaitu uang pertanggungan jiwa dan rider), semakin besar potongannya.

Jika anda pernah keberatan dengan biaya administrasi di tabungan bank yang nilainya sekitar belasan ribu per bulan, ketahuilah bahwa itu belum ada apa-apanya dibanding biaya administrasi di asuransi yang bisa mencapai 2-3 kali lipat.

Dan biaya administrasi di asuransi itu hanyalah sebagian kecil dari total biaya yang dikenakan. Ada lagi biaya yang lebih besar, yaitu biaya akuisisi, yang pada tahun pertama saja bisa mencapai 100% dari premi yang anda setorkan. Bayangkan, 100% itu artinya kalau anda setor 1 juta per bulan, maka seluruhnya hangus. Jadi, bagaimana investasi mau untung?

Dan biaya akuisisi ini masih dikenakan hingga 5 tahun dengan totalnya bisa mencapai 200% dari premi tahunan. Sebagai gambaran, jika premi anda 1 juta per bulan (12 juta per tahun), total biaya akuisisi yang dikenakan selama lima tahun bisa mencapai 24 juta.

Tapi itu bukan yang terbesar. Masih ada lagi potongan yang lebih besar daripada biaya akuisisi, yaitu biaya asuransi (cost of insurance). Besarnya biaya asuransi tergantung UP dasar dan rider yang diambil. Awalnya mungkin kecil (standar 10-20% dari premi, ada juga yang sampai 40-an%), tapi biaya ini naik setiap tahun seiring bertambahnya usia nasabah sehingga lama-lama bisa melebihi premi, dan dikenakan seumur hidup (atau selama polis masih aktif). (Selengkapnya tentang struktur biaya unitlink, bisa dibaca di SINI).

Jadi, bagaimana mungkin investasi di asuransi bisa untung?

Kalau memang berinvestasi di asuransi tidak disarankan, kenapa produk asuransi ada investasinya?

Pada produk unitlink, fungsi investasi adalah sebagai cadangan dana agar polis tetap aktif. Jadi, aktifnya manfaat asuransi tergantung keberadaan nilai investasi. Kalau dananya ditarik, saldo berkurang dan akan lebih cepat habis karena potongan biaya asuransi terus berjalan.

Jadi, bagi anda yang bertujuan investasi, pilihlah instrumen yang memang ditujukan khusus untuk investasi. Misalnya: deposito, reksadana, saham, obligasi, emas, tanah, properti, atau memodali suatu bisnis. Boleh juga seperti cara orangtua kita dulu, berinvestasi dengan menanam pohon dan memelihara ternak.

Dan jika anda ambil asuransi, walaupun itu produk unitlink yang ada investasinya, niatkan untuk tujuan proteksi.

Itu. []


Untuk konsultasi asuransi secara GRATIS, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Youtube: Asep Sopyan Network

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Edukasi Asuransi

9 Kesalahan Umum dalam Berasuransi

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay

Di lapangan, tak jarang saya menemukan orang-orang yang sebetulnya sudah bagus mau ambil asuransi tapi dengan tujuan atau cara yang tidak tepat. Hal ini dapat menyebabkan asuransi yang diambilnya tidak memberikan manfaat secara optimal. Tentunya kita tidak mau, bukan, sudah keluar uang lumayan besar setiap bulan atau setiap tahun, ternyata tidak dapat membantu kita pada saat dibutuhkan, atau tidak memberikan hasil sesuai yang diharapkan.

Kita perlu memahami kekeliruan-kekeliruan tersebut agar tidak terulang pada diri kita, dan agar kita bisa mendapatkan manfaat yang optimal dari asuransi.

Ada sembilan kesalahan umum yang lazim terjadi pada orang-orang yang mengambil asuransi.

1. Mengambil asuransi untuk tujuan menabung atau investasi

Sesuai arti harfiahnya, asuransi itu proteksi, bukan tabungan atau investasi. Apa bedanya? Proteksi itu jaga-jaga jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan yang bisa terjadi kapan saja, sedangkan menabung dan investasi itu persiapan dana untuk suatu kebutuhan yang diinginkan atau direncanakan di masa depan.

Memang, produk asuransi yang banyak ditawarkan zaman sekarang, yaitu unitlink, ada investasinya. Tapi produk tersebut tetaplah produk asuransi. Jika ingin berinvestasi melalui produk tersebut, perlu disadari bahwa potongan biaya-biayanya sangat besar setiap bulannya, dan itu akan menggerus nilai investasi anda. Sudah banyak sekali kasus orang yang merasa tertipu dan rugi karena saat dana ditarik, jumlahnya jauh lebih kecil daripada dana yang telah disetorkan.

Jadi, walaupun produk asuransi yang anda ambil itu jenisnya unitlink, tujuannya tetap proteksi. Yang dilihat adalah sisi proteksinya, bagus atau tidak, mencukupi atau tidak. Sedangkan sisi investasinya berfungsi untuk menjaga keberlangsungan proteksi, bukan diambil untuk keperluan lain.

2. Mendahulukan asuransi untuk anak

Kadang ada orangtua karena saking sayangnya dengan anak, dia ambilkan asuransi untuk anaknya lebih dahulu tapi dia sendiri sebagai orangtuanya tidak. Kenapa ini salah? Karena kalau terjadi apa-apa pada orangtua, siapa yang akan melanjutkan membayar polis? Oke, mungkin bisa ditambahkan manfaat pembebasan premi. Tapi yang lebih penting, siapa yang memberi makan si anak kalau orangtuanya tidak ada dan tidak meninggalkan warisan yang banyak?

Ini ibaratnya kalau di pesawat, ketika terjadi keadaan darurat, si orangtua memasangkan pelampung untuk anaknya lebih dahulu. Kenapa ini salah? Karena kalau terjadi sesuatu lebih dulu pada orangtua, anak tidak akan bisa menolong. Dan bukan hanya itu, si anak pun bisa tidak tertolong walaupun sudah memasang pelampung.

3. Manfaat asuransinya kecil

Manfaat kecil di sini dibandingkan dengan premi yang dibayarkan. Ditinjau dari konsep asuransi sebagai proteksi, tentunya tujuan proteksi jadi tidak tercapai. Dan jika pun tujuannya ingin investasi, tetap sulit dicapai karena terbentur potongan biaya yang terlalu besar.

Ada orang punya polis dengan premi 500 ribu per bulan, tapi UP jiwanya hanya 50 juta, dan manfaat lain seperti kecelakaan dan sakit kritis pun hanya beberapa puluh juta saja, padahal usia masih muda. Uang 50 juta mungkin terlihat besar, tapi dalam kondisi kena musibah, itu akan sangat kurang sekali. Saat saya bilang dengan premi segitu bisa mendapat UP 1 miliar (jika UP jiwa saja), atau 250 sd 500 juta (jika ditambah rider kecelakaan, cacat, dan sakit kritis), dia kaget.

Yang paling ekstrem, saya pernah mendapati ada nasabah yang punya polis di suatu asuransi dengan premi 100 juta setahun, dan itu full premi (premi dasar semua tanpa top up berkala, enak banget agennya), UP jiwanya hanya 500 juta alias hanya 5x dari premi tahunan, padahal usianya baru 30 tahunan. Lalu saya buatkan polis dengan UP jiwa 5 miliar, premi hanya 26 juta per tahun. Kalau mau investasi, selisihnya 74 juta silakan ditaruh di deposito atau reksadana.

Polis dengan manfaat asuransi yang kecil-kecil seperti itu banyak sekali. Sebabnya ada dua kemungkinan:

  • Produknya tidak memungkinkan memberikan manfaat yang besar, karena iming-imingnya lebih ke investasi. Tapi yang mengherankan, kok full premi ya, karena biaya akuisisinya jadi besar sekali. Jelas ini pengerukan thd uang nasabah. Jika ingin menawarkan investasi besar, seharusnya top up berkala atau premi savernya yang diperbesar, atau tawarkan single premium sekalian.
  • Agennya menawarkan seperti itu agar preminya bisa balik setelah sekian tahun. Jadi agennya mempertimbangkan sisi investasinya juga. Its oke, walaupun soal premi yang bisa balik itu sifatnya tidak dijamin. Dan jadi tidak oke jika premi yang ditawarkan ke nasabah seluruhnya ditaruh sebagai premi dasar, karena berarti agennya mengambil komisi terlalu banyak.

Sementara pada saat yang sama, nasabah yang memang masih awam, tidak paham bahwa uangnya telah diambil banyak sekali oleh perusahaan asuransi atau agen asuransi tanpa mendapatkan timbal balik berupa manfaat asuransi yang memadai.

4. Ambil asuransi karena gak enak sama temen atau sodara

Ambil asuransi dari teman atau saudara yang menjadi agen asuransi itu tidak salah, tapi kalau alasannya karena gak enak, itu bisa berisiko terhadap diri sendiri. Yang lebih penting itu kenali manfaat asuransi yang diambil, apakah sesuai kebutuhan atau tidak. Jangan sampai setelah ambil asuransi, ketika terjadi sesuatu ternyata tidak bisa diklaim karena manfaatnya tidak sesuai.

5. Tidak tahu manfaat asuransi yang diambil

Banyak orang mengaku sudah punya asuransi, tapi ketika ditanya manfaat apa saja yang terdapat dalam polisnya, mereka tidak bisa menjawab. Polis itu jangan sekadar dikoleksi, tapi harus diketahui dan dipahami manfaatnya. Asuransi itu ada bermacam-macam tergantung risiko yang ditanggungnya. Pastikan anda tahu kejadian apa saja yang bisa diklaim. Baca polis dan tanyakan kembali pada agen jika kurang paham.

6. Tidak baca polis

Banyak orang setelah menerima buku polis lantas langsung menyimpannya di lemari. Mestinya dibaca dulu setidaknya di bagian data polis, jika ada yang kurang paham tanyakan kepada agen atau baca isi polisnya. Setelah dipahami, barulah disimpan di tempat penyimpanan yang aman.

Buku polis asuransi memang bukan bacaan yang mengasyikkan karena isinya pasal-pasal dan tulisannya kecil-kecil, mirip dengan kitab hukum. Tapi ini bukan alasan untuk tidak memahami isinya.

Yang dikhawatirkan karena tidak baca polis adalah anda tidak memahami atau salah memahami manfaat polis yang dimiliki. Terkadang banyak orang menyalahkan agen bukan semata karena si agennya yang salah, tapi nasabah pun tidak membaca polisnya.

7. Tidak memantau perkembangan polis

Nah, ini kesalahan yang mengherankan. Biasanya terhadap uang itu orang sangat perhatian hingga ke recehan yang paling kecil. Tapi terhadap uang premi yang disetorkan secara rutin ke perusahaan asuransi, kenapa banyak orang yang abai dan memilih percaya saja? Maunya tahu hasil akhirnya saja, dan hasilnya harus untung sesuai yang dibayangkan di awal, tapi saat ditarik ternyata mengejutkan. Akhirnya banyak yang ngamuk-ngamuk di kantor asuransi dan dilanjutkan di media sosial.  

Jika sadar sejak awal dan ternyata salah beli asuransi, setidaknya kerugian yang dialami tidak perlu terakumulasi.

Perkembangan nilai investasi polis dapat dipantau di laporan bulanan yang dikirim ke alamat rumah atau ke email, dan sekarang ini banyak perusahaan asuransi juga sudah menyediakan portal online yang dapat diakses setiap saat. Jadi tak ada alasan untuk kaget saat mau tarik dana, mestinya. Jika tidak ada laporan secara rutin, segeralah menanyakan ke perusahaan asuransi atau melalui agen.

8. Tidak melakukan evaluasi terhadap polis asuransi secara berkala

Kadang ada orang ketika ditanya apakah sudah punya polis asuransi, dijawab sudah. Kapan ambilnya, ternyata belasan tahun lalu. Nah, polis yang diambil belasan tahun lalu itu kemungkinan besar tidak mencukupi lagi manfaatnya di masa sekarang. Misalnya jika asuransi jiwa, perlu dilihat UP-nya berapa. UP 50 juta tahun 2002 mungkin terasa besar, tapi sekarang tak seberapa. Kalau asuransi kesehatan, plan kamar 200 ribu dulu sudah wah, sekarang kamar kelas 3 saja sudah tidak dapat.

Jadi, penting untuk mengevaluasi polis secara berkala, disesuaikan dengan perkembangan penghasilan, pertambahan anggota keluarga, inflasi, dan sebagainya.

9. Tidak jujur dengan kondisi kesehatan

Kejujuran merupakan syarat sahnya sebuah polis asuransi, sesuai dengan prinsip utmost good faith atau itikad baik. Polis yang diketahui tidak jujur, klaimnya akan ditolak, bahkan polis pun bisa dibatalkan.

Contoh tidak jujur, misalnya ada riwayat sakit tapi tidak disampaikan di form SPAJ (Surat Pengajuan Asuransi Jiwa). Jika terjadi klaim yang berat di tahun-tahun awal, perusahaan asuransi akan melakukan investigasi untuk memastikan kebenaran klaim dan kesesuaian dengan data yang disampaikan di SPAJ. Jika tidak sesuai, itu bisa jadi alasan bagi perusahaan asuransi untuk menolak klaim.

Demikian. []


Untuk berkonsultasi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Jadi agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda