Pengetahuan Asuransi, Video

Proses Klaim Asuransi Jiwa Allianz Indonesia

Wawancara dengan dr. Widya Indira, Individual Life Claim Manager Allianz Life Indonesia. Video ini dimuat di kanal Youtube Allianz Indonesia.

Apa yang harus diperhatikan oleh nasabah jika ingin klaimnya berjalan lancar?

Ada 5 hal yang perlu diperhatikan nasabah agar proses klaim dapat berjalan dengan lancar.

  1. Pastikan sebagai nasabah mengetahui manfaat dan pengecualian yang ada dari produk asuransi yang dimiliki.
  2. Membaca persyaratan pengajuan klaim sesuai yang ada di website Allianz.
  3. Melengkapi formulir klaim yang dapat didownload di website Allianz atau meminta dokumen tsb kepada customer service Allianz.
  4. Melengkapi dokumen klaim sesuai dengan yang dipersyaratkan.
  5. Mengisi formulir klaim dengan data yang benar dan akurat, seperti nomor polis, nama pemegang polis, nama tertanggung, nomor rekening, dsb.

Tahapan apa saja yang dilakukan oleh Allianz pada saat menerima klaim dari nasabah?

Proses klaim dimulai sejak dokumen klaim diterima dan diverifikasi kelengkapan dokumen.

Kemudian kami akan melakukan proses analisa klaim. Dan jika diperlukan, Allianz akan melakukan klarifikasi data atau proses investigasi.

Setelah semua proses analisa selesai, maka akan dilanjutkan dengan keputusan klaim.

Jika klaim disetujui, maka akan ada proses pembayaran klaim. Namun jika klaim tidak dapat disetujui, maka Allianz akan mengirimkan surat beserta alasan mengapa klaim tidak dapat disetujui.

Apa yang menjadi penyebab klaim tidak disetujui?

Penyebab paling sering yang terjadi klaim tidak dapat disetujui adalah karena klaim yang diajukan merupakan pengecualian yang telah disebutkan dalam polis, serta pengisian SPAJ dengan data yang tidak benar.

Saran kami, isilah setiap formulir dengan data yang lengkap dan benar. Dan ketika nasabah menerima buku polis, sebaiknya nasabah segera membaca buku polis tsb. Bila ada hal-hal yang kurang jelas maka bisa meminta informasi lebih lanjut kepada agen atau customer service Allianz.

Apa saja tips agar klaim dapat disetujui atau diterima?

Ada beberapa hal.

  1. Pastikan pengisian formulir SPAJ dengan jujur dan lengkap, terutama pada bagian pertanyaan kesehatan.
  2. Membaca buku polis, terutama di bagian pengecualian.
  3. Membayar premi tepat waktu.
  4. Mengajukan klaim sesuai dengan dokumen lengkap yang dipersyaratkan.

Allianz pasti akan membayarkan klaim apabila klaim yang diajukan sesuai dengan ketentuan polis.

Apa yang menjadi penyebab waktu proses klaim dapat berbeda meskipun jenis klaimnya sama?

Biasanya klaim lama diproses karena dokumen klaim yang kami terima tidak lengkap. Dokumen lengkap umumnya terdiri dari:

  • Formulir klaim yang diisi oleh nasabah
  • Formulir klaim yang diisi oleh dokter
  • Copy hasil pemeriksaan penunjang diagnostik
  • Informasi nomor rekening

Jika dokumen lengkap bisa kami terima sejak awal, maka keputusan klaim akan cepat kami sampaikan.

Pengajuan klaim yang benar akan mempercepat proses klaim serta memudahkan semua pihak. []


Demikian beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengajuan klaim asuransi.

Selengkapnya tentang proses dan cara klaim asuransi di Allianz, dapat dibaca di SINI.

Untuk konsultasi lebih lanjut, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082111650732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Edukasi Asuransi, Pengetahuan Asuransi

Mengenal Prinsip Indemnitas dan Subrogasi: Asuransi Bukan untuk Cari Untung

Hasil gambar untuk contoh kasus subrogasi dalam asuransi

Dalam asuransi dikenal beberapa prinsip yang menunjukkan karakteristik apa itu sesungguhnya asuransi. Dua prinsip di antaranya menunjukkan karakteristik asuransi yang paling penting, yaitu bahwa asuransi bukan untuk cari untung. Dua prinsip itu ialah indemnitas (indemnity) dan subrogasi (subrogation).

Indemnitas atau dengan kata lain “ganti rugi” artinya hak tertanggung untuk mendapatkan penggantian atas kerugian yang dia alami sehingga posisi keuangan tertanggung menjadi sama dengan kondisi sesaat sebelum terjadi kerugian.

Jika tertanggung mengalami kerugian 10 juta, maka yang diganti oleh penanggung (asuransi) adalah maksimal 10 juta. Jika kerugiannya 100 juta, maka yang diganti oleh asuransi adalah maksimal 100 juta, dengan tetap memperhatikan batas manfaat dari produk asuransi yang dimiliki tertanggung.

Sedangkan subrogasi artinya hilangnya hak tertanggung untuk menuntut pihak ketiga yang menyebabkan kerugian bagi tertanggung apabila pihak penanggung (perusahaan asuransi) telah menyelesaikan pembayaran ganti rugi kepada tertanggung. Hak penuntutan kepada pihak ketiga ini beralih kepada penanggung.

Prinsip subrogasi menjamin prinsip indemnitas berjalan dengan baik.

Misalnya: Mobil si A ditabrak oleh mobil si B. Si A memiliki asuransi mobil, termasuk di dalamnya ada manfaat tanggung jawab hukum terhadap pihak ketiga (third party liability). Dalam kasus ini A memiliki dua sumber penggantian, yaitu perusahaan asuransi dan si B.

Jika perusahaan asuransi telah membayar ganti rugi atas kerugian si A sesuai prinsip indemnitas, maka si A tidak berhak menuntut si B. Hak untuk menuntut si B beralih ke perusahaan asuransi, dan perusahaan asuransi boleh menggunakan haknya boleh pula tidak (walaupun biasanya tidak).

Demikian pula jika si B telah mengganti kerugian yang dialami si A, maka si A tidak berhak menuntut perusahaan asuransi untuk memberikan ganti rugi. Tapi biasanya, jika si B tahu bahwa si A memiliki asuransi mobil, si B akan mempersilakan si A untuk mengajukan klaim ke asuransi dulu, dan dia akan menanggung sisanya yang tidak diganti oleh asuransi.

Bagaimana jika si A tetap menuntut si B seraya tidak memberitahukan bahwa dia punya asuransi, sedangkan dia pun tetap mengajukan klaim ke perusahaan asuransi seraya tidak memberi tahu bahwa mobilnya ditabrak si B?

Tidak boleh seperti itu, karena dalam pengajuan klaim ke asuransi harus disertakan kronologi kejadian, dan dia harus jujur mengungkapkan kronologinya sesuai dengan prinsip asuransi lainnya yang mendasari semua prinsip, yaitu utmost good faith (pengungkapan niat baik). Jika si A tidak jujur dan ketahuan, maka klaimnya bisa tidak dibayar.

Kedua prinsip indemnitas dan subrogasi tampak jelas dalam jenis asuransi yang berbentuk penggantian biaya, seperti asuransi kesehatan, asuransi mobil, dan asuransi rumah. Bagaimana dengan jenis asuransi yang bentuknya santunan tunai atau uang pertanggungan yang dibayarkan sekaligus (lumpsum), seperti asuransi jiwa, cacat tetap, penyakit kritis, dan santunan harian?

Kerugian finansial ada yang bisa dihitung nilainya dan ada yang tidak bisa dihitung. Biaya rumah sakit, perbaikan kendaraan, dan biaya hukum bisa dihitung nominalnya. Tapi biaya akibat kematian, kehilangan kemampuan bekerja, dan biaya-biaya di luar biaya medis tidak bisa dihitung. Dalam hal ini, batasnya adalah kemampuan keuangan atau gaya hidup dari si tertanggung sendiri.

Orang tidak mungkin membeli asuransi dengan premi di luar batas kemampuannya, atau mengambil UP (uang pertanggungan) yang terlalu tinggi. Jika penghasilannya 5 juta per bulan, tidak mungkin dia mengambil asuransi dengan premi 5 juta juga per bulan, bahkan premi di atas 1 juta pun berat. Perusahaan asuransi pun akan mewajibkan tertanggung untuk mengisi kuesioner keuangan jika mengambil UP sejumlah minimal tertentu (misalnya di atas 5 miliar).

Asuransi santunan harian (cash plan) yang rawan disalahgunakan karena bisa double claim pun dibatasi maksimal per harinya. Di Allianz, batas manfaat santunan harian adalah 1 juta per hari.

Jadi, asuransi berbentuk santunan tunai pun tetap memperhatikan prinsip indemnitas dan subrogasi. Intinya, asuransi bukanlah untuk cari untung, melainkan untuk menghindari kerugian yang timbul akibat risiko tertentu.

Jika ada orang cari untung lewat asuransi, dia keliru. Termasuk jika mengharapkan untung dari nilai investasinya, itu pun salah alamat.

Demikian. []

Untuk konsultasi masalah asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Pengetahuan Asuransi

Saya Mau Ikut Asuransi, Apakah Saya Harus Tes Medis?

Iklan Asji 25

Tes medis, pemeriksaan kesehatan, atau medical check up, adalah suatu prosedur standar dalam pengajuan asuransi jiwa. Tapi tidak setiap orang yang mengajukan asuransi jiwa harus menjalani tes medis.

Tes medis hanya diperlukan karena satu atau dua hal:

  1. Uang pertanggungan melebihi limit non-medis.
  2. Ada riwayat sakit.

Tes Medis Berdasarkan Uang Pertanggungan

Perusahaan asuransi biasanya telah mengeluarkan tabel UP (uang pertanggungan) non-medis berdasarkan usia. Allianz sendiri pada tahun 2017 mengeluarkan tabel UP nonmedis sebagai berikut: Lanjutkan membaca “Saya Mau Ikut Asuransi, Apakah Saya Harus Tes Medis?”