Investasi

4 Tingkat Investor

Tingkat 1: Penabung

Orang yang menabung melihat kepada orang yang tidak menabung: Ah, malangnya kamu, tidak punya masa depan.

 

Tingkat 2: Investor Reksadana

Orang yang berinvestasi di reksadana berkata kepada orang yang menabung: Ah, kasihan kamu, tidak sadar ya kalau sebenarnya uangmu berkurang, …, oleh inflasi.

 

Tingkat 3: Investor Saham

Orang yang berinvestasi di saham berkata kepada orang yang berinvestasi di reksadana: Ah, kenapa tidak belajar sedikit lagi saja,…, dan keuntunganmu akan berlipat-lipat.

 

Tingkat 4: Pemilik Bisnis

Adakah orang yang memandang investor saham dengan pandangan ke bawah? Dialah pemilik bisnis, yaitu orang yang menerbitkan saham dan menjualnya kepada para investor saham. Menurut Kiyosaki, inilah ultimate investor, level puncak dari jajaran investor.

 

Investasi

Investasi untuk Capital Gain dan Cashflow

Dalam bukunya Who Took My Money, Robert T Kiyosaki menceritakan sewaktu dia diajak Ayah Kaya main ke peternakan sapi potong dan peternakan sapi perah. Di peternakan sapi potong, sapi-sapi dipelihara agar yang tadinya kecil dan kurus menjadi besar dan gemuk, setelah itu disembelih. Sapinya mati. Di peternakan sapi perah, sapi-sapi dipelihara untuk diperah susunya. Sapinya tetap hidup.

Pengalaman ini digunakan Kiyosaki untuk mengilustrasikan dua tipe investasi: investasi untuk capital gain (kenaikan harga modal) dan investasi untuk cashflow (aruskas).

Peternakan sapi potong menggambarkan investasi untuk capital gain. Setiap orang yang berinvestasi dengan cara membeli suatu aset di harga rendah, menahan dan menunggu hingga harganya naik, lalu menjual aset itu, berarti dia berinvestasi untuk capital gain. Lanjutkan membaca “Investasi untuk Capital Gain dan Cashflow”

Investasi

3 Kelas Aset menurut Kiyosaki

Dalam satu bulan terakhir ini saya menamatkan tiga buku karya Robert T Kiyosaki. Pertama berjudul The Cashflow Quadrant, lalu Rich Dad Poor Dad, dan kemudian Who Took My Money. Saya ingin mengulas buku yang terakhir saya baca.

Who Took My Money menyadarkan saya akan kelemahan investasi dalam saham dan reksadana, yaitu kurangnya kendali atas uang kita. Pada reksadana, kita menyerahkan uang kepada orang yang tidak kita kenal (manajer investasi), lalu berharap dia akan bekerja dengan baik mengembangbiakkan uang kita. Tapi entah dia bekerja baik atau buruk, dia tetap dibayar. (Saya tidak berinvestasi melalui reksadana, kecuali pada asuransi unit link yang saya dan istri saya beli. Itu pun tujuannya bukan investasi, tapi asuransi).

Pada saham, kita menyerahkan uang ke broker saham, lalu kita membeli sendiri saham-saham yang kita inginkan. Apakah harga saham itu akan naik atau akan turun, kita tidak tahu dan tidak bisa mengendalikan.

Kiyosaki tidak memprioritaskan investasi pada surat berharga. Saham hanyalah hidangan penutup bagi dia, yaitu ketika dia kelebihan uang tunai dari arus kas yang mengalir dari investasinya di kelas aset yang lain, real estat dan bisnis. Lanjutkan membaca “3 Kelas Aset menurut Kiyosaki”