Asuransi Jiwa

6 Fungsi Asuransi Jiwa

Pada tanggal 8 April 2020, untuk pertama kalinya setelah menjadi agen asuransi selama lebih dari delapan tahun, saya membuat video tentang asuransi. Video ini saya muat di saluran Youtube saya, Asep Sopyan Official.

Berikut adalah transkripnya.

Pada kesempatan ini saya akan sharing sebuah wawasan tentang fungsi-fungsi asuransi jiwa. Manfaat apa saja sih yang bisa diperoleh dari asuransi jiwa.

Apa itu asuransi jiwa? Ialah asuransi yang memberikan sejumlah uang ketika tertanggung meninggal dunia. Tertanggung adalah orang yang diasuransikan. Uangnya tentunya tidak diberikan kepada si tertanggung itu sendiri, karena dia sudah tidak ada, tetapi diberikan kepada ahli waris atau keluarganya sebagai penerima manfaat.

Seberapa besar uang yang diberikan oleh asuransi jiwa? Tergantung kesepakatan awal yang tercantum di dalam buku polis. Bisa puluhan juta, ratusan juta, bahkan miliaran, tergantung kemampuan si tertanggung itu untuk membayar preminya.

Jadi asuransi jiwa ini untuk apa?

Saya mencatat setidaknya ada 6 fungsi asuransi jiwa.

Pertama, sebagai pengganti penghasilan.

Kedua, sebagai persiapan biaya kematian.

Ketiga, sebagai warisan untuk anak

Keempat, untuk menghindari perselisihan di antara ahli waris

Kelima, untuk membayar utang

Keenam, sebagai sedekah untuk terakhir kalinya.

Itu adalah manfaat-manfaat yang bisa diperoleh dari asuransi jiwa. Manfaat apa pun yang menjadi alasan anda untuk mengambil asuransi jiwa, itu baik.

Baik selanjutnya saya jelaskan satu per satu secara ringkas.

Yang pertama adalah fungsi asuransi jiwa sebagai pengganti penghasilan. Fungsi ini terutama ditujukan untuk para pencari nafkah dalam keluarga. Mungkin ayah, atau ibu jika bekerja, atau single parent, atau kakak terhadap adiknya, atau anak terhadap orangtuanya yang sudah tua. Intinya, jika ada orang-orang yang bergantung kepada pencari nafkah, maka si pencari nafkah tersebut wajib mengambil asuransi jiwa, untuk melindungi orang-orang yang dia nafkahi.

Ketika masih hidup, orang bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Tetapi apa yang terjadi kalau dia meninggal dunia? Pada umumnya orang, kalau dia meninggal dunia atau tutup usia, maka tutup pulalah penghasilannya. Kalau dia adalah penanggung nafkah bagi keluarganya, lalu selanjutnya siapa yang akan memberikan nafkah bagi keluarga yang dia tinggalkan? Kan itu pertanyaannya.

Nah, di sinilah asuransi jiwa akan bekerja untuk membantu orang-orang yang dia tinggalkan itu. Jadi di sini asuransi jiwa berfungsi sebagai pengganti nilai ekonomis dari si pencari nafkah.

Berbeda dengan penghasilan yang diperoleh ketika hidup, yang sifatnya rutin, mungkin bulanan, mingguan, atau bahkan harian, pengganti penghasilan dari asuransi jiwa ini diberikan secara sekaligus atau lump sum. Jadi ahli waris atau keluarganya ini dapat menggunakannya dengan lebih leluasa. Bisa digunakan sedikit demi sedikit untuk kebutuhan sehari-hari, sisanya disimpan, bisa juga diinvestasikan, bisa ditabung, atau dijadikan modal usaha. Yang pasti jangan sampai diikutkan investasi bodong. Bisa habis itu uang ratusan juta atau miliaran. Sayang, kasihan.

Itu adalah fungsi asuransi jiwa yang pertama.

Yang kedua, fungsi asuransi jiwa sebagai persiapan biaya kematian. Kita tahu, hidup butuh biaya, mati pun butuh biaya. Biaya mati. Apa saja? Yang pasti pengurusan jenazah, mulai dari dimandikan, dikafani, dikuburkan, atau dikremasi, atau di rumah duka. Tapi biasanya ada lagi biaya yang lebih besar, yaitu biaya tradisi yang menyertai kematian. Tradisi ini bisa terkait adat atau agama. Kita tahu di beberapa daerah, ada tradisi kematian yang membutuhkan biaya sangat besar. Seperti ngabel di Bali, saur matua di Batak, dan apa itu di Tana Toraja, dan sebagainya. Bahkan yang sederhana saja seperti tahlilan bagi kalangan Muslim tertentu, itu pun butuh biaya yang lumayan dan harus dipersiapkan.

Selanjutnya fungsi yang ketiga, yaitu sebagai warisan untuk anak. Kalau tadi, asuransi jiwa sebagai pengganti penghasilan, itu terutama untuk pencari nafkah ketika orang-orang yang dinafkahi, misalnya anak, itu masih belum dewasa, masih sekolah, masih belum bekerja. Nah, kalau sebagai warisan untuk anak ini bisa jadi anak-anak sudah mandiri tapi belum mapan. Belum punya rumah sendiri, belum punya kendaraan. Kalau mereka ini mendapatkan warisan dari orangtuanya, itu akan lumayan sekali membantu sekali bagi mereka. Jika tidak ada warisan, maka asuransi jiwa itu akan membantu mereka. Mungkin bisa buat beli rumah, atau paling tidak buat DP rumah.

Selanjutnya fungsi yang keempat yaitu untuk menghindari perselisihan di antara ahli waris. Tak jarang sebuah keluarga terjadi cekcok atau berselisih karena masalah warisan. Salah satu sebab terjadi perselisihan bisa jadi karena harta yang diwariskan itu berbentuk aset tetap yang tidak mudah dijual kecuali dengan harga murah, misalnya rumah tinggal atau tanah. Sedangkan jumlah ahli warisnya lebih dari satu, misalnya anak ada dua atau tiga, atau ada ahli waris yang lain juga.

Nah, salah satu cara untuk menghindari itu siapkan asuransi jiwa sejak masih hidup. Dirancanglah misalnya untuk anak pertama sekian, anak kedua sekian, anak perempuan sekian, anak laki-laki sekian, lalu yang dapat rumah tinggal siapa, sehingga ketiga terjadi si orangtua ini meninggal tidak terjadi peselisihan. Kalau uangnya ada (dalam bentuk tunai sehingga mudah dibagi) mudah-mudahan tidak berselisih.

Lalu yang kelima, fungsi asuransi jiwa adalah untuk membayar utang. Uang bisa diwariskan dan begitu pula utang. Kalau dapat warisan uang, tentu ahli warisnya ya oke-oke saja. Tapi kalau dapat warisan utang, wah ini yang repot. Si penagih utang tidak mau tahu. Utang harus dibayar, baik si yang punya utang masih hidup atau sudah meninggal. Kalau sudah meninggal, maka menjadi tanggungan ahli warisnya.

Itu sebabnya dalam pidato upacara kematian, si pembicara dari keluarga orang yang meninggal biasanya akan bicara seperti ini: “Jika ada urusan utang-piutang dengan almarhum silakan menghubungi keluarga”. Misalnya seperti itu, ya karena utang si almarhum itu menjadi tanggungan keluarganya.

Dan bagi orang-orang yang beriman, yang percaya kepada hari kemudian, utang itu jika tidak lunas ketika hidup dan ahli waris pun tidak mampu melunasi, maka utang itu akan ditagih di akhirat. Dengan apa membayarnya? Ya mungkin dengan amal, itu pun kalau ada. Dan kalau dipake bayar utang, amal yang ada pun bisa berkurang bisa habis, masuk surga bisa terhambat. Waduh ngeri juga ya.

Jadi hindari meninggalkan utang, dan salah satu caranya adalah back up utang yang ada dengan asuransi jiwa. Mungkin kalau utang-utang yang resmi dari bank, seperti KPR bank, kredit motor, kredit mobil, atau kredit usaha itu sudah ada asuransi jiwanya. Karena bagaimana pun bank harus mengurangi risiko gagal bayar ketika si peminjam meninggal dunia.

Lalu fungsi yang keenam, dan ini luar biasa, asuransi jiwa ternyata bisa jadi sedekah untuk terakhir kalinya. Nah, kita dalam hidup mungkin punya impian atau cita-cita yang cukup besar sehingga tidak mudah untuk diwujudkan. Tapi dengan asuransi jiwa, bisa saja cita-cita tersebut diwujudkan setelah meninggal dunia. Dengan uang yang cair dari asuransi jiwa, mungkin ratusan juta atau miliaran, ya kalau ada orang punya cita-cita bangun tempat ibadah, atau bangun yayasan panti asuhan, panti jompo, yayasan kesehatan untuk membantu orang-orang sakit, dan sebagainya, itu bisa, itu mungkin.

Dan khusus untuk asuransi jiwa syariah, ada program yang disebut wakaf wasiat polis asuransi jiwa syariah. Wakaf ini adalah sedekah jariyah, yaitu sedekah yang pahalanya terus mengalir meskipun orangnya telah tidak ada. Dengan program wakaf, maka peserta asuransi jiwa meniatkan uang pertanggungannya untuk disumbangkan kepada lembaga yang ditunjuk.

Jadi bagus ya fungsi-fungsi asuransi jiwa ini. Sangat bermanfaat bukan untuk kita, bukan untuk yang masih hidup, tapi terutama untuk orang-orang yang ditinggalkan.

Jadi menurut pepatah, asuransi jiwa diperlukan bukan karena ada orang yang mati, tapi karena ada orang-orang yang harus melanjutkan kehidupan.

Jadi jika diringkas, enam fungsi ini adalah, satu sebagai pengganti penghasilan. Ini sebagai fungsi yang pokok. Lalu persiapan biaya kematian, lalu warisan untuk anak, lalu untuk menghindari perselisihan di antara ahli waris, untuk membayar utang, dan sebagai sedekah untuk terakhir kalinya.

Jangan lupa like, subscribe, comment, atau share. Kunjungi saluran Youtube saya di SINI. []


Untuk konsultasi tentang asuransi, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan [Senior Business Partner]

HP/WA 082111650732 | myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda

Asuransi Jiwa, Asuransi Syariah

Mari Berwakaf melalui Polis Asuransi Jiwa Allianz Syariah

Apabila anak Adam meninggal dunia, putuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. (HR Muslim).

Sedekah jariyah adalah sedekah yang manfaatnya berlangsung terus-menerus, dan karena itu pahalanya pun mengalir terus-menerus kepada pemberi sedekah, walaupun orangnya telah tiada.

Salah satu bentuk sedekah jariyah, dan merupakan bentuk yang paling tahan lama, adalah wakaf. Wakaf artinya berhenti, atau menahan, yaitu menahan pokoknya supaya tidak berkurang dan hanya mengambil manfaatnya.

Zaman dahulu, wakaf biasanya hanya berupa harta tak bergerak, terutama tanah dan bangunan. Tapi zaman sekarang, harta bergerak pun dapat ditahan apa yang menjadi pokoknya, dan hanya diambil apa yang menjadi manfaatnya, seperti pada konsep dana abadi.

Saat diminta berwakaf, anda mungkin membayangkan sejumlah harta yang besar. Seperti tanah, kebun, sawah, bangunan, dll itu memang harta yang besar dan tidak sembarang orang mampu melakukannya.

Tapi dengan konsep wakaf melalui polis asuransi jiwa syariah, sembarang orang pun dapat melakukannya karena dananya bisa dicicil dengan jumlah yang kecil, tapi hasilnya nanti bisa sangat besar.

Sebagai contoh, seorang pria usia 30 tahun dapat mencicil dana wakaf hanya 1 juta tiap bulan, tapi dia bisa berwakaf sebesar 500 juta lebih ke lembaga wakaf yang dipilih. Jika dia kumpulkan sendiri uang 1 juta tiap bulan, butuh 500 bulan atau 40 tahun lebih untuk terkumpul 500 juta. Tapi dengan asuransi jiwa, dana 500 juta untuk wakaf tersebut sudah tersedia sejak hari pertama polis asuransinya disetujui.

Karena wakaf dilakukan melalui polis asuransi jiwa, tentunya dana wakaf tersebut hanya bisa dicairkan ketika wakif (orang yang berwakaf) meninggal dunia. Ikrar wakaf yang sebenarnya baru dilakukan setelah dana wakaf diterima oleh lembaga atau pihak yang ditunjuk. Jadi, wakaf melalui cara ini sifatnya adalah wasiat. Tapi ini adalah wasiat yang berkekuatan hukum mengikat kepada wakif dan para ahli warisnya, sehingga tidak bisa dibatalkan oleh ahli waris.

Ketentuan Wakaf Wasiat Polis Asuransi Jiwa Syariah

Menurut fatwa MUI nomor 106 tahun 2016 tentang Wakaf Manfaat Asuransi dan Manfaat Investasi pada Asuransi Jiwa Syariah:

  1. Jumlah yang dapat diwakafkan dari manfaat asuransi adalah maksimal 45% dari uang pertanggungan.
  2. Jumlah yang dapat diwakafkan dari manfaat investasi adalah maksimal 30% dari nilai investasi.

Dengan demikian, jika UP (uang pertanggungan) 1 miliar, maka yang dapat diwakafkan adalah maksimal sebesar 450 juta. Sedangkan dari sisi investasinya, jika nilainya 100 juta, maka yang dapat diwakafkan adalah maksimal 30 juta.

Sisanya tentu saja menjadi hak para ahli waris dari wakif tersebut. Dengan demikian, aturan ini tidak mencabut hak ahli waris untuk mendapatkan warisan.

Jadi, tindakan berwakaf wasiat melalui polis asuransi jiwa syariah ini akan sekaligus mendapatkan setidaknya dua kebaikan. Pertama, kebaikan karena memberikan harta untuk kepentingan umum (wakaf). Kedua, kebaikan karena memberikan harta kepada keluarga yang ditinggalkan (warisan).

Cara Berwakaf melalui Polis Asuransi Jiwa Allianz Syariah

Jika anda tertarik untuk mendapatkan dua kebaikan dari berwakaf melalui polis asuransi jiwa Allianz Syariah, caranya adalah sbb:

  1. Membuka polis asuransi jiwa syariah dari Allianz, yaitu produk Tapro Allisya Protection Plus. Preminya tergantung tergantung seberapa besar nilai yang akan diwakafkan dan tergantung kemampuan calon wakif.
  2. Mengisi form Janji (Wa’ad) Wakaf, yang akan disertakan sebagai bagian tak terpisahkan dari SPAJ (Surat Permohonan Asuransi Jiwa). Formulir ini ditandatangani oleh wakif dan seluruh ahli waris. Dalam form ini disebutkan lembaga apa yang akan diserahi dana wakaf jika tertanggung (calon wakif) meninggal dunia.
  3. Selanjutnya membayar premi secara rutin untuk memastikan polis tetap aktif sampai saat itu tiba.
Form Janji Wakaf

Lembaga Wakaf yang Bekerja Sama dengan Allianz Syariah

Ke mana dana wakaf akan disalurkan? Saat ini Allianz Life Indonesia Syariah telah bekerja sama dengan 4 (empat) lembaga pengelola wakaf, yaitu:

  1. Dompet Dhuafa
  2. Rumah Wakaf Indonesia
  3. Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar
  4. Inisiatif Wakaf (iWakaf)

Dompet Dhuafa (DD) didirikan pada tahun 1993 oleh Harian Umum Republika. DD adalah lembaga filantropi Islam bersumber dari dana zakat, infak, sedekah, wakaf (ZISWAF) dan dana halal lainnya yang berkhidmat dalam pemberdayaan kaum dhuafa dengan pendekatan budaya melalui kegiatan filantropis (humanitarian) dan wirausaha sosial profetik (prophetic socio-technopreneurship). DD memiliki program di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan pengembangan sosial. Di antara hasil karya DD yang berkelanjutan adalah RS Rumah Sehat Terpadu, Sekolah Umar Usman, Smart Ekselensia Indonesia, dan Khadijah Learning Center. DD berkantor di Philanthropy Building, Jl. Warung Jati Barat No.14, Jakarta Selatan. Alamat web: dompetdhuafa.org.

Rumah Wakaf Indonesia (RWI) berdiri pada tahun 2009 dan disahkan sebagai Lembaga Wakaf Nasional pada tahun 2010. Pada tahun 2014 Badan Wakaf Indonesia (BWI) sebagai regulator pengelolaan wakaf di Indonesia telah menerbitkan izin Rumah Wakaf Indonesia sebagai Lembaga Pengelolaan Wakaf Tunai.  RWI memiliki program wakaf produktif seperti sekolah, rumah sakit, peternakan, pertanian, dan properti. Ada juga wakaf charity dalam program jembatan, desa Quran, sarana masjid, dan sarana sekolah. RWI beralamat di Jl. Batu Kencana 6, Gumuruh, Batununggal, Kota Bandung, Jawa Barat. Alamat web: rumahwakaf.org.

Yayasan Pesantren Islam Al-Azhar (YPI Al-Azhar) didirikan pada tanggal 7 April 1952. Nama Al-Azhar diberikan oleh Grand Syaikh Al-Azhar Kairo yang mengunjungi yayasan ini pada tahun 1961. Sejarah YPI Al-Azhar tak bisa dilepaskan dari figur Buya Hamka yang menjadi imam besar masjid agung Al-Azhar. YPI Al-Azhar memiliki lembaga wakaf yang berdiri sendiri dengan nama Wakaf Al-Azhar, mengelola wakaf produktif dalam mendukung aktivitas pendidikan dan dakwah. Di bidang pendidikan, YPI Al-Azhar telah memiliki sejumlah cabang Sekolah Al-Azhar di berbagai kota di Indonesia. YPI Al-Azhar beralamat di Kompleks Masjid Agung Kebayoran Baru, Jl Sisingamaraja, Jakarta Selatan. Alamat web: al-azhar.or.id.

Inisiatif Wakaf (iWakaf) adalah lembaga pengelola wakaf yang didirikan oleh Yayasan PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat) dan telah mendapatakan register dari BWI (Badan Wakaf Indonesia). IWakaf memiliki sejumlah kegiatan wakaf seperti pembangunan masjid, ruang kelas, rumah singgah pasien, dan rumah sakit untuk hemodialisa. IWakaf berkantor di Graha PKPU lt 3, Jl Raya Condet no 27A, Batu Ampar, Jakarta Timur. Alamat web: iwakaf.or.id.

Calon wakif dapat memilih satu atau lebih dari empat lembaga di atas. Ke depan, tidak menutup kemungkinan calon wakif dapat memilih sendiri lembaga wakaf di luar yang disebutkan.

Premi Asuransi Jiwa Syariah Tapro Allisya

Berapa dana yang hendak anda wakafkan? Tergantung kemampuan anda.

Berikut adalah tabel premi dengan asumsi anda akan mewakafkan dana senilai 250 juta di saat nanti tutup usia. Sesuai ketentuan MUI, dana tsb adalah 45% dari UP yang diambil, yaitu sekitar 560 juta. Dengan demikian, dana yang diwariskan ke ahli waris (keluarga) adalah 310 juta. Sedangkan untuk sisi investasinya kita kesampingkan dulu, karena nilainya tidak bisa dihitung dengan pasti di awal.

Usia Masuk Premi per Bulan Dana yang DiwakafkanDana yang Diwariskan
25 400,000 250 juta310 juta
30 450,000 250 juta310 juta
35 550,000 250 juta310 juta
40 600,000 250 juta310 juta
45 800,000 250 juta310 juta
50 1,100,000 250 juta310 juta
55 1,500,000 250 juta310 juta
60 2,200,000 250 juta310 juta
65 4,000,000 250 juta310 juta
70 7,000,000 250 juta310 juta

Uang 250 juta itu untuk saat ini setara dengan sekitar lima ribu sak semen, atau seribu bak pasir, atau sekitar 50 ribu bata merah, yang bisa digunakan untuk membangun masjid, sekolah, rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, atau apa pun yang bermanfaat bagi kaum lemah.

Jika 250 juta dirasa kurang banyak, tentunya anda bisa menambahkan sendiri. Mungkin 500 juta, atau 1 miliar, atau 2 miliar, bebas saja. Kurang dari 250 juta pun boleh. Mungkin 25 juta, atau 50 juta, atau 100 juta, boleh. Nanti preminya disesuaikan.

Atau jika anda punya anggaran, misalnya 1 juta atau 2 juta per bulan, untuk berwakaf melalui cara ini, bisa diatur UP-nya dan berapa yang bisa diwakafkan. Berikut ini tabel jika anda berwakaf polis sebesar 1 juta per bulan, sesuai usia masuk.

Usia Masuk Uang Pertanggungan Dana Warisan (Min 55%) Dana Wakaf (Maks 45%)
25 1,4 miliar 770 juta 630 juta
30 1,3 miliar 715 juta 585 juta
35 1,050 miliar 580 juta 470 juta
40 900 juta 495 juta 405 juta
45 700 juta 385 juta 315 juta
50 550 juta 305 juta 245 juta
55 370 juta 205 juta 165 juta
60 250 juta 140 juta 110 juta
65 140 80 juta 60 juta
70 80 45 juta 35 juta

Kita lihat, semakin muda usia, semakin tinggi dana yang bisa diwakafkan. Oleh karena itu, marilah berwakaf sesegera mungkin.

Jika anda bukan orang yang sangat kaya, ini adalah cara agar mampu berwakaf sebanyak mereka, orang-orang kaya yang dermawan. Tanpa melalui asuransi jiwa, kecil kemungkinan kita bisa berwakaf sebanyak ini. Bahkan 5 atau 10 juta pun belum tentu. Coba saja.

Kelak, di akhirat nanti, akan ada orang-orang yang berkata, “Ya Tuhan, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sebentar saja, agar aku dapat bersedekah…” (QS Al-Munafiqun ayat 10).

Inilah cara agar, entah kematian itu ditangguhkan atau dipercepat, kita dapat bersedekah secara otomatis. Otomatis? Ya, karena bagian dana yang sudah diniatkan untuk wakaf itu langsung ditransfer oleh perusahaan asuransi ke lembaga pengelola wakaf.


Tertarik berwakaf melalui polis asuransi jiwa syariah dari Allianz?

Hubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082-111-650-732 | Email: myallisya@gmail.com | Tinggal di Tangerang Selatan | Jadi agen asuransi Allianz sejak November 2011

Atau:

Cari Agen Allianz di Kota Anda


Tanya-Jawab

T: Apakah berwakaf melalui polis asuransi jiwa ini harus menggunakan produk asuransi jiwa syariah?

J: Ya, tentu saja, agar niat suci ini terhindar dari gharar, riba, dan maysir (judi).

T: Apakah asuransi jiwa syariah tsb harus yang berjenis unitlink? Bolehkah dengan asuransi jiwa whole life (asuransi jiwa seumur hidup) atau asuransi jiwa term life (berjangka)?

J: Saat ini hanya asuransi jiwa jenis unitlink yang menyediakan perlindungan hingga seumur hidup (sd usia 100 tahun) dan sekaligus tersedia dalam produk syariah. Asuransi jiwa whole life tidak ada yang syariah (silakan dicari dan info ke saya kalau ada). Sedangkan asuransi jiwa term life tidak cocok karena masa perlindungannya dibatasi jangka waktu tertentu (misal 10 atau 20 tahun). Jika tertanggung masih hidup setelah jangka waktu tsb, tentunya niat berwakafnya jadi batal. Kalaupun bisa diperpanjang, tetap tidak ada produk term life yang menyediakan masa perlindungan sampai seumur hidup. Namanya juga berjangka.

T: Apakah calon wakif perlu bertemu dengan lembaga wakaf untuk berwakaf dengan cara ini?

J: Tidak perlu. Allianz Syariah telah bekerja sama dengan lembaga-lembaga wakaf dimaksud, dan kelak dananya akan ditransfer secara otomatis ke rekening lembaga wakaf yang ditunjuk.

Asuransi Syariah

Fitur Wakaf pada Polis Asuransi Jiwa Tapro Allisya Protection Plus

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi saya:

Asep Sopyan (Senior Business Partner ASN)

HP/WA: 082111650732 | Email: myallisya@gmail.com

Atau:

Cari Agen di Kota Anda